Energi Juang News,Cirebon- Bimo, mahasiswa tingkat akhir jurusan sejarah di salah satu kampus di kota kecil Jawa Barat, dikenal sebagai pribadi rasional. Ia tengah menyusun skripsi tentang sejarah lisan dan legenda urban yang berkembang di masyarakat. Salah satu topik yang membuatnya tertarik adalah misteri sosok hantu yang konon sering muncul di dekat sebuah sekolah tua peninggalan kolonial.
Sekolah itu berdiri tak jauh dari pusat kota, dengan gapura besar bercat kusam di sisi kiri jalan raya. Di antara kisah-kisah yang menghantui warga, penampakan seorang wanita berpakaian putih sering menjadi pusat perhatian.
Menurut cerita yang beredar, wanita itu muncul di tengah malam, berjalan sendirian dengan langkah-langkah hening, meninggalkan perasaan takut dan rasa penasaran di belakangnya.
Bimo memutuskan untuk meneliti langsung lokasi tersebut. Malam itu, sekitar pukul 23.45, Bimo berdiri di depan gapura sekolah tua. Angin berembus pelan, membuat pepohonan di halaman berdesir lirih. Lampu jalan berkedip redup.
Di dekat gapura sebelah kiri, ada seseorang sedang duduk.
Bimo menyipitkan mata.
Ia melihat sosok yang sangat ia kenal. Itu adalah ibu-ibu berkebaya putih yang sering ia temui saat membeli gorengan sore hari di dekat kosnya.
Tapi kali ini ada yang berbeda.
Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Ia tidak tersenyum. Hanya menatap lurus dengan tatapan kosong.
Bimo merasa kikuk. Meski situasinya ganjil, ia tetap menjaga sopan santun.
Ia mengangguk, sedikit membungkuk hormat saat melewati tepat di depannya.
“Punten, Bu,” ucapnya pelan.
Saat ia mengangguk itulah—
Ibu itu ikut mengangguk.
Namun yang membuat darah Bimo membeku bukanlah anggukan itu.
Melainkan sesuatu yang mustahil.
Ketika kepala wanita itu menunduk, kepalanya terlepas dari lehernya. Copottt menggelinding pelan di atas aspal menuju halaman sekolah.
Tubuhnya tetap duduk tegak, tak bergerak sedikit pun.
Mata Bimo membelalak, “Ya Allah…!” bisiknya tercekat.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari sekencang mungkin.
Langkahnya menghantam aspal kosong, nafasnya memburu namun ia tak berani menoleh.
Namun di tengah pelariannya, terdengar suara berderit. Kriiieeet… kriiieeet… Suara ayunan besi di taman sekolah. Refleks, matanya melirik dan di situlah ia melihatnya.
Sosok ibu tanpa kepala itu kini duduk di ayunan besi, berayun perlahan. Kedua tangannya mencengkeram rantai ayunan di kanan kiri.
Tubuh tanpa kepala itu bergerak naik turun.
“Kriiieeet… kriiieeet…”Bimo hampir tersungkur karena panik. Ia terus berlari hingga tiba di pos ronda tak jauh dari sana.
“Le, kamu kenapa pucat begitu?” tanya Pak Darno, ketua RT setempat, yang sedang berjaga.
“Itu… Bu… ibu kebaya putih… kepalanya copot, Pak!” Bimo terengah-engah.
Pak Darno dan dua warga lain saling pandang. “Sudah lihat juga kamu akhirnya,” gumam seorang bapak tua bernama Mbah Wiryo.
Bimo menelan ludah. “Jadi… itu bukan halusinasi?”
Mbah Wiryo menggeleng pelan. “Bukan. Sudah puluhan tahun ia muncul di situ.”
Pak Darno menambahkan, “Dulu, sekitar tahun 80-an, ada guru perempuan di sekolah itu. Katanya meninggal tragis. Kepalanya terbentur keras saat kecelakaan malam hari di depan gapura.”
“Namanya Bu Ratih,” sahut Mbah Wiryo lirih. “Beliau orangnya lembut. Sering pakai kebaya putih.”
“Kenapa arwahnya masih di situ, Pak?” tanya Bimo, mencoba menguatkan diri.
Pak Darno menarik napas panjang. “Kematian Bu Ratih waktu itu penuh tanda tanya. Ada isu tabrak lari, tapi pelakunya tak pernah ditemukan.”
Mbah Wiryo menatap kosong ke arah sekolah. “Konon, ia masih mencari kebenaran tentang kematiannya.”
Udara di sekitar pos ronda mendadak terasa lebih dingin.
Bimo merasakan sesak di dada. Bukan hanya karena lari tadi, tapi karena perasaan ganjil yang sulit dijelaskan.
“Dia tidak menyerang?” tanya Bimo pelan.
“Tidak,” jawab Pak Darno. “Ia hanya muncul. Menatap. Kadang berjalan pelan. Seperti menunggu seseorang.” Sebagai mahasiswa sejarah, rasa takut Bimo perlahan bercampur dengan rasa penasaran.
Beberapa hari berikutnya, ia menelusuri arsip koran lama di perpustakaan daerah. Ia menemukan berita kecil tentang kecelakaan misterius di depan sekolah tersebut. Tidak ada saksi jelas. Kasusnya tak pernah terpecahkan. Semakin ia menggali, semakin ia merasa ada cerita yang belum selesai.
Suatu malam, dengan keberanian yang tersisa, Bimo kembali ke gapura itu. “Bu Ratih…” panggilnya lirih. Angin berhenti berembus tapi dari kejauhan, sosok wanita berpakaian putih berjalan perlahan mendekat. Tubuh Bimo gemetar, tapi ia beranikan diri bertanya,“Kalau Ibu mencari kebenaran… saya akan coba bantu lewat penelitian saya,” ucapnya, dengan suara bergetar.
Sosok itu berhenti beberapa meter di depannya.Kepalanya masih utuh. Namun wajahnya kosong. Tatapannya menembus hati, perlahan ia mengangguk dan Bimo menahan napas. Detik terasa seperti jam.Namun kali ini, kepalanya tidak copot. Sosok itu berbalik, berjalan menuju halaman sekolah, lalu memudar di antara bayangan pepohonan.
Sejak malam itu, penampakan semakin jarang terdengar. Bimo menuliskan kisah Bu Ratih dalam skripsinya sebagai bagian dari penelitian tentang legenda urban dan memori kolektif masyarakat. Ia tidak menyebut detail pengalaman pribadinya. Namun dalam hati, ia yakin bahwa ada sesuatu yang telah berubah. Apakah wanita berpakaian putih itu benar-benar arwah yang tersesat?
Ataukah ia hanya manifestasi rasa bersalah kolektif atas kematian yang tak pernah terungkap? Yang jelas, bagi Bimo, pengalaman itu bukan sekadar cerita seram.
Itu adalah pengingat bahwa di balik setiap misteri sosok hantu, mungkin tersembunyi kisah lama yang menunggu untuk diceritakan kembali—tentang kematian tragis, keadilan yang tertunda, dan jiwa yang belum menemukan kedamaian.
Dan setiap kali ia melewati gapura sekolah tua itu, ia masih merasakan hawa dingin menyentuh tengkuknya. Seolah ada sepasang mata yang mengawasi.
Redaksi Energi Juang News



