Energi Juang News,Pemalang- Kabut pagi selalu turun lebih cepat di desa kecil itu. Desa yang berada di pinggiran hutan Guci Pemalang lebat tersebut dikenal adem, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Pepohonan tinggi seperti pagar alami yang melindungi rumah-rumah kayu sederhana milik warga sekitar Pemalang.
Bagi orang luar, desa itu terlihat damai. Burung berkicau, udara sejuk, dan aroma tanah basah dari hutan selalu terasa segar.
Namun bagi sebagian warga lama, ketenangan itu hanya lapisan tipis yang menutupi sesuatu yang jauh lebih tua… dan jauh lebih gelap.
Kisah ini bermula ketika keluarga Parman memutuskan pindah ke desa tersebut. Parman, istrinya Mimin, dan anak mereka Dika ingin hidup lebih tenang jauh dari keramaian kota.
Hari pertama mereka tiba, beberapa warga menyambut dengan ramah. Tapi ada sesuatu yang aneh dari tatapan mereka—seolah sedang menilai apakah keluarga baru ini bisa dipercaya atau tidak.
“Kalau butuh apa-apa bilang saja, Pak,” kata seorang lelaki tua bernama Pak Joyo.
Parman tersenyum.
“Terima kasih, Pak. Kami masih menyesuaikan diri.”
Warga hanya mengangguk pelan.
Beberapa hari kemudian, Parman mulai mendengar cerita-cerita aneh dari tetangga.
Katanya setiap pendatang baru wajib mengikuti sebuah ritual penghormatan kepada sesuatu yang mereka sebut “penjaga danau.”
Tak ada yang menjelaskan lebih jauh.
“Pokoknya ikut saja,” kata seorang ibu tua pada Mimin.
“Di sini memang begitu aturannya.”
“Penjaga danau itu apa?” tanya Mimin penasaran.
Ibu itu hanya tersenyum tipis.
“Lebih baik jangan banyak tanya.”
Tatapan ibu itu membuat Mimin merasakan hawa dingin yang aneh.
Malam sebelum ritual, udara desa berubah.
Angin dari arah hutan bertiup lebih dingin dari biasanya. Aroma lembab yang tajam masuk melalui celah-celah dinding rumah kayu.
Daun-daun berdesir pelan.
Seolah ada sesuatu yang berjalan di antara pepohonan.
Mimin tidak bisa tidur.
Ia menatap langit-langit kamar sambil memeluk selimut.
“Mas… kamu dengar suara itu?” bisiknya pada Parman.
Parman mengangkat kepala.
“Apa?”
“Kayak… langkah kaki di luar.”
Parman bangkit dan membuka sedikit jendela.
Di luar hanya terlihat pepohonan yang bergoyang perlahan.
“Cuma angin,” katanya menenangkan.
Tapi saat jendela ditutup, terdengar cipratan air jauh dari arah danau.
Padahal jaraknya hampir setengah kilometer.
Pagi berikutnya seluruh warga desa berjalan menuju danau.
Danau itu besar dan tenang, dikelilingi pohon besar yang akarnya menjalar hingga ke air.
Suasana terasa berbeda.
Tak ada tawa.
Semua orang berdiri rapi menghadap air.
Beberapa membawa bunga dan dupa.
Pak Joyo memberi isyarat kepada Parman.
“Lemparkan bunga ke air. Itu tanda penghormatan.”
Parman mengikuti tanpa banyak bertanya.
Saat bunga-bunga jatuh ke permukaan danau, angin tiba-tiba bertiup kencang.
Ranting pohon berderak keras.
Air danau bergelombang meski tidak ada perahu.
Dika yang berdiri di dekat ayahnya tiba-tiba menegang.
“Ayah…” bisiknya.
“Ada apa?”
“Aku lihat sesuatu di air.”
Parman menoleh.
“Apa?”
“Kayak… bayangan putih.”
Namun saat Dika berkedip, bayangan itu hilang.
Danau kembali tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Warga hanya saling pandang dengan wajah tegang.
Sejak ritual itu, desa terasa berbeda.
Orang-orang jadi lebih pendiam.
Malam hari terasa lebih sunyi dari biasanya.
Angin yang masuk melalui dinding kayu kadang terdengar seperti bisikan pelan.
Suatu malam, Mimin kembali terbangun.
