Energi Juang News,Ponorogo- Jalanan di kawasan perbukitan Ngrayun, Ponorogo, tampak biasa di siang hari. Aspal sempit membelah hutan pinus dan kebun warga, dengan suara burung yang bersahutan. Namun ketika malam turun, suasana berubah drastis. Udara menjadi lebih dingin, sunyi terasa menekan, dan bayangan pepohonan tampak seperti sosok yang diam mengawasi.
Di salah satu tikungan, terdapat sebuah batu besar di tepi jalan—dikenal warga sebagai Watu Semaur.
Tak ada papan peringatan. Tak ada tanda bahaya. Tapi warga setempat tahu, tempat itu bukan sekadar batu biasa.
Menurut cerita turun-temurun, puluhan tahun lalu ada sepasang pengantin baru yang melanggar adat. Mereka keluar rumah berdua sebelum selapan hari pernikahan tanpa pendamping.
Dalam kepercayaan Jawa, itu adalah pantangan.
Dan malam itu, mereka tidak pernah kembali.
Keluarga mencari ke mana-mana, termasuk ke area Watu Semaur. Pencarian dilakukan dengan cara tradisional—memanggil nama mereka keras-keras di sekitar lokasi.
Samar terdengar sesuatu menjawab, namun suara lain yang terdengar menakutkan..
“Le… pulang…!” teriak salah satu anggota keluarga waktu itu.
Lalu terdengar sahutan pelan.
“Iya…” Penasaran ada yang menjawab,dicari asal usul suara itu namun ketika didekati tak ada siapa-siapa.
Hanya suara tanpa wujud, pengalaman gaib yang tak bisa diserna dengan akal biasa.
Beberapa hari kemudian, ditemukan sehelai selendang kuning di dekat batu tersebut. Anehnya, selendang itu seperti melekat pada permukaan batu, meninggalkan bekas warna kekuningan yang tak pernah hilang hingga sekarang.
Sejak saat itu, tempat tersebut dikenal sebagai Watu Semaur—“semaur” berarti menjawab panggilan dan sejak saat itu pula, kisahnya tidak pernah benar-benar berakhir.
Seorang sopir kayu bernama Bejo,38th pernah mengalami kejadian yang mengubah hidupnya. Ia sedang mengangkut kayu pinus dari kawasan tersebut pada malam hari.
Sebelum Bejo berangkat, warga sudah mengingatkan.
“Kalau ada yang manggil, jangan disaut,” kata seorang warga tua.
Bejo mengangguk, meski dalam hati tidak terlalu percaya.
Saat truk hampir penuh, ia mendengar suara.
“Mas…”
Bejo menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.
Ia kembali bekerja.
Lalu suara itu terdengar lagi.
“Mas… tolong…”
Kali ini lebih jelas. Suara perempuan, lirih, seperti menahan tangis.
Tanpa sadar, Bejo menjawab, “Iya?”
Dan seketika itu juga—
Mesin truk mati.
Rem terasa blong.
Truk mundur dengan sendirinya.
Dalam kepanikan, Bejo melihat ke kaca spion.
Dan di situlah ia melihatnya. Seorang perempuan berpakaian jawa kuno berdiri di belakang truk.
Memakai kebaya lusuh berwarna pucat, rambut panjang terurai menutupi sebagian wajah. Namun yang paling mencolok adalah lehernya sedikit miring, seolah patah, dan matanya… kosong, seperti lubang gelap tanpa cahaya.
Di tangannya, tergenggam sesuatu semacam selendang kuning.
Namun selendang itu tampak basah—bukan oleh air, melainkan sesuatu yang lebih pekat dan gelap.
Perempuan itu tersenyum dengan senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia,dengan barisan gigi runcing menyeringai. Kengerian sosok itu membuat membuat Bejo tercekat ketakutan.
Menurut cerita warga, sosok laki-laki itu diyakini sebagai pasangan si perempuan—pengantin pria yang juga hilang.
Namun berbeda dengan pasangannya, ia seolah mencoba menahan.
Seolah tidak ingin ada korban lain.
Perempuan itu menoleh dengan gerakan patah.
“Kenapa? Kita sendirian di sini…” katanya dengan suara berubah menjadi serak.
Lalu ia tertawa.
Tawa yang tidak wajar—melengking, panjang, dan menggema di antara pepohonan.
Menurut cerita warga, sosok laki-laki itu diyakini sebagai pasangan si perempuan—pengantin pria yang juga hilang.
Namun berbeda dengan pasangannya, ia seolah mencoba menahan.
Seolah tidak ingin ada korban lain.
Perempuan itu menoleh dengan gerakan patah.
“Kenapa? Kita sendirian di sini…” katanya dengan suara berubah menjadi serak.
Lalu ia tertawa dengan tawa yang tidak wajar—melengking, panjang, dan menggema di antara pepohonan.
Tiba-tiba mesin truk menyala kembali.
Rem berfungsi.
Bejo langsung menginjak gas dan melaju tanpa menoleh lagi, namun ia justru mengarah ke jurang didepannya.
Beberapa hari kemudian ia ditemukan warga meninggal dengan sangat mengerikan tak dikenali. Tubuhnya hancur tak utuh lagi terjebak didalam ruang kemudi truk yang hancur menghantam dasar jurang.
Warga hanya bisa terdiam dan segera meninggalkan tempat itu, sambil menunggu dari tim penyelamat.
Jika suatu malam kamu melintasi jalan sunyi di Desa Mrayan, dan mendengar seseorang memanggil namamu—
Jangan menoleh.
Jangan menjawab.
Karena di Watu Semaur, satu jawaban saja…
Karena bisa menjadi itu undangan terakhir.
Redaksi Energi Juang News



