Senin, Mei 25, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 799

Tokoh PBNU : Pandangan Tokoh Salafi Soal Musik Berlebihan!

Gerak News, Jakarta- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, baru-baru ini merespons kritik yang dilontarkan oleh seorang Ustaz Salafi terhadap Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengenai pandangannya tentang musik.

Gus Fahrur menganggap bahwa kritikan tersebut “terlalu berlebihan” dan mencerminkan sikap yang menyulitkan.

Gus Fahrur menjelaskan bahwa sikap keras kaum Salafi terhadap isu musik tidak selalu berlandaskan pada pandangan yang komprehensif. 

Kaum salafi membuat segala sesuatu menjadi lebih sulit,” ucap Gus Fahrur, baru-baru ini.

“Saya kira terlalu berlebihan,” lanjutnya.

Gus Fahrur mengutip Imam Al-Ghazali untuk menegaskan bahwa larangan penggunaan alat musik tertentu seperti seruling dan gitar bukanlah karena alat musik itu sendiri, melainkan karena penggunaannya yang historis di tempat-tempat maksiat. 

“Di awal-awal Islam, kedua alat musik tersebut lebih dekat dimainkan di tempat-tempat maksiat, sebagai musik pengiring pesta minuman keras,” kata Gus Fahrur.

Menurut Gus Fahrur, Islam melarang meniru gaya hidup yang berpotensi mendorong kemaksiatan, termasuk penggunaan alat musik yang bisa membuat orang lalai dari mengingat Tuhan atau digunakan dalam konteks yang tidak sesuai dengan prinsip ketakwaan.

“Mendorong berbuat kemaksiatan, minuman keras atau membuka aurat dan bertolak-belakang dengan prinsip ketakwaan,” imbuhnya.

Sikap PBNU terhadap musik lebih fleksibel, dengan sebagian besar ulama menganggap beberapa jenis alat musik haram, terutama yang digesek dan ditiup, kecuali rebana dan genderang perang yang diizinkan selama tidak dibarengi dengan maksiat.

Ustaz Adi Hidayat sendiri belakangan ini menjadi sorotan setelah video lamanya tentang musik muncul kembali ke permukaan, yang memicu kecaman dari Ustaz Muflih Safitra yang mengkritik cara berdalil UAH.

Gus Fahrur menyerukan agar umat Islam memiliki pendekatan yang lebih toleran dan menghargai keragaman pandangan dalam masalah fiqh seperti musik, sesuai dengan tradisi intelektual Islam yang kaya.

Redaksi Gerak News

Komisioner Komnas HAM : Hadirkan Kesetaraan Untuk Penghayat Kepercayaan!

Gerak News, Jakarta- Komisioner Komnas HAM Saurlin Siagian menegaskan bahwa Rancangan Peraturan Presiden (Ranperpres) tentang Kerukunan Umat Beragama sebagai pengganti Surat Keputusan Bersama (SKB) dua menteri harus mengedepankan kesetaraan beragama, termasuk untuk para penghayat kepercayaan.

“Dalam Ranperpres ini harus ditegaskan kesetaraan antar beragama, termasuk juga untuk penghayat kepercayaan,” kata Saurlin, baru-baru ini.

Selain itu, Saurlin mengatakan, penghayat kepercayaan juga harus terlibat dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Hal itu karena penghayat kepercayaan sendiri telah diakui di Indonesia, oleh karenanya keanggotaannya pun juga harus diterima.

“Penghayat kepercayaan sendiri telah diakui di Indonesia, sebaiknya keanggotaannya juga harus diterima dengan pengaturan khusus,” ujarnya

Pengaturan khusus itu diperlukan, kata Saurlin, karena jumlah penghayat kepercayaan sendiri sangat banyak. Hal itu tentunya perlu diatur bentuk pelibatannya atau dibuat klausul untuk Provinsi dan Kabupaten/Kota agar diatur lebih lanjut dalam Peraturan Daerah.

“Perlu ada pengaturan khusus karena keanggotaannya di level provinsi dan kabupaten akan berbeda-beda, tergantung eksistensinya,” tuturnya.

Redaksi Gerak News

Gus Falah Optimis PHE Jadi ‘Tulang Punggung’ Produksi Minyak Nasional

Gerak News, Jakarta- Anggota Komisi VII DPR-RI Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menyatakan optimismenya bahwa PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina akan kembali menjadi ‘tulang punggung’ produksi minyak nasional. 

Gus Falah menyatakan, dengan kinerja cemerlang hingga kuartal 1 2024, PHE sangat mungkin menopang kembali produksi minyak nasional.

Sampai akhir kuartal 1 tahun ini, produksi minyak PHE khan PHE mencatatkan produksi minyak sebesar 548 ribu barel per hari. Menurut saya, ini indikator bahwa PHE tetap menopang produksi minyak negeri ini,” ujar Gus Falah, Senin (13/5/2024).

Politisi PDI Perjuangan itu melanjutkan, komitmen PHE untuk menyokong 50–55 persen produksi minyak dalam pemenuhan target 1 juta barel minyak per hari (BOPD) pada 2030, sudah dibuktikan oleh pencapaian perusahaan itu hingga kuartal 1 tahun ini.

Hingga Maret 2024, sambung Gus Falah, PHE telah menyelesaikan pengeboran 3 sumur eksplorasi, 163 sumur pengembangan, 219 workover dan 8.323 well services.

Jadi, dalam eksplorasi, PHE telah mencapai total temuan sumber daya 2C sebesar 140 Juta Barel Minyak Ekuivalen/Setara Minyak (MMBOE).

Maka, saya yakin capaian PHE pada 2023 ketika berhasil menyokong sebesar 68 persen dari produksi minyak nasional, kembali terjadi tahun ini, bahkan hingga 2030 nanti,” pungkas Gus Falah.

Redaksi Gerak News

SEJUK Desak Negara Serius Hentikan Persekusi Terhadap Minoritas

Gerak News, Jakarta- Kabar persekusi terhadap umat agama minoritas kembali terjadi. Viral pembubaran ibadah tersebut terjadi di salah satu rumah jemaat Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Benowo.

Pembubaran terjadi pada Rabu (8/5/2024) malam WIB kisaran pukul 19.00 waktu setempat. Video pembubaran gereja yang tepatnya berlokasi di Perumahan Cerme Indah Blok P/36 RT 11 RW 03 Desa Betiting, Kec. Cerme, Gresik, Jawa Timur itu diunggah akun instagram @muliahalim777.

Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) angkat bicara dan mengutuk keras tindakan tersebut.

“Mengutuk keras berulangnya aksi penyerangan, penganiayaan dan berbagai bentuk persekusi atas nama agama terhadap kelompok minoritas yang beribadah,” tulis SEJUK dalam keterangan tertulisnya, baru-baru ini.

Berdasarkan keterangan @muliahalim 77, pembubaran rumah ibadah jemaat GPIB Benowo disebut kesepakatan RT dan RW setempat.

SEJUK menyebutkan, diskriminasi terhadap hak-hak beragama dan menjalankan agama sesuai keyakinan kelompok minoritas agama atau keyakinan dan kepercayaan kerap kali dilakukan lewat kesepakatan sepihak di bawah tekanan mayoritas yang difasilitasi oleh aparat atau pejabat pemerintahan di daerah, baik di tingkat kabupaten atau kota, kecamatan, desa atau kelurahan, maupun tingkat RT dan RW.

SEJUK menuntut agar aparat kepolisian bertindak tegas. Tindakan seperti menangkap dan mengadili para pelaku persekusi dan tindak pidana lainnya dianggap jadi tindakan yang perlu dilakukan. Selain itu, pemerintah pusat pun dinilai perlu turun tangan.

“Mendesak aparat negara dan pemerintah baik daerah maupun pusat untuk serius menghentikan praktik diskriminasi dan persekusi terhadap minoritas agama yang beribadah dan mendirikan tempat ibadah,” tulis SEJUK.

Praktik persekusi terhadap minoritas baru-baru ini juga sempat terjadi. Belum hilang dari ingatan tindakan kekerasan dan penganiayaan yang dialami mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) yang sedang menggelar doa rosario di Tangerang Selatan pada Minggu (5/5/2024) malam lalu.

SEJUK menilai, persekusi yang dialami mahasiswa Unpam Tangerang Selatan yang beragama Katolik dan jemaat GPIB Benowo Gresik menambah deretan praktik persekusi atas nama agama yang terjadi dalam tiga bulan terakhir setelah Pemilihan Presiden Februari 2024 lalu.

Dua pekan jelang Paskah 2024 lalu, viral video seorang perempuan di Balaraja, Tangerang, menyatakan bahwa rumahnya tidak akan digunakan lagi untuk beribadah, yang diduga karena adanya tekanan beberapa pihak.

Pada masa pertengahan Ramadan dan menjelang Paskah, 10 orang penuh arogan mendatangi Pos Pembinaan Umat Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Semboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur untuk mencopot paksa plang Pos Pembinaan Umat GKII dan melarang aktivitas peribadatan di tempat tersebut.

Tak hanya itu, beberapa peristiwa lain seperti  persekusi terhadap beberapa jemaat muda, anak-anak, dan perempuan di rumah doa POUK Tesalonika, Teluk Naga, Tangerang dalam persiapan perayaan paskah hingga video salah satu jemaat di Karang Indah, Pandeglang, memberi pernyataan bahwa rumahnya yang digunakan untuk beribadah bukan gereja menambah catatan buruk untuk Indonesia.

SEJUK mengingatkan, kekerasan, pembubaran, ancaman, pembatasan, dan berbagai gangguan atau halangan lainnya yang dialami kelompok minoritas agama atau keyakinan dan kepercayaan untuk beribadah dan mendapat izin mendirikan rumah ibadah disebabkan oleh Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) Tahun 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah.

PBM 2006 dinilai SEJUK bersifat restriktif, sangat membatasi, dan kerap menjadi dasar bagi kelompok mayoritas yang dominan dan intoleran untuk melarang minoritas yang berbeda agama atau keyakinan dan kepercayaan menjalankan ibadah di rumah atau tempat ibadah yang tidak mendapat dukungan warga (mayoritas).

SEJUK menegaskan, PBM 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah adalah sumber konflik keagamaan yang berulang dan meluas.

“Karena menjadi alat legitimasi bagi kelompok mayoritas menentang dan menghentikan penggunaan rumah atau tempat ibadah kelompok lainnya yang rentan dan termarginalkan secara paksa, baik dengan ancaman maupun kekerasan,” tulis SEJUK.

SEJUK menilai, PBM 2006 jelas melanggar hak dan kebebasan warga untuk menjalankan ibadah sesuai agama atau keyakinan dan kepercayaan yang sejatinya dijamin konstitusi (UUD 1945 Pasal 28E ayat 2, 28I ayat 1, dan 29 ayat 2).

Persekusi dan tindakan brutal penyerangan serta upaya membubarkan dan menghalang-halangi orang beribadah disebut SEJUk sebagai tindakan kriminal yang melanggar hukum.

“Perdamaian tanpa efek jera terhadap para pelaku dan proses yang adil untuk memulihkan dan memberikan jaminan hak-hak korban untuk beribadah dengan nyaman dan aman hanya akan membiarkan praktik persekusi atas nama agama berulang dan meluas ke banyak tempat,” sebut SEJUK.

Redaksi Gerak News

Paus Fransiskus Umumkan Tahun Yubileum 2025 Di Vatikan

Gerak News, Jakarta- Pengumuman tentang Tahun Yubileum 2025 dibuat Paus Fransiskus saat memimpin pembacaan bulla kepausan menyambut Hari Kenaikan Yesus Kristus di Basilika Santo Petrus di Vatikan, Kamis (9/5).

Tahun Yubileum diselenggarakan setiap 25 tahun sekali, di mana Vatikan mengundang umat Katolik dari seluruh dunia untuk berziarah dan menerima pengampunan.

Peristiwa langka itu resminya dimulai pada malam Natal, 24 Desember 2024, dengan Sri Paus membuka Pintu Suci di Basilika Santo Petrus yang mengawali tahun ziarah di Vatikan hingga akhirnya pada 6 Januari 2026 nanti.

Terakhir, Tahun Yubileum diselenggarakan pada 2000 di zaman Paus Johannes Paul II, yang dihadiri oleh sekitar 25 juta peziarah dari seluruh dunia.

Sri Paus mengawali suratnya dengan sebuah kutipan Alkitab, betapa “pengharapan tidak mengecewakan,” yang mendasari Tahun Yubileum 2025.

“Harapan dibutuhkan bagi bangsa dan negara yang melihat masa depan dengan rasa takut dan kegelisahan,” kata dia seperti dilansir Associated Press.

Fransiskus mengimbau negara-negara kaya untuk membantu negara miskin, dan “mengakui konsekuensi dari keputusan-keputusan mereka di masa lalu untuk mengampuni utang negara-negara yang tidak akan mampu melunasinya.

Dia antara lain merujuk pada “utang ekologis terkait ketidakseimbangan komersil yang berdampak pada lingkungan dan konsumsi berlebihan sumber daya alam oleh sejumlah negara tertentu untuk waktu yang lama.”

Di Tahun Yubileum, umat Katolik diundang untuk melintasi empat Pintu Suci Vatikan di Basilika Santo Petrus, Santo Yohanes Lateran, Basilika Santo Paulus dan Basilika Santa Maria Maggiore. Tradisi yang diawali Paus Bonifasius VIII pada tahun 1300 itu berangkat dari tradisi pengampunan utang dalam agama Yahudi.

Redaksi Gerak News

Vatikan Rilis Logo Dan Moto Kunjungan Paus Ke Indonesia

Gerak News, Jakarta- Vatikan merilis logo dan moto untuk kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia 3-6 September 2024 mendatang.

“Moto yang dipilih untuk kunjungan di Indonesia adalah ‘Faith-Fraternity-Compassion’ atau ‘Iman-Persaudaraan-Bela Rasa’,” kata Wakil Koordinator Media Panitia Kunjungan Bapa Suci Fransiskus, Romo Anthonius Gregorius A. Lalu, Minggu (12/5).

Dalam logo yang dirilis, terlihat foto Paus Fransiskus dengan tangan terangkat sedang memberi berkat berlatar belakang burung garuda emas lengkap dengan aksen batik serta peta Indonesia.

Adapula gambar bendera merah putih dan tulisan Indonesia serta nama dan logo Bapa Suci.

Indonesia masuk dalam rangkaian perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke beberapa negara di Asia dan Oceania mulai 2-13 September 2024. Ini merupakan perjalanan terpanjang Paus.

Selain Indonesia, Paus akan mengunjungi Papua Nugini, Timor Leste, dan ditutup di Singapura. Vatikan juga merilis logo dan moto berbeda untuk setiap negara yang akan dikunjungi Paus.

Singapura memiliki moto Unity-Hope atau Persatuan-Harapan dengan logo salib bergaya, terinspirasi oleh bintang yang membimbing orang Majus, oleh Ekaristi dan oleh lima bintang dari bendera Singapura.

Logo kunjungan untuk Papua Nugini memiliki tiga unsur yakni kayu salib, burung cendrawasih dan tulisan pray atau berdoa.

Sedangkan logo perjalanan ke Dili, Timor Leste menampilkan Paus Fransiskus yang berada di tengah sedang memberikan berkat, dengan bumi di latar belakangnya, dan peta Timor-Leste muncul di latar depan.

Moto kunjungan ditulis dalam bahasa Portugis, Que a vossa fé seja a vossa culture, yang berarti biarlah iman mu menjadi budayamu.

Redaksi Gerak News

Ribuan Warga Baduy Akan Jalani Tradisi Seba

Ribuan Warga Baduy Akan Jalani Tradisi Seba

Energi Juang News, Jakarta- Sebanyak 1.500 warga Baduy dari Desa Kanekes, Lebak, Banten, akan menjalani tradisi Seba Baduy. Mereka akan berkunjung ke Pemerintah Kabupaten Lebak di Rangkasbitung dan Pemerintah Provinsi Banten di Kota Serang.

Pemberitahuan pelaksanaan tradisi ini sudah dilayangkan masyarakat adat Baduy lewat surat bernomor 400.6/16/PEM/2001/V/2024 ke Pemerintah Kabupaten Lebak.

Menindaklanjuti hasil musyawarah Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh Desa Kanekes tentang pelaksanaan ritual Seba Baduy Tahun 2024,” ujar Kepala Desa Kanekes Saidja dalam surat pemberitahuan, Rabu (8/5/2024).

Saidjah menjelaskan tradisi Seba Baduy akan dilaksanakan pada 17-19 Mei 2024. Dia memperkirakan ada 1.500 orang Baduy yang ikut menjalani tradisi ini.

“Tempat awal pemberangkatan di Balai Desa Kanekes dengan jumlah peserta 1.500 orang,” jelasnya.

Baca juga : Suku Ini Memotong Jari Sebagai Tradisi ‘Iki Palek’

Tradisi Seba Baduy merupakan ritual wajib setiap tahun bagi masyarakat adat Baduy. Tradisi ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian tradisi yang ada di Baduy.

Mulanya, orang Baduy menutup kawasan Baduy Dalam di Kampung Cibeo, Cikartawarna, dan Cikeusik, untuk menjalani tradisi Kawalu. Tradisi Kawalu dilaksanakan selama 3 bulan dari 13 Februari sampai 13 Mei.

Setelah Kawalu, orang Baduy akan menjalankan tradisi Ngalaksa. Tradisi ini berupa membuat laksa atau makanan tradisional.

Setelah seluruh rangkaian adatnya dijalani, orang Baduy akan melakukan tradisi Seba Baduy. Bagi orang Baduy Dalam, Seba Baduy dilakukan dengan cara berjalan kaki dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, ke pusat Pemerintahan Kabupaten Lebak di Rangkasbitung.

Keesokan harinya, orang Baduy melanjutkan perjalanan ke Pemerintah Provinsi Banten di Kota Serang. Mereka datang untuk bertemu dengan kepala daerah yang disebut Bapa Gede. Di hadapan kepala daerah, mereka akan menyampaikan pesan-pesan adat bagi kepala daerah.

Redaksi Energi Juang News

Mahalini Dan Rizky Febian Jalani ‘Mepamit’, Tradisi Apa Itu?

Gerak News, Jakarta- Penyanyi Mahalini menjalani proses mepamit sebelum melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya, Rizky Febian.

Apa itu tradisi mepamit dalam adat pernikahan Bali?

Pada dasarnya, mepamit memiliki makna berpamitan. Menukil laman UIN Malang, tradisi ini biasa dilakukan oleh orang Hindu Bali yang hendak menggelar pernikahan dengan seorang Muslim.

Mepamit digelar dengan tujuan sebagai alat untuk memohon izin, meminta maaf, serta berpamitan kepada seluruh keluarga besar, tokoh masyarakat, dan para leluhurnya. Sebab, calon pengantin ini akan meninggalkan agamanya untuk kemudian menikah dengan orang yang beragama Islam.

Tapi tak hanya itu, makna ‘pamit’ dalam tradisi mepamit juga cukup luas. Tradisi ini juga bisa digelar oleh calon mempelai wanita yang akan menikah dengan sesama penganut Hindu.

Jurnal Upacara Perkawinan Dalam Agama Hindu karya Luh Sukma Ningsih dan Bentuk, Fungsi dan Makna Tata Rias dan Proses Upacara Perkawinan Bali Agung di Bali karya Ni Putu Delia Wulansari juga menjelaskan soal tradisi mepamit.

Mepamit digelar oleh keluarga calon mempelai wanita Hindu Bali dengan maksud berpamitan. Pasalnya, dia akan meninggalkan rumah tempat semula berada.

Upacara ini juga dikenal dengan sebutan upacara mejauman atau upacara metipat bantal. Konteksnya, calon mempelai wanita yang dikenal juga dengan sebutan pradana berpamitan kepada leluhurnya karena sudah atau hendak menikah.

Calon mempelai wanita tersebut juga memberi tahu bahwa dirinya sekarang akan menjadi tanggung jawab keluarga dan calon mempelai pria (purusha).

Upacara Mepamit digelar di kediaman calon mempelai wanita. Dalam upacara ini, calon pengantin pria dan keluarganya juga akan hadir. Mereka juga wajib membawa banten atau seserahan.

Selama upacara berlangsung, calon mempelai wanita dan keluarganya akan melakukan persembahyangan yang dipimpin oleh pemangku sangkah. Sembahyang dilakukan di sanggah atau merajan milik keluarga.

Redaksi Gerak News

Mengenal Doa Rosario Yang Didaraskan Umat Katolik Pada Mei

Gerak News, Jakarta- Doa Rosario adalah salah satu doa Devosi yang dimiliki oleh umat Katolik. Doa Rosario biasanya didaraskan pada bulan Rosario yaitu Mei dan Oktober.

Dikutip dari imankatolik.or.id, doa Rosario adalah doa renungan atas misteri keselamatan (dari saat Yesus mulai dikandung sampai Ia dimuliakan di surga dan mengutus Roh Kudus – seluruhnya 20 peristiwa).

Sembari mendaras Salam Maria berulang-ulang (10 kali), para pendoa merenungkan salah satu misteri yang dirangkai dalam rosario.

Doa yang terus diulang-ulang ini sangat membantu memusatkan perhatian pada misteri keselamatan yang direnungkan.

Doa yang terus diulang-ulang ini sangat membantu memusatkan perhatian pada misteri keselamatan yang direnungkan. Tetapi hendaknya diingat bahwa doa-renungan ini harus dibangun dan dipupuk oleh iman; maka baik kalau bacaan-bacaan singkat, renungan atau ayat-ayat nyanyian disisipkan di antara setiap dasa Salam Maria.

Kalau tidak dilandasi iman, ada bahaya bahwa doa rosario menjadi rentetan kata-kata yang kosong.

Tata Cara Berdoa Rosario Beserta Peristiwanya

  • Tanda Salib (Dalam Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin)
  • Doa Aku Percaya
  • Doa Kemuliaan dan Terpujilah
  • Doa Bapa Kami
  • “Salam Putri Allah Bapa” dilanjutkan Doa Salam Maria
  • “Salam Bunda Allah Putra” dilanjutkan Doa Salam Maria
  • “Salam Mempelai Allah Roh Kudus” dilanjutkan Doa Salam Maria
  • Doa Kemuliaan dan Terpujilah
  • Penyebutan Peristiwa pertama dari rangkaian misteri yang dipilih.
  • Doa Bapa Kami
  • Doa Salam Maria 10 kali berdaaarkan butiran Rosario
  • Doa Kemuliaan dan Terpujilah.
  • Lalu menyusul peristiwa kedua dan seterusnya. (Diulang lagi Doa Bapa Kami, Doa Salam Maria 10 kali sampai butir ke 50 dan melewati 5 peristiwa)

Peristiwa – Peristiwa dalam doa Rosario (Bisa dipilih berdasarkan kondisi akan memakai peristiwa apa)

Peristiwa-peristiwa Gembira, khususnya selama Masa Adven dan Natal

  1. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38).
  2. Maria mengunjungi Elisabet, saudarinya (Luk 1:39-45).
  3. Yesus dilahirkan di Bethlehem (Luk 2:1-7).
  4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah (Luk 2:22-40).
  5. Yesus diketemukan dalam Bait Allah (Luk 2:41-52).

