Energi Juang News, Samarinda– Malam di pedalaman Kalimantan selalu terasa berbeda, seolah pepohonan tua menyimpan napas panjang yang mengawasi langkah siapa pun yang lewat. Ketika saya berbicara dengan seorang warga desa, ia berbisik, “Hutan di belakang sungai itu jangan dilalui sendirian, Nak. Ada sesuatu di sana.” Suaranya parau, seperti seseorang yang pernah kehilangan sesuatu yang penting. Hawa dingin menjalari udara, dan dari kejauhan terdengar suara hewan hutan yang seolah saling memperingatkan tentang bahaya yang tak terlihat. Tidak ada kata kunci atau sinonim yang diperbolehkan muncul di paragraf ini.
Salah satu tetua desa kemudian bercerita mengenai legenda Mariaban Penghisap Darah Korban yang Terkoyak, sosok yang digambarkan memiliki tubuh besar, bulu lebat, dan mata merah membara. “Makhluk itu bukan sekadar cerita untuk menakuti anak-anak,” katanya sambil menatap gelapnya malam. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Kalimantan kadang memburu bulu dan minyaknya, yang dipercaya dapat digunakan sebagai pelet. Seorang pemuda yang ikut mendengar percakapan kami menambahkan, “Bahkan orang paling pemberani pun tak akan masuk hutan tanpa teman kalau sudah malam.”
Tetua itu kemudian membeberkan sisi lain legenda tersebut. “Makhluk itu hidup seperti bayangan yang menempel pada hutan,” ujarnya. Ia pernah bertemu seorang pemburu yang mengaku melihat wujud Mariaban berubah dari siluman berbulu menjadi sosok mirip manusia, namun sangat kurus dengan wajah berubah bentuk. Seorang warga desa yang mendengarkan ikut berkata, “Darah korban biasanya hilang, tubuhnya terkoyak tapi tidak ada luka besar. Itu tanda dia yang melakukannya.” Cerita itu membuat bulu kuduk berdiri meskipun api unggun masih menyala terang.
Menurut penuturan warga, Mariaban menyukai tempat yang sunyi dan gelap. Banyak korban ditemukan dalam kondisi aneh, seolah jasadnya dikeringkan dari dalam. “Makhluk itu tidak pernah menyerang kelompok besar,” tutur seorang penjaga hutan. “Tapi kalau kau tersesat sendirian, berbeda ceritanya.” Ia mengatakan hal itu sambil menatap saya tajam, seakan ingin memastikan saya benar-benar memahami peringatan tersebut sebelum memasuki hutan.
Deskripsi tentang makhluk itu semakin menakutkan ketika seorang pemburu tua mengaku pernah melihatnya secara langsung. Ia berkata, “Tingginya hampir dua kali manusia, bulunya tebal, dan bau amis darah mengikutinya ke mana pun.” Warga yang lain menimpali dengan suara gemetar, “Kuku-kukunya panjang seperti pisau, dan sekali tebas saja bisa merobek kulit pohon meranti.” Pembicaraan mereka membuat suasana desa yang semula hangat berubah penuh kecemasan.
Suatu malam, seorang pemuda desa hilang setelah pergi memeriksa jebakan hewan. “Dia cuma pergi sendirian sebentar,” kata ibunya sambil menangis. Warga melakukan pencarian, namun hanya menemukan jejak yang menyeret ke arah hutan lebat. Seorang warga tua yang ikut mencari bergumam, “Jejaknya seperti kaki binatang, tapi ada bekas tangan manusia juga.” Semua orang tahu hanya satu makhluk yang sesuai dengan ciri-ciri itu.
Ketika pencarian dilanjutkan ke bagian hutan yang lebih dalam, suasana berubah semakin sunyi. Bahkan hewan malam pun seolah menahan suara. “Kalau hutan tiba-tiba diam begini, berarti ada yang sedang mengintai,” kata penjaga hutan yang berjalan di depan. Tidak lama kemudian, mereka menemukan pakaian korban dalam kondisi robek. Salah satu warga menjerit kecil, “Darahnya tidak ada… ini pasti dia!”
Tetua desa kemudian memutuskan untuk melakukan ritual perlindungan. “Makhluk itu tidak suka cahaya api dan suara mantra tertentu,” jelasnya. Warga pun berkumpul di balai desa sambil menyalakan obor. Seorang lelaki paruh baya berkata pada saya, “Ritual ini sudah dilakukan turun-temurun. Kalau tidak, mungkin kita semua sudah tinggal nama.” Suasana menjadi tegang, seakan seluruh desa sedang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak terlihat.
Saat ritual berlangsung, angin tiba-tiba berputar kencang. Api beberapa obor hampir padam, dan terdengar suara geraman dari arah hutan. “Dia datang,” bisik seorang warga. Tetua desa segera menguatkan mantranya, sementara orang-orang berdekatan satu sama lain seperti mencari perlindungan. Suara geraman itu semakin menjauh, namun aromanya bau darah bercampur tanah basah yang masih tertinggal di udara.
Setelah ritual selesai, tetua desa mengatakan bahwa makhluk itu tidak akan mendekat untuk sementara waktu. Namun ia mengingatkan, “Selama hutan masih gelap, dia tetap ada.” Warga yang mendengarnya hanya mengangguk perlahan, lalu seorang pria berkata pada saya, “Kalau kau ingin berkelana di Kalimantan, ingat satu hal: jangan pernah sendirian.” Dengan kata-kata itu, legenda Mariaban hidup dalam hati mereka, bukan sekadar mitos, melainkan ancaman yang selalu mengintai dari balik pepohonan.
Redaksi Energi Juang News



