Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKlakson Ketiga di Terowongan Casablanca

Klakson Ketiga di Terowongan Casablanca

Energi Juang News,Jakarta-Malam itu Jakarta terasa berbeda. Bukan karena hujan, bukan pula karena kemacetan yang tak biasa. Ada sesuatu yang lebih pekat, seperti udara yang menahan napas. Ardi,29, baru saja pulang dari kantor di kawasan Kuningan. Jam menunjukkan pukul 01.20 dini hari, waktu di mana jalanan mulai lengang dan lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Ia mengemudi sendirian ingin segera sampai rumahnya karena lelah. Pilihan tercepat adalah terowongan Casablanca.

Ardi sempat ragu. Bukan tanpa alasan—ia sudah berkali-kali mendengar cerita dari rekan kerja dan warga sekitar. Tapi rasa lelah lebih dominan daripada rasa takut. Ia menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil menuju jalan yang mengarah ke terowongan itu.

Beberapa hari sebelumnya, Ardi sempat berbincang dengan Pak Rojak, seorang penjaga parkir yang sudah puluhan tahun bekerja di kawasan itu.

“Mas Ardi, kalau lewat situ malam-malam… jangan lupa klakson tiga kali,” kata Pak Rojak sambil menatap serius.

“Ah, mitos ya, Pak?” jawab Ardi sambil tertawa kecil.

Pak Rojak menggeleng pelan.

“Bukan sekadar mitos. Dulu ada orang gantung diri di sana. Pakai kain handuk. Katanya… sampai sekarang belum pergi.”

Ardi hanya tersenyum, menganggap itu sekadar cerita lama yang dibesar-besarkan.

Namun Pak Rojak melanjutkan dengan suara lebih lirih:

“Dan… ada yang lebih parah. Kuntilanak merah. Banyak yang lihat. Biasanya muncul kalau orang lewat tanpa permisi.”

Lampu jalan mulai redup saat Ardi mendekati mulut terowongan. Bayangan beton panjang itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang masuk.

Ia menarik napas panjang.

“Ah, cuma cerita…” katanya mencoba meyakinkan diri.

Baca juga :  Sarinten, Sinden Gaib yang Merasuki Jiwa Pemerannya

Mobilnya melaju masuk.

Suasana langsung berubah. Suara mesin menggema, dinding terowongan memantulkan setiap getaran. Lampu kuning temaram membuat bayangan bergerak tidak wajar.

Tiba-tiba lampu mobilnya berkedip.

“Loh?”

Radio mati sendiri, Ardi mulai merasa tidak nyaman.

Di kaca spion, ia melihat sesuatu, seperti… bayangan menggantung. Iapun langsung menoleh ke belakang, yang membuat heran tak ada siapa siapa dibelakang. “Kosong?? atau halusinasi ya?” gumamnya.

Namun saat kembali melihat spion, bayangan itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas—seorang pria paruh baya dengan leher terkulai, tergantung, wajahnya pucat kebiruan.

“Anjir…!” Ardi spontan menginjak gas.

Di tengah kepanikan, Ardi teringat ucapan Pak Rojak ia membunyikan klakson tiga kali.

Tangannya gemetar sambil ia mencoba menekan klakson,tapi mobilnya tidak merespons.

“Kenapa sih?!”

Bayangan di spion kini seperti semakin dekat.

Lalu tiba-tiba Tok… tok… tok… Ada suara ketukan dari kursi belakang membuat Ardi membeku.

“Siapa…?” suaranya hampir tak terdengar.

Tak ada jawaban tapi hanya napas dingin yang terasa di tengkuknya.

Ketika Ardi hampir mencapai ujung terowongan, sesuatu melintas cepat di depan mobilnya.

Ia refleks mengerem di tengah jalan… berdiri sosok perempuan.

Rambut panjang terurai. Gaun merah menyala. Wajahnya pucat, tapi bibirnya merah pekat seperti darah. Sosoknya seperti Kuntilanak merah, sosok Perempuan itu menunduk, lalu perlahan mengangkat kepalanya.

Tatapan matanya kosong dan senyumnya… terlalu lebar takut Ardi terpaku.

Perempuan itu tiba-tiba menghilang.

Lalu muncul di samping jendela mobilnya. “Kenapa… tidak permisi…?” bisiknya. mendengar itu Ardi menjerit dan menutup mata.

Keesokan harinya, Ardi ditemukan pingsan di dalam mobilnya di pinggir jalan setelah keluar dari terowongan,ia dibawa ke warung terdekat.

Bu Siti, pemilik warung, berkata:“Sudah sering kejadian begini. Banyak yang kerasukan, banyak yang lihat yang aneh-aneh.”

Baca juga :  Kerajaan Kera Ghaib Yang Menyeramkan di Pemandian Wendit

Seorang ojek online yang ikut mendengar cerita itu menimpali: “Saya pernah lihat, Mbak. Cewek merah itu duduk di pembatas jalan. Saya klakson tiga kali, dia hilang.”

Pak Rojak yang datang kemudian hanya menghela napas. “Saya sudah bilang, Mas… tempat itu bukan sembarang jalan.”

Sejak kejadian itu, Ardi tidak pernah lagi melewati terowongan Casablanca pada malam hari.

Beberapa pengendara mengaku melihat sosok pria menggantung saat melintas. Ada pula yang mengaku mendengar suara tangisan perempuan di dalam terowongan, padahal jalanan sepi.

Yang paling sering penampakan kuntilanak merah.

Dan satu kesamaan dari semua cerita itu mereka yang tidak membunyikan klakson tiga kali… selalu mengalami sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Terowongan Casablanca tetap menjadi jalur penting di Jakarta. Ribuan kendaraan melintas setiap hari tanpa gangguan.

Namun saat malam tiba, cerita berubah.

Apakah semua ini hanya sugesti?

Ataukah memang ada sesuatu yang tertinggal… sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi?

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadi
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments