Energi Juang News, Bandung–Kisah teror Hutan Terlarang Cikondang bermula ketika Dika, Arif, Lisa, dan Santi memutuskan berkemah di kawasan hutan adat keramat di Kampung Adat Cikondang, Pangalengan, Bandung. Seorang warga tua sempat menahan mereka di tepi kampung sambil berkata, “Nak, hutan itu bukan tempat main. Ada aturan leluhur yang tak boleh dilanggar.” Namun para remaja itu hanya saling pandang dan tersenyum meremehkan, menganggap cerita roh penjaga sebagai dongeng untuk menakuti pendatang.
Warga lain ikut memperingatkan tentang pantangan adat, seperti larangan masuk hari Selasa dan Sabtu, melepas alas kaki, serta larangan bagi perempuan yang sedang haid. “Hutan itu sumber mata air dan tempat pusaka,” ujar seorang ibu dengan nada serius. Namun Arif menjawab santai, “Kami cuma semalam saja, Bu.” Kalimat itu seolah mematahkan kesabaran alam. Angin berdesir aneh, dedaunan berguguran, seakan hutan mendengar kesombongan mereka.
Mereka mendirikan tenda di dekat danau kecil yang airnya hitam seperti cermin gelap. Malam pertama, suara gesekan ranting terdengar berulang, disusul bisikan lirih dari balik pepohonan. “Kalian dengar itu?” tanya Lisa gemetar. Bayangan tinggi tanpa wajah melintas cepat di antara kabut, tubuhnya kurus dan memanjang tak wajar. Aroma tanah basah bercampur anyir darah membuat Santi mual, sementara Dika menatap danau yang tiba-tiba beriak sendiri.
Saat pagi menjelang, Dika menghilang tanpa jejak. Tendanya kosong, hanya tersisa bekas telapak kaki menuju semak belukar. Arif berteriak panik, “Dika! Jangan bercanda!” Seorang kakek penjaga ladang yang mereka temui berkata lirih, “Kalau sudah diambil, hutan tak akan mengembalikan dengan mudah.” Nada suaranya berat, seolah ia pernah menyaksikan kejadian serupa, dan matanya menolak menatap ke arah hutan.
Pencarian membawa mereka pada jejak darah yang mengarah ke gua tersembunyi di balik akar besar. Di dalam gua, dindingnya dipenuhi simbol kuno dan tulang belulang. Arwah penduduk desa yang dulu menjadi korban pengorbanan muncul perlahan, wajahnya gosong, mata hitam kosong, tubuhnya berlumur tanah. “Kalian melanggar,” suara serak menggema. Lisa menangis, “Kami tidak tahu, kami minta maaf,” namun gema tawa arwah justru membalas permohonannya.
Arwah-arwah itu bangkit sebagai penjaga kutukan, tubuh mereka melayang dengan kaki tak menyentuh tanah. Ada sosok perempuan berambut panjang menutupi wajah, menangis darah sambil menunjuk altar batu. “Gantinya nyawa,” bisiknya. Santi jatuh terduduk, merasa ada tangan dingin mencengkeram pergelangan kakinya. Dari luar gua, suara warga terdengar samar, “Cepat keluar! Jangan sentuh pusaka!” namun langkah mereka seperti tertahan kekuatan tak terlihat.
Dalam ketakutan, Arif menemukan altar ritual penuh sesajen busuk dan kain kafan. Seorang tetua adat yang menyusul mereka berteriak, “Hancurkan altar itu, sebelum arwah mengikat kalian!” Setiap pukulan terasa melawan tekanan berat, seolah ratusan tangan menahan. Arwah menjerit, wajah mereka berubah menjadi wujud kematian yang mengerikan, rahang terlepas, mata meneteskan cairan hitam, menciptakan teror yang hampir meruntuhkan kewarasan mereka.
Dengan keberanian terakhir, altar itu runtuh. Teriakan arwah menggema lalu perlahan meredup. Sosok-sosok menyeramkan itu berubah menjadi bayangan cahaya redup, wajah mereka kini tampak damai. “Akhirnya… bebas,” bisik salah satu arwah sebelum menghilang. Hutan mendadak sunyi, angin berhenti, dan bau anyir tergantikan aroma tanah segar. Tetua adat menunduk, “Leluhur telah menerima penebusan kalian.”
Para remaja yang selamat keluar dari hutan dengan tubuh gemetar dan jiwa terluka. Dika ditemukan tak bernyawa di tepi danau, wajahnya tenang namun dingin. Seorang warga berkata pelan, “Hutan tidak kejam, manusia yang sering lupa diri.” Lisa menangis sambil berjanji, “Kami tidak akan melupakan adat lagi.” Pengalaman itu menjadi luka abadi yang terpatri dalam ingatan mereka.
Sejak kejadian itu, teror Hutan Terlarang Cikondang menjadi kisah peringatan yang terus diceritakan warga. Hutan kembali dijaga dengan doa dan ritual adat, sementara para pendatang diingatkan untuk patuh pada aturan leluhur. “Hormati alam, maka alam akan melindungi,” ujar tetua adat. Kisah ini bukan sekadar horor, melainkan pesan tentang keseimbangan, kesucian, dan konsekuensi ketika manusia melanggar batas yang tak kasatmata.
Redaksi Energi Juang News