Ia merasa seperti ada yang memperhatikan rumah mereka.
Ia membuka jendela perlahan.
Dari kejauhan terlihat danau yang memantulkan cahaya bulan.
Airnya tenang.
Tapi tiba-tiba terdengar suara riak perlahan.
Seolah ada sesuatu besar bergerak dari dasar danau.
Mimin menutup jendela dengan tangan gemetar.
Keesokan harinya, Parman memutuskan mencari jawaban.
Ia pergi ke rumah Mbah Kirun, tetua desa yang dikenal mengetahui banyak hal gaib.
Rumahnya berada di pinggir hutan, dikelilingi pohon tua.
Mbah Kirun duduk di beranda sambil menyalakan pipa tembakau.
“Aku tahu kenapa kamu datang,” katanya pelan.
Parman terdiam.
“Mbah… sebenarnya apa penjaga danau itu?”
Mbah Kirun menatap ke arah hutan sebelum menjawab.
“Buaya putih.”
Parman terkejut.
“Buaya?”
“Bukan buaya biasa,” lanjut Mbah Kirun.
“Itu makhluk tua. Penjaga danau sejak desa ini belum ada.”
“Maksudnya?”
“Dia muncul saat desa dalam bahaya… atau saat ada yang melanggar aturan.”
Parman menelan ludah.
“Pernah ada yang melihatnya?”
Mbah Kirun mengangguk pelan.
“Beberapa orang. Dan mereka semua bilang hal yang sama…”
“Apa?”
“Matanya… seperti manusia.”
Sejak hari itu, Dika mulai merasa aneh setiap melewati jalan dekat danau.
Kadang ia melihat sosok putih berdiri di tepi air.
Diam.
Tidak bergerak.
Namun setiap kali ia mendekat untuk memastikan, sosok itu selalu menghilang.
Suatu sore Dika berlari pulang dengan napas terengah.
“Ayah! Aku lihat lagi!”
“Lihat apa?”
“Orang… atau sesuatu… di danau!”
Parman mencoba menenangkan anaknya, tapi dalam hatinya ia mulai merasa takut.
Beberapa minggu kemudian desa mengadakan pesta.
Wayang kulit dipentaskan di lapangan.
Musik gamelan mengalun pelan.
Anak-anak berlarian.
Lampu minyak menggantung di mana-mana.
Suasana terlihat meriah.
Keluarga Parman ikut duduk bersama warga menikmati hidangan.
Namun di tengah keramaian itu, dua orang asing mendekati Dika.
Wajah mereka pucat.
Mereka tidak berkata banyak.
Salah satu dari mereka menyerahkan amplop kecil.
“Untukmu,” katanya singkat.
“Dari siapa?” tanya Dika bingung.
Kedua orang itu tidak menjawab.
Mereka hanya menatap danau sebentar… lalu pergi.
Dika membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada sehelai daun cokelat tua.
Ujungnya menggulung.
Baunya lembab seperti tanah basah.
“Ini apa?” tanya Mimin.
Parman memegang daun itu.
Tangannya langsung terasa dingin.
Mbah Kirun yang kebetulan lewat melihatnya.
Wajahnya berubah pucat.
“Kalian sudah dipilih,” katanya pelan.
“Dipilih untuk apa?” tanya Parman.
Mbah Kirun menatap ke arah danau.
“Untuk dijaga.”
Malam itu, ketika pesta selesai dan lampu mulai padam, keluarga Parman berjalan pulang.
Angin bertiup dari arah danau.
Permukaan air berkilau di bawah cahaya bulan.
Dan untuk sesaat…
Parman melihat sesuatu muncul di tengah danau.
Sebuah punggung putih besar.
Lalu dua mata yang berkilau menatap ke arah darat.
Makhluk itu tidak menyerang.
Ia hanya diam… seolah mengawasi.
Parman menggenggam tangan istrinya.
“Sekarang aku mengerti,” bisiknya.
“Apa?”
“Kita bukan cuma pendatang di desa ini.”
“Apa maksudmu?”
Parman menatap danau sekali lagi.
“Kita sekarang bagian dari rahasia yang dijaga tempat ini.”
Air danau kembali tenang, tapi jauh di dalamnya sesuatu masih bergerak perlahan menunggu dan mengawasi.
Karena penjaga danau tidak pernah benar-benar pergi.
Redaksi Energi Juang News



