Energi Juang News, Jakarta – Harga minyak merosot karena investor mengamati pemulihan pengiriman dari Arab Saudi di tengah serangan berkelanjutan oleh Houthi Yaman, lapor Reuters. Al Jazeera melaporkan, kontrak minyak mentah Brent turun 81 sen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 89 sen per barel pada Senin (21/9/2026).
Melansir CNBC, Sabtu (19/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 1,6% dan ditutup di level US$ 100,30 per barel. Harga minyak Brent yang merupakan acuan internasional, diperdagangkan turun 0,9% dan berakhir di posisi US$ 103,87. Harga minyak Amerika Serikat (AS) menutup pekan tanpa perubahan berarti, sementara Brent mencatat penurunan hampir 1%.
Ekspor Arab Saudi Mulai Pulih
Sejumlah kalangan menilai penurunan terjadi saat investor melihat ekspor minyak Arab Saudi dilaporkan pulih mulai kembali. Houthi telah menyerang sejumlah lokasi di Riyadh termasuk pusat produksi minyak Aramco dan jalur pipa East-West Arab Saudi.
Data sementara perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi naik menjadi sedikit di atas 4 juta barel per hari (bph) pada September. Angka tersebut naik dari 2,4 juta bph pada Agustus. Namun jumlah tersebut merupakan level terendah setidaknya sejak 2013. Analis JPMorgan menilai aliran minyak dari Timur Tengah masih cukup kuat meski terjadi gangguan pada pipa minyak Arab Saudi.
Selama 10 hari terakhir, total aliran minyak rata-rata mencapai 17,1 juta bph. Angka tersebut 6,1 juta bph lebih rendah dibandingkan rata-rata 2025. Data satelit juga menunjukkan pengiriman minyak Arab Saudi melalui Selat Hormuz meningkat yakni 2,9 juta bph dalam enam hari terakhir, naik dari 700 ribu bph pada Agustus.
Sebelumnya, harga minyak merosot dalam sesi ketiga berturut-turut pada Jumat, 18 September 2026. Koreksi harga minyak terjadi seiring pasar memperkirakan penutupan pipa East-West Arab Saudi tidak akan berdampak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya terhadap pasokan.








