Energi Juang News, Bogor- Hujan turun tipis di Kota Bogor malam itu. Lampu-lampu taman di kawasan Sempur memantul di permukaan Sungai Ciliwung yang tampak hitam pekat seperti genangan tinta. Udara terasa dingin menusuk sampai ke tulang. Tidak banyak warga yang masih beraktivitas karena sejak sore kabar tenggelamnya Syahdan, bocah 12 tahun yang terpeleset di bantaran sungai, sudah menyebar ke seluruh kampung.
Ambulans sudah pergi sejak magrib, tetapi suasana mencekam masih menggantung di sekitar jembatan tua itu. Orang-orang berbisik pelan, seolah takut ada sesuatu yang mendengar pembicaraan mereka. Di bawah pohon kapuk besar dekat taman, Ketua RT Amarullah berdiri sambil menatap arus sungai yang bergerak lambat. “Bukan pertama kali ini kejadian,” katanya lirih.
Beberapa warga langsung saling pandang. Seorang ibu tua yang duduk di warung kopi mendadak menimpali dengan suara gemetar. “Setiap tahun pasti ada yang diambil…” Kalimat itu membuat suasana makin dingin. Tidak ada yang berani tertawa. Bahkan suara jangkrik seperti menghilang dari malam itu. Amar lalu menunjuk pohon kapuk raksasa di tepi sungai.
Batangnya hitam dan akar-akarnya menjuntai seperti tangan kurus keluar dari tanah basah. “Di situ tempat dia,” ucap Amar pelan. “Penunggunya tinggi besar… matanya merah.” Seorang pemuda bernama Dani langsung merinding. “Pak RT jangan ngomong begitu malam-malam,” katanya sambil mengusap tengkuknya. Tetapi Amar hanya menghela napas panjang. “Kalian anak sekarang nggak percaya beginian. Tapi warga lama di sini tahu… sungai ini minta tumbal.”
Angin tiba-tiba berembus kencang. Daun pohon kapuk bergesekan mengeluarkan bunyi seperti bisikan panjang. Dari kejauhan terdengar suara air beriak padahal arus sungai tampak tenang. Seorang bapak pemilik warung rokok mendadak menutup rolling door lebih cepat. “Kalau sudah ada korban begini biasanya mulai lagi,” katanya pelan. “Mulai apa?” tanya Dani. Lelaki itu menatap kosong ke arah bawah jembatan. “Suara gamelan…” Warga yang mendengar langsung terdiam.
Mereka seperti paham sesuatu yang tidak diketahui orang luar. Amar menyalakan rokok lalu berkata lirih, “Dulu sebelum ada lampu penerangan, tiap malam Jumat suara itu jelas banget. Kayak ada yang lagi hajatan di bawah jembatan.” Hening panjang menyelimuti mereka. Sungai Ciliwung malam itu tidak hanya terlihat gelap. Ia seperti hidup… dan sedang memperhatikan semua orang yang berdiri di tepinya.
Tiga malam setelah kematian Syahdan, kejadian aneh mulai terjadi di rumah-rumah warga bantaran sungai. Sekitar pukul dua dini hari, seorang ibu bernama Yayah terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
Awalnya pelan. Tok… tok… tok… Tetapi semakin lama semakin keras. Ia mengira suaminya pulang ronda. Dengan mata masih setengah mengantuk, ia membuka pintu kayu rumahnya. Namun tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya udara dingin dan aroma tanah basah yang menyengat.
Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba terdengar suara anak kecil berbisik dari arah halaman. “Bu… jangan ada yang mandi di sungai lagi…” Tubuh Yayah langsung kaku. Suara itu sangat mirip suara Syahdan. Ia buru-buru menutup pintu sambil membaca doa keras-keras. Keesokan paginya, ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami kejadian itu. Hampir semua rumah di RT tersebut mendapat teror serupa. “Dia datang ke rumah saya juga,” kata Pak Endin saat warga berkumpul di pos ronda. “Mukanya pucat… bajunya basah semua.” Seorang pemuda lain menyahut dengan wajah tegang. “Saya lihat ada anak berdiri di jembatan tadi malam.
Pas didekati hilang.” Warga mulai resah. Anak-anak dilarang keluar selepas magrib. Suasana kampung berubah sunyi lebih cepat dari biasanya. Amarullah akhirnya mengumpulkan warga dan meminta semua orang menjaga ucapan selama berada di sekitar sungai. “Kalau dengar suara aneh jangan ditanggapi,” katanya serius. Tetapi malam berikutnya kejadian lebih menyeramkan terjadi. Sekitar pukul satu dini hari, suara gamelan tiba-tiba terdengar dari bawah jembatan Sempur.
Nadanya lambat dan sumbang seperti musik tua dari zaman kerajaan. Ting… tung… tang… Suaranya menggema di antara rumah-rumah warga. Dani yang saat itu ronda langsung merinding. “Pak… itu suara apa?” tanyanya dengan suara gemetar. Amar menatap gelap ke arah sungai. “Dia lagi lewat…” jawabnya pendek. “Siapa?” Amar tidak langsung menjawab.
Wajahnya terlihat pucat diterpa cahaya lampu pos ronda. “Penunggu sungai.” Tiba-tiba seekor anjing kampung melolong panjang ke arah jembatan. Suara gamelan mendadak berhenti. Tetapi beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki berat dari arah bawah jembatan. Duk… duk… duk… seperti langkah raksasa. Dani spontan memegang lengan Amar. “Pak… ayo masuk rumah aja.” Namun Amar tetap menatap ke arah gelap itu sambil berbisik lirih, “Jangan lihat matanya kalau dia muncul…”
Redaksi Energi Juang News



