Energi Juang News, Pontianak– Di pedalaman hutan Kalimantan yang sunyi, suatu malam saya mendengar bisikan warga setempat tentang keberadaan makhluk yang disebut Hantu Mariaban. Warga kampung terpencil kerap mencium bau anyir dan melihat bayangan besar di antara pepohonan rimbun. Aroma lembap dari dedaunan basah dan dingin makin menambah suasana mencekam ketika malam turun.
Kala itu, seorang tetua desa bernama Pak Surya menceritakan kejadian yang dialamimya sambil menatap linangan cahaya senter dan berkata, “Saya pernah dengar suara bulu yang digesek di batang kayu, lalu ada tawa kecil keras yang bukan manusia.” Suara itu menurutnya berasal dari Mariaban yang tengah mengintai, yang berwujud mengerikan namun sebagian belum terlihat wujudnya secara penuh tapi atmosfernya sudah bikin bulu kuduk berdiri.
Menurut kisahNenek Pajri warga sekitar, Hantu Mariaban adalah siluman berbadan besar dan ditutupi bulu lebat yang gemerincing saat bergerak di gelapnya hutan. Makhluk ini bukan hanya menakutkan karena wujudnya, tapi juga karena motifnya: ia diyakini suka minum darah manusia yang masuk ke wilayahnya sendirian. Saat saya duduk bersama nenek Pajri di rumah panggungnya dekat hutan, ia berguman, “Jangan berjalan malam ke situ sendirian. Kalau ia muncul, lehermu bisa kaku tiba-tiba.” Suaranya gemetar dan lampu minyaknya menyala seakan mengejar bayangan di dinding. Suasana menjadi sunyi di tengah malam, seolah seluruh alam menahan napas.
Malam itu, saya mencoba mendengarkan di tepian hutan ketika angin berdesir dan ranting patah sendiri. Tiba-tiba terdengar deraian tawa rendah yang bergema, lalu … hening. Waktu saya memanggil, “Siapa di sana? Keluar dan buktikan!” yang menjawab hanya suara desir daun yang bergetar dan langkah berat yang menjauh. Jantung saya berdetak keras, dan sesosok bayangan tinggi lewat di antara pepohonan, bulunya bergoyang seperti Ombak tengah gelombang. Saya merasa kehadirannya menyapu udara sangat dekat dengan saya, napasnya basa dan dingin. Saya berlari, suara ranting di belakang saya mengiringi, sampai saya tiba di rumah Pak Surya yang memanggil saya masuk, “Cepat! Ia tak suka dipanggil langsung.”
Beberapa warga pernah mencoba berburu bulu atau minyak dari Hantu Mariaban karena dipercaya bisa mendatangkan jodoh atau menjadikan kebal senjata. Seorang pria muda, Budi, pernah pulang dengan mata sembab dan berkata lirih, “Saya tangkap jejaknya, tapi saat hendak memotong bulunya, tanganku terasa berat seperti dibelah besi. Saya lari … dan sejak itu saya mimpi ia mencakar leher saya.” Kata-kata itu mengejutkan warga, yang kemudian menolak kembali ke hutan sendirian. Dikatakan bahwa siapa pun yang memanfaatkan kekuatannya akan terkena kutukan ganas Mariaban.
Di kampung saya, malam makin dingin seiring cerita itu berkembang. Seorang anak kecil berlari ke rumah neneknya sambil menangis, “Ada bulu besar bergoyang di jendela!” Sedangkan nenek itu hanya menarik nafas panjang, “Itu pasti ia, Mariaban. Jangan ditatap mata merahnya.” Warga kemudian menyalakan api unggun di tepi hutan dan berjaga bergiliran sampai salat Subuh. Suasana berjaga itu bikin saya merasakan bahwa ketakutan mereka nyata, bukan sekadar dongeng.
Dari sudut liarnya, Mariaban bisa menyamar menjadi manusia — versi lain warga menceritakan bahwa kadangkala sosok itu muncul sebagai orang yang kita kenal, namun dengan kesalahan kecil pada wajah atau gerak-geriknya yang “tidak manusiawi”.
Suatu malam, Pak Surya mengaku melihat seorang wanita berdiri di jalan setapak hutan dengan wajah pucat, rambut panjang terurai, dan suara lirih mengaji. Ia mendekat dan bertanya, “Bu, mau ke mana lewat malam begini?” Wanita itu menoleh dengan mata merah menyala dan bisikannya terdengar tak wajar: “Saya mencari jodoh.” Lalu ia bergeser ke bayang pepohonan dan lenyap begitu saja. Setelah kejadian itu, warga mengunci pintu rumah dan tak berani keluar lagi.
Sampai sekarang, kepercayaan terhadap Hantu Mariaban tetap hidup di antara masyarakat pedalaman Kalimantan. Sekalipun belum ada bukti ilmiah yang terekam, cerita ini telah menjadi bagian dari adat dan mitos setempat. Bagi saya, pengalaman malam itu menaruh rasa hormat dan ketakutan pada keheningan hutan yang mungkin menyimpan makhluk lebih tua dari manusia sendiri saat berjalan dihutan sendirian.
Cerita ini bukan sekadar hiburan horor mungkin ia juga peringatan agar manusia tidak memasuki wilayah yang dianggap sakral dan tak diketahui batasnya. Seperti pepatah warga yang saya dengar: “Hutan bukan tempat manusia sendirian, kalau kau tak panggil ia, ia akan panggilmu.” Kiranya pengalaman saya bersama warga kampung kecil itu menjadi pengingat akan batas antara manusia dan alam gaib yang mengintai di kegelapan.
Redaksi Energi Juang News



