Energi Juang News,Pacitan- Tempat pertapaan “Watu Mejo” mungkin masih hal yang asing. Hal tersebut cukup beralasan,bagi masyarakat Pacitan dan sekitarnya. Karena mengingat lokasi wisata yang dikeramatkan itu berada di lereng bukit ujung Watu Krucuk, Pantai Pancer Door.
“Hanya sebagian orang yang mengetahui, kalau di situ (Watu Mejo) merupakan lokasi tempat pertapaan para raja Mataraman kala itu,” ujar Ketua Srono Jolo Pacitan Damhudi, saat ditemui di kawasan Pantai Pancer Door.
Menurut mantan Ketua KPU Pacitan ini, sebelumnya kawasan ujung Selatan Pantai Pancer Door seakan steril dari kunjungan wisata. Selain dinilai sebagai lokasi yang angker, kawasan tersebut memang sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.
Bahkan dulu, tim uka-uka yang dimotori komedian Tukul Arwana sempat hendak melakukan shooting di kawasan tersebut. Namun gagal, karena tim supranatural mereka mengisyaratkan ada puluhan naga besar yang menghadang kru sebuah stasiun televisi swasta terkemuka tersebut. “Sehingga acara dibatalkan, sebab sangat berisiko kalau tetap dilanjutkan,” terang Damhudi yang juga hendak maju sebagai bakal calon Bupati Pacitan ini.
Konon katanya terdapat sebuah perkampungan gaib yang dihuni makhluk halus dan dijaga oleh naga bersisik, menurut warga setempat.
Masyarakat kerap menceritakan penampakan sosok wanita berwajah menyeramkan dan berbaju merah yang melayang di atas muara. Dengan kekuatan magisnya membuat siapaun yang melihatnya, akan tertarik mengikuti kemauan perempuan itu. Dan akhirnya menghilang, konon ia menjadi budak dialam astralnya. Sosok ini konon sering mengganggu pengunjung yang berniat buruk.
Menurut penerawangan ahli supranatural, para budak itu menjadi pengganti kuda yang m enarik kereta kencana sosok wanita itu, dengan penampakan berlumuran darah sekujur tubuhnya.
Di area ini terdapat batu yang disebut Watu Baliik atau Watu Mejo. Tempat ini sering terdengar suara-suara gaib seperti suara ayam yang lama lama berubah menjadi suara perempuan cekikikan pada malam hari dan terkadang dijadikan lokasi meditasi oleh orang-orang yang mencari ilmu kanuragan.
Secara logika, pantai ini memiliki arus bawah laut yang sangat kuat dan palung yang dalam, sehingga sering terjadi insiden wisatawan terseret ombak. Namun, warga setempat sering mengaitkannya dengan “tumbal” laut yang mendiami wilayah tersebut.
Baru sekitar tahun 2010, berkat bantuan dari Bupati Indartato melalui APBD, tak jauh dari Watu Mejo akhirnya dibangun sebuah musala. “Sejak berdiri musala, kunjungan wisata akhirnya mulai menggeliat.
Meski tak seramai obyek wisata yang lain, akan tetapi setidaknya sudah bisa menghapus kesan angker dan wingit. Saban hari banyak kelompok milenial yang datang ke ujung Selatan Pantai Pancer Door. Apalagi saat Ramadhan lalu, mereka banyak yang datang sambil ngabuburit,” tutur Damhudi.
Bahkan tak jarang juga, wisatawan luar daerah yang menyempatkan waktu datang ke Watu Mejo untuk ngalap berkah. “Kami berharap semakin hari kunjungan wisata ke sini semakin meningkat. Memang tempat ini (Watu Mejo) sampai detik ini masih dipercaya sebagai tempat keramat,” tandasnya.
Redaksi Energi Juang New



