Kamis, April 2, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaTeror Kosan Dua Lantai: Misteri Penunggu yang Tak Pernah Pergi

Teror Kosan Dua Lantai: Misteri Penunggu yang Tak Pernah Pergi

Energi Juang News, Yogyakarta- Malam selalu datang lebih cepat di kota itu. Udara dingin turun bersama kabut tipis yang merayap di sela bangunan kos dua lantai yang tampak biasa dari luar. Lampu-lampu kamar menyala redup, sebagian mati, menyisakan lorong panjang yang sunyi.

Tidak ada yang benar-benar menyangka, bahwa bangunan yang terlihat rapi dan nyaman itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar cerita mahasiswa.

Saya mendatangi tempat itu setelah mendengar kisah dari seorang pemuda bernama Bimi (23), yang sempat membuat geger dunia maya lewat ceritanya.

“Awalnya biasa saja,” kata Bimi saat kami duduk di warung dekat kosan itu.
“Bahkan saya kira ini kos paling enak yang pernah saya tempati.”

Ia tertawa kecil, tapi matanya terlihat lelah.

“Kalau saya tahu dari awal… mungkin saya gak akan pernah masuk ke sana.”

Kisah itu dimulai di hari pertama ia resmi menjadi mahasiswa.

Saat itu, Bimi sedang berdiri di depan kamarnya. Lorong kos tampak sepi, hanya ada satu kamar di seberangnya yang pintunya sedikit terbuka, gelap tanpa lampu.

“Saya iseng lihat ke dalam,” katanya pelan.
“Terus… saya lihat kepala.”

Saya menatapnya.

“Kepala?”

Ia mengangguk.
“Laki-laki tua. Tanpa busana. Dia cuma keluarin kepala dari dalam kamar… terus masuk lagi.”

“Hilangkan?”

“Iya. Kayak… gak pernah ada.”

Bimi mengira itu hanya halusinasi. Atau mungkin penghuni lain yang aneh. Ia memilih untuk mengabaikannya.

Namun malam itu, gangguan kecil mulai muncul.

Barang-barangnya berpindah tempat.
Suara langkah terdengar di lorong, padahal tidak ada siapa-siapa.

Dan itu baru permulaan.

Sekitar satu tahun kemudian, gangguan itu berubah menjadi lebih nyata.

“Jam dua malam,” kata Bimi.
“Selalu jam dua.”

Ia sering terbangun karena suara gagang pintu kamarnya yang bergerak naik turun.

Seperti seseorang mencoba masuk.

“Awalnya saya takut buka,” ujarnya.
“Tapi lama-lama penasaran.”

Suatu malam, ia memberanikan diri.

“Saya buka pintunya…”

Ia berhenti, menarik napas.

“Gak ada siapa-siapa.”

Hanya lorong kosong dan udara dingin.

Karena tak ada yang percaya, Bimi akhirnya merekam kejadian itu.

“Di video kelihatan jelas,” katanya.
“Gagang pintunya bergerak sendiri.”

Namun setelah beberapa bulan, gangguan itu tiba-tiba berhenti.

Seolah sesuatu… sedang menunggu waktu yang tepat.

Oktober 2018 menjadi titik balik.

Gangguan itu kembali, tapi kali ini bukan dari luar.

“Dari kamar mandi,” kata Bimi lirih.

Pintu kamar mandi di dalam kamarnya mulai bergerak sendiri setiap malam sekitar pukul 02.00 WIB.

“Kayak ada yang dorong dari dalam.”

Padahal, pintu itu terkunci.

Dengan jantung berdebar, ia membuka pintu tersebut.

Kosong.

Namun rasa dingin yang keluar dari dalam kamar mandi terasa tidak wajar.

Seolah ada sesuatu yang baru saja berdiri di sana.

Tak tahan dengan kejadian itu, Bimi akhirnya meminta bantuan seorang temannya yang memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib.

“Saya ajak dia ke kamar,” katanya.

Temannya hanya diam beberapa saat, lalu berkata pelan:

“Dia suka sama kamu.”

Bimi merinding.

“Siapa?”

Temannya menunjuk ke arah kamar mandi.

“Yang tadi mainin pintu itu.”

“Dia lagi jongkok di kloset.”

Suasana mendadak hening.

“Jangan sering ditanggapi,” lanjut temannya.
“Nanti dia makin berani.”

Setelah itu, kejadian semakin sulit dijelaskan.

Seorang penghuni kos mengaku dilempari batu saat duduk di balkon.
Ada yang melihat sosok mirip teman sendiri berdiri di lorong—padahal orang yang dimaksud sedang tidak di kos.

Bimi sendiri pernah menangkap sesuatu lewat kamera ponselnya.

“Saya lagi foto balkon,” katanya.
“Di pojok, dekat gudang…”

Ia menatap saya.

“Ada sosok.”

Bayangan hitam, berdiri diam, menatap ke arah kamera.

Gudang itu, menurut warga sekitar, memang sudah lama dikenal angker.

“Dulu sering ada kejadian,” ujar penjaga kos, Pak Slamet.
“Banyak yang gak betah di kamar dekat situ.”

Ada satu kamar yang paling dihindari penghuni.

Kamar di sebelah kamar Bimi.

“Sering kedengeran suara mandi,” katanya.
“Padahal kosong.”

Air mengalir.
Suara ember.
Kadang seperti ada yang menyiram.

Namun saat diperiksa—tidak ada siapa pun.

“Katanya dulu…” Bimi menelan ludah,
“ada yang bunuh diri di situ.”

Awal pandemi membuat sebagian besar penghuni pulang kampung.

Kos itu menjadi sunyi.

“Cuma tiga orang yang tinggal,” kata Bimi.
“Termasuk saya.”

Kesunyian justru membuat gangguan terasa lebih jelas.

Langkah kaki di lorong.
Suara pintu terbuka.
Dan bayangan yang bergerak di sudut mata.

Hingga suatu hari, seorang teman Bimi dari Klaten pindah ke kamar sebelah.

“Dia baru seminggu di situ,” kata Bimi.
“Terus dia lihat sesuatu.”

Malam itu, temannya mendengar suara langkah di luar kamar.

Ia membuka pintu.

Kosong.

Namun saat menoleh ke arah tangga…

Ia melihat sosok perempuan tua.

Hanya kepalanya yang terlihat.

Duduk diam.

Menatap lurus ke arahnya.

“Besoknya dia langsung pulang,” kata Bimi.
“Gak pernah balik lagi.”

Kosan dua lantai itu masih berdiri hingga sekarang. Tampak biasa, bahkan nyaman bagi yang melihat dari luar.

Namun bagi mereka yang pernah tinggal di dalamnya, tempat itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments