Jumat, Mei 15, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaTopeng Genduk di Malam Tujuh Belasan

Topeng Genduk di Malam Tujuh Belasan

Energi Juang News,Kebumen- Hujan gerimis turun sejak sore ketika rombongan warga desa mulai berdatangan ke area lembah untuk merayakan malam tujuh belasan. Lampu minyak dipasang berjajar di sepanjang jalan setapak menuju arena api unggun. Suara gamelan terdengar lirih bercampur desir angin dingin yang turun dari bukit. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa malam itu akan berubah menjadi petaka yang menghantui warga selama bertahun-tahun.

Dini memperhatikan Risa yang sedari tadi memeluk ranselnya erat-erat di dalam tenda. Sesekali perempuan itu tersenyum sendiri sambil menepuk-nepuk sesuatu di dalam tasnya. “Kamu masih bawa topeng itu, Ris?” tanya Dini pelan. Risa mengangguk cepat. “Namanya Genduk. Dia suka ikut denganku.” Jawaban itu membuat bulu kuduk Dini meremang. Sejak awal ia memang tidak pernah menyukai topeng berwarna pink dengan gigi mencuat keluar dan senyum mengerikan itu.

“Aku nemuin topeng itu di dekat kuburan bambu pinggir sungai,” bisik Risa sambil menatap gerimis di luar tenda. “Waktu itu ada suara perempuan nangis manggil namaku.” Dini langsung menatap tajam. “Warga sini bilang tempat itu angker, Ris. Jangan dibawa macam-macam.” Namun Risa hanya tertawa kecil. Tawanya lirih dan terdengar aneh, seolah bukan berasal dari tenggorokannya sendiri.

Malam semakin larut. Api unggun mulai dinyalakan dan warga desa berkumpul mengelilingi panggung bambu. Anak-anak kecil menari dengan iringan gamelan yang semakin cepat. Di tengah keramaian itu, Pak Wiryo, salah satu warga tertua desa, mendekati Dini dengan wajah pucat. “Perempuan yang bawa topeng itu temanmu?” tanyanya terbata. Dini mengangguk pelan. Pak Wiryo langsung menarik napas panjang. “Kalau bisa, suruh dia buang topeng itu malam ini juga. Dulu pernah ada penari lenyap gara-gara benda serupa.”

Baca juga :  Kisah Mistis di Balik Jembatan Asem Buntung: Lokasi Angker di Ponorogo

Dini bergegas kembali ke tenda, tetapi Risa sudah tidak ada di sana. Yang tersisa hanya ransel terbuka dan bekas jejak lumpur menuju jalan setapak belakang lembah. Dengan bantuan lampu ponsel, Dini mencoba mengikuti jejak itu. Udara terasa semakin dingin dan kabut mulai turun menutupi pepohonan. Tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa dari arah semak-semak. “Dini…” suara itu lirih memanggil. Ketika disorot lampu, tidak ada siapa-siapa selain topeng Genduk yang tergantung di ranting pohon sambil menghadap lurus ke arahnya.

Belum sempat Dini mendekat, suara sorak warga meledak dari arena api unggun. Seseorang bertopeng Genduk muncul di atas panggung. Sosok itu menari dengan gerakan aneh, terkadang lembut lalu tiba-tiba menghentak kasar seperti orang kesurupan. Penonton bersorak kagum, tetapi beberapa warga tua justru mundur ketakutan. “Astaga… itu Tari Panggil Arwah,” gumam Pak Wiryo dengan suara gemetar.

Orang bertopeng itu terus menari semakin liar. Bara api unggun berkobar tinggi seakan mengikuti gerakan tubuhnya. Suara gamelan mendadak berubah sumbang. Salah satu penabuh gamelan tiba-tiba menjerit sambil menunjuk ke arah panggung. “Kakinya nggak napak tanah!” teriaknya panik. Warga mulai ricuh. Namun sosok bertopeng Genduk justru tertawa melengking di balik topengnya. Tawanya menggema ke seluruh lembah hingga membuat anak-anak menangis ketakutan.

“Buka topengnya!” teriak seorang pemuda desa memberanikan diri. Beberapa warga lain ikut maju mendekati panggung. Sosok itu berhenti menari perlahan, lalu memiringkan kepala dengan gerakan patah-patah yang tidak wajar. “Kalian mau lihat wajahku?” suaranya berat dan serak, bukan suara Risa. Seketika lampu di sekitar arena padam bersamaan. Lembah berubah gelap gulita. Yang terdengar hanya suara napas warga bercampur gamelan yang masih berbunyi sendiri tanpa pemain.

Baca juga :  Bayi Bajang: Sosok Arwah Bayi yang Menghantui Malam

Di tengah kekacauan itu, Dini akhirnya menemukan Risa terikat di balik semak dekat jurang kecil. Wajah perempuan itu pucat dan tubuhnya menggigil hebat. “Dini… jangan biarkan dia pakai wajahku…” bisiknya lemah. Dini langsung melepaskan ikatan sambil menahan tangis. Dari arah panggung terdengar jeritan panjang disusul suara benda terbakar. Ketika mereka menoleh, sosok bertopeng Genduk berdiri di tengah api unggun tanpa terbakar sedikit pun.

Pak Wiryo bersama beberapa warga nekat mendekati panggung sambil membaca doa keras-keras. “Itu bukan manusia!” teriak salah satu warga. Sosok bertopeng itu menoleh perlahan ke arah mereka. Dalam hitungan detik, tubuhnya melompat sangat tinggi lalu menghilang ke dalam gelap hutan belakang lembah. Angin dingin langsung berembus kencang dan api unggun padam seketika. Malam itu warga memutuskan membubarkan acara lebih awal karena ketakutan.

Keesokan paginya, Risa ditemukan duduk sendirian di depan rumahnya sambil menatap hujan gerimis. Bibirnya tersenyum tipis. Dini yang datang menjenguk langsung membeku ketika melihat wajah sahabatnya berubah menyerupai topeng Genduk. Gigi Risa mencuat keluar dan alisnya melengkung panjang seperti ukiran topeng itu. Perlahan perempuan itu menoleh lalu berbisik pelan, “Genduk sekarang tinggal di sini… selamanya.”

Redaksi Energi Juang News

 

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments