Jumat, Maret 6, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKisah Mimpi Arwah yang Tak Berujung di Sumur Tua

Kisah Mimpi Arwah yang Tak Berujung di Sumur Tua

Energi Juang News, Jember– Daerah Sidomulyo di Jember adalah sebuah desa kecil yang tenang dan dikelilingi oleh pepohonan jati tua. Malam di desa itu biasanya sunyi, hanya suara jangkrik dan desir angin yang menemani. Namun, ketenangan itu berubah menjadi malam-malam penuh teror setelah Bagas, seorang pemuda setempat, mengalami serangkaian mimpi yang tidak biasa. Mimpi itu terasa terlalu nyata, seolah-olah ada sesuatu yang benar-benar ingin berkomunikasi dengannya dari alam lain.

Sudah tiga malam berturut-turut Bagas tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah seseorang muncul wajah Sis dalam gelap, sahabat lamanya yang telah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan di jalan desa. Dalam mimpinya, Sis tidak seperti yang ia kenal dulu. Kulitnya pucat keabu-abuan, matanya cekung seperti lubang hitam, dan suaranya terdengar parau memanggil, “Gas… ikut aku sebentar.” Bagas selalu terbangun dengan keringat dingin mengucur di pelipis.

Suatu malam, mimpi itu berlanjut dengan cara yang jauh lebih mengerikan. Dalam tidurnya, Bagas melihat dirinya berdiri di tepi sumur tua di belakang rumah. Di sana, Sis muncul, merangkak pelan dari balik pohon randu yang besar. Gerakannya kaku, dan setiap langkah meninggalkan jejak lumpur. “Kamu harus lihat, Bagas!” katanya dengan tatapan tajam yang menusuk. Arwah itu lalu membekap wajah Bagas dan menyeretnya mendekati sumur batu berlumut itu. Sesaat sebelum terjatuh, suara gemuruh gelap menelan kesadarannya.

Bagas terbangun dengan teriakan. Nafasnya tersengal, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba menenangkan diri, tapi masih bisa mencium aroma tanah basah dan lumpur di tangannya. Esoknya, Bagas menceritakan kejadian itu kepada Waluya, sahabatnya di desa. Waluya menatapnya dengan ekspresi tegang dan berkata, “Gas, kamu juga mimpi Sis?” Bagas menatapnya heran, lalu Waluya melanjutkan lirih, “Aku juga… dua malam lalu, dia datang ngajak ke sumur tua.”

Keduanya mulai curiga bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar mimpi. Mereka mendatangi Mbah Wir, orang pintar yang dikenal bijak dan memahami hal-hal gaib di Sidomulyo. Dengan nada pelan, Bagas menceritakan semua yang terjadi. Mbah Wir menutup mata, seakan mendengarkan sesuatu dari kejauhan. “Sumur itu dulu tempat Sis jatuh waktu kecil. Arwahnya nggak tenang,” katanya pelan. “Hati-hati dan berdoalah, jangan pernah hampiri sumur itu malam hari.”

Sore harinya, Bagas dan Waluya berdiri di dekat sumur tua itu. Udara di sekitar terasa dingin tak wajar, dan suara serangga mendadak hilang. “Gas, kamu ngerasa nggak? Kok anginnya beda,” tanya Waluya sambil menatap gelisah. Tiba-tiba, muncul bayangan kabur seperti perempuan berambut panjang menunduk di permukaan air sumur. Meski samar, wajah itu jelas bukan wajah manusia hidup. Tanpa kata, mereka berlari menjauh, napas mereka berpacu dengan detak jantung yang nyaris pecah.

Malam berikutnya, Bagas kembali bermimpi. Kali ini, ia tidak hanya melihat Sis. Di belakangnya berdiri sosok lain, tubuhnya penuh luka, kulitnya membiru seperti mayat yang lama direndam air. Suara lirih berbisik di telinganya, “Dia bukan cuma Sis, Gas. Ada yang lain di bawah sumur itu.” Bagas berusaha berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Dunia mimpi berubah menjadi lautan kegelapan yang menelannya tanpa sisa.

Beberapa hari setelah kejadian itu, warga desa mulai membicarakan aroma busuk yang muncul dari arah sumur tua. Seorang tetangga bernama Bu Rum mendatangi rumah Bagas sambil berbisik, “Nak Bagas, sumur itu aneh, lho. Tiap malam ada suara orang nangis.” Bagas hanya bisa menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Ia takut kalau cerita itu benar-benar memiliki kaitan dengan mimpinya yang tak berujung.

Suatu malam, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Bagas diam-diam kembali ke sumur itu sendirian. Bulan purnama menyorot pucuk pohon randu, dan air sumur tampak berkilau keperakan. Tiba-tiba, muncul tangan pucat dari dalam sumur, menggenggam tepi batu dengan kuat. “Gas…” suara parau itu kembali memanggil. Tubuh Bagas gemetar hebat, kakinya terpaku. Sosok itu muncul perlahan, menampakkan wajah tanpa mata yang meneteskan darah. Ia mengenali wajah itu—Sis, sahabatnya.

Setelah malam itu, Bagas tidak pernah lagi berbicara banyak. Warga hanya tahu ia sering duduk di tepi sumur tua dengan mata kosong menatap ke dalam air. Ketika Waluya menegurnya, ia hanya menjawab pelan, “Dia belum pergi, Wal. Mimpinya belum selesai.” Sejak saat itu, setiap kali angin berhembus lewat Sidomulyo, terdengar sayup-sayup suara seseorang memanggil nama Bagas dari arah sumur tua itu, seolah kisah mimpi arwah itu benar-benar tak berujung.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments