Energi Juang News,Bogor-Wawan,26, seorang penulis malam itu begadang menulis di malam sepi ketika suara benda jatuh dari pohon kelapa dan tangisan misterius terdengar dari rumpun bambu. Ketakutannya memuncak melihat bayangan hitam melesat cepat di kegelapan. dan, bisikan menyeramkan terdengar tepat di telinganya, meski tak ada siapa pun di sana pada malam itu sendiri.
Kala mood menulis ada Wawan memilih tempat yang sunyi, di mana pikiran bisa mengalir tanpa gangguan. Itulah sebabnya
Ia memilih tempat baru di sudut kecil di belakang rumah. Sebuah ruang terbuka yang dikelilingi pohon bambu, jati, kelapa, dan alpukat yang tumbuh liar seperti tak pernah dijamah waktu.
Di pagi hari, tempat didaerah Bogor itu seperti potongan surga yang jatuh ke bumi. Namun, malam mengubah segalanya. Malam pertama Wawan mencoba menulis di sana, Wawan datang dengan penuh semangat. Setelah istri dan anakku tertidur, Wawan membawa laptop dan secangkir kopi hangat. Udara malam terasa sejuk, sedikit lembap, tapi masih nyaman. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya menjadi teman yang tak mengganggu.
Wawan mulai menulis. Awalnya, semuanya biasa saja. Sesekali terdengar kendaraan melintas, meski semakin lama semakin jarang. Jalan raya perlahan sepi, seolah dunia di luar sana ikut terlelap. Hanya Wawan yang masih terjaga.
Lalu, sesuatu berubah. Wawan mendengar suara “duk” keras dari arah pohon kelapa. Seperti sesuatu jatuh dari ketinggian. Wawan menoleh cepat, mencoba menangkap bayangan di antara gelap, tapi tak ada apa-apa. Hanya daun-daun yang bergoyang pelan.
“Mungkin buah kelapa,” gumamku, mencoba menenangkan diri.
Wawan kembali menatap layar.
Beberapa menit berlalu, lalu terdengar suara lain. Pelan, nyaris seperti angin tapi bukan.
Suara itu adalah suara tangisan, datang dari semak-semak bambu.
Wawan membeku. Tangisan itu lirih, seperti seseorang menahan sakit. Kadang terdengar seperti anak kecil, kadang seperti perempuan dewasa. Tak jelas. Suaranya bergetar, naik turun, dan terlalu dekat.
Wawan menahan napas. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Ini cuma perasaan,” kata Wawan dalam hati, meski tubuhnya mulai dingin.
Tapi suara itu tidak berhenti. Justru semakin jelas.Seperti melafalkan sesuatu mantra kejawen, seolah meminta wawan menulisnya.
Wawan berfikir apakah mungkin sosok itu ingin menyampaikan pesan untuknya yang berbeda alam, atau bentuk peringatan padanya untuk tak mengusik.
Wawan perlahan menoleh ke arah rumpun bambu. Gelap di sana terasa lebih pekat, seperti menelan cahaya. Angin tiba-tiba berhembus, membuat batang-batang bambu berderit saling bergesekan.
Lalu, sesuatu melesat sangat cepat. Seperti bayangan hitam yang terbang dari satu pohon ke pohon lain. Wawan hanya sempat melihat sekilas, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya kaku. Itu bukan burung. Terlalu besar. Tidak wajar.
Laptopnya masih menyala, tapi Wawan tak lagi peduli pada tulisan.
Tangisan itu tiba-tiba berhenti. Sunyi. Sunyi yang terlalu sunyi. Justru itu yang paling menWawantkan.
Wawan berdiri perlahan. Kakiku terasa berat, seperti ada yang menahan. Saat Wawan hendak melangkah pergi, terdengar suara di belakangku. Sangat dekat.
Suara itu berbisik tepat di telingWawan. Wawan tersentak dan menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.
Tapi Wawan bisa merasakan sesuatu berdiri di sana. Sangat dekat. Terlalu dekat. Napasnya seperti menyentuh tengkukku. Dingin, basah, dan bukan milik manusia.
Tanpa berpikir panjang, Wawan meraih laptop dan berlari. Wawan tak menoleh lagi. Suara langkah kakiku di tanah terdengar seperti gema yang memantul di kepalWawan sendiri. Wawan masuk rumah, menutup pintu, dan menguncinya dengan tangan gemetar.
Malam itu, Wawan tidak berani kembali. Wawan pilih berbaring di samping istri dan anakku, mencoba memejamkan mata. Tapi sebelum Wawan benar-benar tertidur, Wawan mendengar sesuatu dari luar jendela kamar.
Ketukan pelan, “Tok… tok… tok…”
Lalu, suara yang sama, lebih lirih, lebih dekat.
“Akhhhhhhh…..”
Sejak malam itu, Wawan tak pernah lagi menulis di belakang rumah saat gelap. Karena Wawan tahu, tempat itu bukan milikku seorang. Tetapi, ada yang lain, dan ia tahu Wawan pernah mendengarnya.
Redaksi Energi Juang News



