Energi Juang News,Paciten-Rombongan siswa SMU yang sedang dharmawisata ke goa Gong Pacitan, mereka berasal dari sebuah sekolah di Jakarta. Setelah mengadakan penjalanan dari Wonogiri ke Pacitan memakan waktu sekitar 1 jam menggunakan mobil, mereka berniat istirahat di lokasi wisata selanjutnya.
Karena sudah sore tiba di obyek wisata yang dituju, mereka langsung bergegas memesan ojek menuju gerbang tiket Goa Gong. Jarak dari parkiran mobil menuju gerbang tiket sekitar 1 Km, dapat ditempuh dengan jalan kaki atau menggunakan ojek yang kebanyakan dilakoni warga setempat.
Dari gerbang tiket menuju bibir Goa masih 300 meter lagi, jalanannya berupa tangga naik turun dan dihiasi banyak pedagang menawarkan cinderamata khas Goa Gong.
“Jangan bicara sembarangan di tempat orang lain, kalian hanya tamu,” warga setempat mengingatkan.
Tapi Wiji salah satu peserta tidak ikut menuruni Goa. dengan alasan malas, ditambah suasana goa yang panas dan sempit.
Goa ini memiliki pintu masuk dan pintu keluar yang sama, hanya dibatasi tali untuk pembeda.
Teman teman Wiji berniat turun ke goa itu.Tapi karena lelah, setelah teman temannya turun Wiji berinisiatif mencari tempat duduk. Tapi saat mencari duduk disekitar mulut goa, tiba tiba ia merasa diikuti wanita paruh baya yang ia juga belum kenal.
Sosok wanita paruh baya itu tampak kurus dan bermata celong. Tak canggung iapun menyempatkan berbincang dengan wanita itu.
Seraya melempar senyum Wiji membuka obrolan, “Ibu darimana?,” tanyanya.
“Saya dari dari sekitar sini nak, kisanak dari mana?,” jawabnya balik bertanya.
“Saya dari Jakarta bu, tadi habis dari tempat wisata di Wonogiri, jadi sekalian mampir ke Goa ini. Oya, ibu ga ikut turun?,” timpal Wiji.
“Nggak nak, kaki saya udah nggak kuat hehe maklum sudah tua. Kamu sendiri ga ikut turun?,” jawabnya.
“Nggak bu, saya males hehe, Goanya panas terus sumpek, nggak kaya Goa Jatijajar yang di Purwokerto, disitu mah adem, tempatnya juga lebar, nggak sempit kaya Goa ini,” jawab Wiji seraya memandangi seisi Goa. Sore itu atau sekitar pukul 17:00 WIB, orang-orang mengantri menaiki tangga, Wiji mengamati satu per satu temannya yang naik.
Saat mengamati lalu lalang orang, Wiji dikagetkan suara lelaki yang ternyata penjaga goa. “Kamu nunggu siapa disini? Di bawah sudah kosong ndak ada orang,” kaget bukan main Wiji mendengarnya.
“Saya masih nunggu teman teman saya pak, mereka masih di bawah kayaknya, karena saya belum lihat mereka naik,” jawab Wiji sambil menahan keherananya. Perasaanya makin berkecamuk saat mencoba menghubungi temannya. Ternyata tak ada sinyal.
“Ya sudah saya bantu cari lagi di bawah ya , kamu tenang dulu,” jawabnya sambil mencoba menenangkan Wiji.
Penjaga itu belum naik, tiba-tiba Eric salah satu temannya datang sambil mengomel. “Kemana aja kamu, aku cariin, kirain udah duluan ke parkiran,” tanya dia.
Wiji yang tak bingung menjawab. “Daritadi aku duduk disini, nggak kemana-mana, aku juga nggak lihat kalian naik,” jawabnya.
“Ditelfon nggak aktif, dichat juga cuma centang satu,” timpal Eric lagi. Wiji pun diam.
Hari sudah hampir gelap, kami memutuskan untuk langsung naik ojek kembali ke parkiran mobil. Dalam perjalanan pulang, Wiji menceritakan bahwa ia benar-benar tak melihat mereka keluar.
Seperti ada dinding kamuflase antara Wiji dan rombongan, seolah Wiji dibawa kealam lain hingga tak terlihat oleh Eric temannya.
Saat diperjalanan pulang Wiji meyakinkan kembali ke Eric bahwa ia sebenar-benarnya juga tak melihat rombongan keluar dari dalam Goa. Hening menyeruak seisi mobil, disertai bulu kuduk seisi mobil merinding.
Sembari merebahkan badan di jok mobil, sejenak Wiji ingat kembali kejadian sore itu.
Tangga yang ada di dalam Goa sangat sempit, tidak ada sela untuk menyelak. Datang sosok ibu ibu paruh baya duduk bareng dibibir goa itu. Tetapi Wiji baru menyadari bahwa ruang itu kosong dan hitam gelap.
Saat itu pikirnya teman temannya masih di bawah untuk berfoto. Ternyata tidak. Sampai kini Wiji pun tak menemukan jawaban, apa di balik kosong dan hitam yang menutupi pandangannya kepada temannya, begitu pun sebaliknya.
Wiji pun mulai bertanya dalam hati, terus siapa wanita paruh baya yang mengajaknya ngobrol dari tadi?
Bulu kuduk Wijipun meremang seketika, jangan jangan itu sosok penunggu Goa itu yang menyamar sebagai wanita paruh baya.
Rasa takut itu ia bawa hingga acara wisata itu berakhir sampai di jakarta,ia tak menceritakan kepada seorangpun kejadian itu.
Redaksi Energi Juang News