Peristiwa-peristiwa Sedih, khususnya selama Masa Prapaskah dan tiap hari Jumat

  1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dalam sakratul maut (Luk 22:39-46).
  2. Yesus didera (Yoh 19:1).
  3. Yesus dimahkotai duri (Yoh 19:2-3).
  4. Yesus memanggul salib-Nya (ke Gunung Kalvari) (Luk 22:26-32).
  5. Yesus wafat di salib (Luk 23:44-49).

Peristiwa-peristiwa Mulia, khususnya selama Masa Paskah dan tiap hari Minggu

  1. Yesus bangkit dari kematian (Luk 21:1-12).
  2. Yesus naik ke surga (Luk 24:50-53).
  3. Roh Kudus turun atas para Rasul (Kis 2:1-13).
  4. Maria diangkat ke surga (1Ko r15:23; DS 3903).
  5. Maria dimahkotai di surga (Why 12:1, DS 3913-3917).

Peristiwa-peristiwa Terang.

  1. Yesus di baptis di sungai Yordan (Ma 3:16-17)
  2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2:11)
  3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat4:17-23)
  4. Yesus menampakan kemuliaan-Nya (Mat 17:2-5)
  5. Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24)

Redaksi Gerak News

Menelaah Sejarah Hari Kenaikan Yesus Kristus

Gerak News, Jakarta- Hari ini umat Kristiani memperingati momen suci Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Dikutip dari ‘Kamus Sejarah Gereja’ karya Frederiek Djara Wellem, Hari Kenaikan Yesus Kristus atau bisa disebut juga sebagai Hari Kenaikan Kristus merupakan perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kenaikan Kristus ke surga. Perayaan tersebut biasanya hadir pada hari ke-40 setelah Hari Kebangkitan Kristus.

Mengingat Hari Kenaikan Yesus Kristus merupakan momentum yang suci bagi umat Kristiani, kehadirannya pun sangat dinanti-nantikan.

Lantas seperti apa sejarah Hari Kenaikan Yesus Kristus ?

Masih merujuk dari buku sebelumnya, perayaan Kenaikan Kristus sudah dimulai sejak abad ke-4 lalu. Pada saat itu, perayaan Kenaikan Kristus ditandai dengan suatu prosesi yang mengikuti perjalanan Kristus ke Bukit Zaitun. Pada tempat itulah Kristus naik ke surga.

Sementara itu, dikutip dari laman Britannica, dalam bab pertama ‘The Acts of the Apostles’ atau ‘Kisah Para Rasul’, Yesus diangkat ke hadapan para Rasul setelah menampakkan dirinya dalam berbagai kesempatan selama 40 hari lamanya. Dikatakan Yesus diangkat lalu disembunyikan dari mereka oleh awan. Hal tersebut biasanya digambarkan dengan istilah hadirat di dalam Alkitab.

Kemudian disebutkan pada abad pertengahan Eropa, masyarakat yang begitu cinta mengenai visual dan dramatik, mewujudkan peringatan tersebut melalui berbagai praktik ritual. Bahkan beberapa kebiasaan yang cukup populer menampilkan prosesi yang menggambarkan perjalanan Kristus bersama para Rasul ke Bukit Zaitun. Bukan hanya itu, digambarkan juga mengenai pengibaran salib atau patung Kristus yang bangkit melalui bukaan yang terjadi di atap gereja.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan dalam laman History Today, sejarah Kenaikan Yesus Kristus terjadi empat puluh hari setelah kebangkitannya. Disampaikan Kristus diselimuti dengan awan dan naik ke surga. Peristiwa tersebut disaksikan oleh 11 dari 12 muridnya.

Untuk diketahui, Kenaikan Yesus Kristus baru terjadi 40 hari setelah Paskah atau Hari Kebangkitan Yesus.

Redaksi Gerak News