Energi Juang News,Jakarta- Malam di kawasan lama ibu kota selalu menyimpan gema langkah yang tak benar-benar hilang. Di antara lampu jalan redup dan rumah-rumah tua berarsitektur kolonial, bisikan tentang masa lalu kerap muncul kembali ketika hujan turun perlahan.
Warga yang telah tinggal puluhan tahun di sana sering menutup pintu lebih awal, seolah ada kenangan kelam yang enggan mereka biarkan masuk bersama angin malam. “Kalau sudah lewat tengah malam, suasananya beda,” ujar seorang bapak tua di gardu ronda, suaranya pelan namun tegas. Tak jauh dari sana, sungai mengalir keruh, memantulkan cahaya bulan seperti kilatan pisau.
Beberapa orang percaya, air sungai itu pernah membawa rahasia paling mengerikan yang mengguncang kota. Anak-anak muda yang nongkrong kerap saling menantang menyebut nama seorang perempuan yang dulu terkenal karena kecantikannya. Namun orang-orang tua hanya menggeleng. “Jangan sembarangan ngomong,” bisik seorang ibu kepada tetangganya. “Dulu kejadian itu bikin satu Jakarta gempar.” Angin berembus membawa aroma lembap bercampur kenangan pahit, seolah waktu tak pernah benar-benar menutup luka yang pernah tercipta di kawasan itu.
Misteri Drakula Kebayoran Baru berawal dari sosok Aminah, perempuan yang dikenal sebagai pedagang perhiasan dan barang bermerek di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Tubuhnya tidak tinggi, namun wajahnya manis dengan kulit bersih yang membuat banyak pria ingin mempersuntingnya.
“Dia itu cantik, siapa sangka hatinya sekelam itu,” kata seorang warga yang mengaku pernah menjadi pelanggannya. Pada 21 Januari 1966, Jakarta digemparkan dengan penemuan jasad perempuan termutilasi mengambang di sungai.
Tim forensik mengidentifikasi korban sebagai Ny. Siti Hasnah, teman dekat Aminah. “Kami tak percaya waktu tahu itu Siti,” ujar seorang tetangga korban. Polisi segera meringkus Aminah di rumahnya. Tanpa perlawanan, ia menyerahkan diri dan mengaku melakukan pembunuhan atas dasar bisikan setan.
Dalam pemeriksaan, kisah Aminah Drakula Kebayoran semakin gelap. Ia mengaku belajar ilmu spiritual kepada Ade Harahap dan diminta membunuh 25 wanita serta 3 bayi demi kekayaan.
“Saya hanya menjalankan perintah,” ucapnya dingin di hadapan penyidik. Namun polisi tak langsung mempercayainya. Penyelidikan lanjutan mengungkap bahwa ia juga membunuh Ny. Mangku Siswoyo di bawah pohon mangga rumah lamanya. Saat petugas menggali lokasi itu, tulang-belulang ditemukan.
Warga sekitar berbisik ketakutan. “Kami sering dengar suara aneh dari rumah itu dulu,” kata seorang ibu tua. Pembunuhan Kebayoran 1966 pun menjadi perbincangan nasional.
Yang lebih mengerikan, Aminah tertawa saat mengaku telah membunuh tiga anak angkatnya, termasuk Sumarni. “Dia tertawa, seperti tidak merasa bersalah,” ujar seorang saksi. Polisi kemudian memeriksakan kondisi kejiwaannya.
Ahli menyebut ia mengidap hipertensi exploitive—dalam keadaan terdesak bisa melakukan aksi nekat demi memuaskan ego. Legenda pembunuh wanita Jakarta itu melekat kuat. Sungai tempat jasad ditemukan kini seolah menyimpan gema masa lalu. “Kadang kalau malam, saya dengar suara perempuan menangis dari arah sana,” kata seorang penjaga malam.
Kasus mutilasi Kebayoran Baru meninggalkan trauma mendalam. Rumah lama Aminah menjadi kosong dan dihindari warga. Anak-anak dilarang bermain di dekatnya.
“Sejak kejadian itu, kawasan ini tak pernah sama,” ujar Pak RT setempat. Meski waktu berlalu, Misteri Drakula Kebayoran Baru 1966 tetap hidup dalam ingatan kolektif.
Setiap kali hujan turun dan sungai meluap, warga teringat kembali pada kisah gelap yang pernah mengguncang ibu kota—tentang kecantikan yang menyembunyikan ambisi, tentang bisikan yang menyesatkan, dan tentang tawa dingin yang masih terngiang dalam sunyi malam Jakarta.
Redaksi Energi Juang News



