Energi Juang News, Kalsel- Sore itu terlihat di kejauhan berdiri bangunan tua peninggalan kompeni Belanda: Benteng Oranje Nassau. Temboknya mulai runtuh, dipeluk lumut dan akar liar. Lokasinya berada di Desa Pengaron, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tak jauh dari permukiman warga. Namun kedekatan itu justru membuatnya terasa semakin mengancam.
Bangunan ini kerap disebut angker. Bukan hanya oleh anak-anak yang suka mengarang cerita, tetapi juga oleh orang dewasa yang mengaku pernah melihat sesuatu dengan mata kepala sendiri.
Syahdiani 56th, pria paruh baya sekaligus juru pelihara lokasi tersebut, sudah terlalu sering mendengar cerita warga. Bahkan beberapa ia saksikan langsung.
“Orang-orang takut itu ada sebabnya,” ucapnya suatu malam, ketika Bima,40th seorang penulis kisah lokal berbincang di teras rumahnya. “Di sana ada penunggu. Sosoknya besar… hitam. Bukan bayangan biasa.”
Bima menatap ke arah benteng yang samar terlihat dari kejauhan. “Maksudnya seperti apa, Pak? Bayangan manusia?”
Ia menggeleng pelan. “Lebih besar dari manusia. Tingginya hampir menyamai pintu gerbang benteng.”
Cerita paling sering dibicarakan warga terjadi menjelang senja, beberapa tahun silam. Seorang pria hendak pergi ke sungai melewati jalan setapak di depan benteng. Saat cahaya mulai redup, ia melihat sesuatu berdiri tepat di depan bangunan tua itu.
“Dulu salah satu warga di sini pernah melihat sosok menakutkan,” tutur Syahdiani, suaranya merendah. “Menjelang senja dia mau ke sungai. Begitu melintas, tiba-tiba ada sosok raksasa hitam berdiri di depan benteng. Tanpa pikir panjang dia lari terbirit-birit.”
“Dia lihat wajahnya?” tanya Bima.
“Tidak jelas. Hitam pekat. Seperti bayangan yang punya bentuk. Tapi dia yakin itu bukan pohon, bukan tiang. Itu… berdiri dan menghadap padanya.”
Warga yang mendengar kisah itu awalnya menganggapnya halusinasi. Namun kejadian serupa terulang. Beberapa orang mengaku melihat bayangan hitam bergerak di antara reruntuhan saat matahari hampir tenggelam. Setiap kali itu terjadi, yang melihat selalu memilih kabur tanpa menoleh lagi.
Namun peristiwa paling mencekam terjadi pada tahun 2011.
Saat itu seorang warga lokal yang akrab disapa Guru Bamang,56th berniat membangun pabrik padi di seberang benteng. Ia dikenal memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib. Banyak yang percaya ia dapat merasakan keberadaan makhluk tak kasatmata.
Suatu sore, sebelum pembangunan dimulai, Guru Bamang berdiri memandangi benteng tua itu cukup lama. Para pekerja memperhatikannya dengan rasa ingin tahu.
“Kalian pernah diganggu sesuatu di sini?” tanya Guru Bamang tiba-tiba.
Seorang pekerja tertawa kecil. “Ah, Pak Guru, aman-aman saja. Paling cuma cerita orang kampung.”
Guru Bamang tak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah gerbang benteng yang gelap. “Kalau ada apa-apa, jangan dilawan. Ingat, kita cuma numpang kerja.”
Setelah itu ia pergi meninggalkan lokasi.
Pekerjaan pembangunan berjalan normal hingga suatu siang ketika salah satu pekerja sedang memasang atap. Cuaca cerah, tak ada tanda aneh. Tiba-tiba ia merasakan tepukan di bahunya.
“Hei, jangan bercanda!” katanya, mengira rekannya usil.
Tak ada jawaban.
Ia menoleh perlahan.
Seketika tubuhnya membeku. Sebuah tangan besar berwarna hitam pekat menggenggam bahunya. Ukurannya tak wajar—lebih besar dari kepala orang dewasa. Kulitnya seperti asap padat, namun cengkeramannya terasa nyata.
“Tolong…!” teriaknya sebelum suaranya tercekat.
Dari bawah, para pekerja melihat tubuhnya kaku. “Kenapa, Wan?” teriak salah satu rekannya.
Pekerja itu tak sempat menjawab. Matanya terbelalak menatap sesuatu di sampingnya yang tak terlihat oleh orang lain. Beberapa detik kemudian, ia pingsan dan hampir terjatuh dari ketinggian jika tidak segera ditahan.
Ketika sadar, ia gemetar hebat.
“Ada tangan… besar… hitam…” katanya terbata.
“Di mana?” tanya rekannya panik.
“Di bahuku. Dia pegang aku. Kencang sekali.”
Tak lama setelah kejadian itu, pekerja tersebut jatuh sakit berhari-hari. Ia demam tinggi dan terus mengigau tentang sosok raksasa di depan benteng. Sejak saat itu, ia menolak kembali bekerja di kawasan tersebut.
“Makhluk itu tidak suka diganggu,” ujar Syahdiani ketika mengenang peristiwa tersebut. “Benteng itu sudah lama kosong, tapi bukan berarti tak berpenghuni.”
Sebagian warga percaya sosok tersebut adalah penjaga bangunan peninggalan Belanda, marah karena wilayahnya terusik. Yang lain meyakini ia adalah arwah prajurit yang mati tak tenang. Namun tak ada yang benar-benar tahu asal-usulnya.
Malam hari, beberapa remaja desa pernah mencoba membuktikan kebenaran cerita itu. Mereka berkumpul dengan senter dan kamera ponsel.
“Kalau memang ada, harusnya kelihatan,” ujar salah satu dari mereka, Aldi.
“Jangan macam-macam,” bisik temannya. “Orang tua sudah bilang jangan cari gara-gara.”
Saat mereka mendekati gerbang benteng, angin tiba-tiba berembus kencang. Lampu senter salah satu dari mereka mati mendadak. Dalam cahaya temaram, mereka melihat sesuatu bergerak di sisi tembok.
“Itu apa?” tanya Aldi pelan.
Bayangan tinggi menjulang di antara reruntuhan, lebih gelap dari gelap itu sendiri.
Tanpa komando, mereka lari bersamaan.
Sejak saat itu, tak ada lagi yang berani datang malam-malam hanya untuk uji nyali.
Hingga kini, Misteri Hantu Benteng Pengaron tetap menjadi bisik-bisik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Benteng tua itu berdiri membisu, namun setiap senja, suasana di sekitarnya berubah—lebih berat, lebih sunyi.
Redaksi Energi Juang News



