Jumat, Maret 13, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Hantu Rabing di Sungai Kalimantan

Misteri Hantu Rabing di Sungai Kalimantan

Energi Juang News, Samarinda- Di balai kayu sederhana, Rani,22th seorang mahasiswi tingkat akhir berbincang dengan beberapa warga disepanjang aliran sungai. Kegiatan itu untuk menunjang tugas akhir kuliahnya.

Dan seorang ibu bernama Bu Ramlah,55th membuka cerita, “Dulu waktu saya kecil, orang tua selalu melarang kami mandi sore,” katanya. “Katanya nanti digulung.”lanjutnya.

“Digulung?” tanya Rani.

“Iya. Rabing itu kalau lihat mangsa, langsung melilit dan tenggelamkan. Enggak pakai ampun.”

Menurut legenda yang beredar, makhluk ini kadang terlihat seperti tikar mengapung. Ada pula yang menyebutnya menyerupai manusia labi-labi—bersisik, bertempurung, warna hitam kehijauan. Ia berdiam di sungai-sungai angker dekat hutan atau bahkan di aliran kecil belakang rumah warga.

“Kalau sudah dekat, airnya tiba-tiba tenang sekali,” tambah Mbah Jaya tetua setempat . “Habis itu… korban hilang.” katanya dengan nada menyesal.

Berbeda dengan hantu lain yang konon bisa “ditegur” atau ditenangkan dengan doa tertentu, Rabing disebut liar, nalurinya seperti hewan pemburu. Begitu mangsa lengah, ia menggulung tubuh korban dan menariknya ke dasar.

Cerita paling menggetarkan datang dari seorang pemuda bernama Ardi 17th. Terlihat aura wajahnya masih menyimpan trauma.

“Itu adik tetangga saya,” katanya lirih. “Masih kecil. Main di tepi sungai.”

Dua kakaknya asyik bermain kelereng, sementara si adik perempuan mencelupkan kaki ke air.

“Awalnya biasa saja,” lanjut Ardi. “Terus tiba-tiba kakaknya sadar… adiknya sudah enggak ada.”

Mereka mencari ke semak, ke bawah rumah panggung, ke kebun. Nihil.

Warga berdatangan. Lima belas orang menyelam dan menyisir sungai selama dua jam.

“Airnya aneh,” kata Mbah Jaya menyela. “Seperti menahan kami.”

Akhirnya tubuh kecil itu ditemukan mengambang di tengah sungai. Sudah tak bernyawa.

“Padahal arusnya enggak deras,” ujar Ardi. “Kalau cuma terpeleset, harusnya masih bisa diselamatkan.”

Sejak kejadian itu, warga semakin yakin bahwa sungai tersebut bukan sekadar tempat biasa.

Di wilayah Melayu, dikenal pula makhluk air bernama Mambang. Namun warga desa menegaskan perbedaannya.

“Mambang itu kecil, licin, mirip kera,” jelas Mbah Jaya. “Cepat sekali. Bisa seret orang dewasa.”

Rabing berbeda. Ia lebih berat, lebih besar, dan lebih menyerupai kura-kura raksasa atau siluman sungai bertempurung. Jika Mambang bergerak lincah di permukaan, Rabing cenderung menunggu di kedalaman, menyamar seperti benda terapung.

Sebagai peneliti, Rani mencatat kesamaan pola: keduanya muncul di perairan yang minim penerangan, dekat hutan, dan sering dikaitkan dengan korban tenggelam mendadak.

Beberapa warga percaya asal-usulnya adalah arwah orang yang mati tenggelam karena tak bisa berenang. Energi kematian itu melebur dengan sungai, membentuk entitas baru yang haus korban.

Malam kedua, Rani duduk di dermaga kayu bersama Mbah Jaya.

“Pernah lihat langsung?” tanya Rani.

Mbah Jaya terdiam lama.

“Sekali,” jawabnya akhirnya. “Seperti tikar hitam mengapung. Rani kira sampah. Tapi tiba-tiba bergerak melawan arus.”

“Lalu?”

“Air di sekitarnya berputar. Rani langsung naik ke darat.”

Angin malam membuat permukaan sungai bergetar pelan.

“Rabing takut apa?” tanya Rania lagi.

“Listrik,” jawabnya cepat. “Dan jaring ikan. Kalau kena jaring, dia enggak bisa bergerak bebas.”

Menarik. Banyak entitas air dalam folklore memiliki “pantangan” tertentu—simbol kelemahan terhadap alat manusia modern.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments