Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaGedung Kantor Arwah Saksi Kerusuhan Mei 98 yang Menghantui Siapapun Yang Berani...

Gedung Kantor Arwah Saksi Kerusuhan Mei 98 yang Menghantui Siapapun Yang Berani Menjelajahi

Energi Juang News, Jakarta– Ungaran, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, menyimpan kisah kelam di sebuah bangunan tua yang terletak di sudut jalan utama. Ruko itu tampak seperti bangunan biasa dari luar, namun memiliki aura yang membuat siapa pun enggan menatapnya terlalu lama. Gabungan dua bangunan lama itu membentuk satu gedung besar, sepi, dan seperti ditinggalkan waktu. Tidak banyak kendaraan melintas di area tersebut, dan toko-toko di sekelilingnya pun tampak terbengkalai. Namun tak banyak yang tahu, gedung itu menyimpan cerita yang membuat bulu kuduk berdiri bagi siapa pun yang nekat masuk.

Pagi itu, suasana di dalam kantor terasa sunyi sekali. Soni dan rekan-rekannya memasuki gedung dengan langkah pelan, merasakan hawa dingin yang tidak biasa. Mereka disambut oleh Pak Andre, supervisor kantor yang dikenal tenang namun tidak banyak bicara. “Di sini memang tidak ada sistem lembur,” ujar Pak Andre dengan nada datar, setelah melihat wajah penasaran Soni. Belum sempat pertanyaan itu dicerna, seorang wanita tiba-tiba berlari dari arah luar sambil muntah-muntah di depan pintu. Sesosok pria asing tampak mengikutinya dari belakang, namun segera menghilang di antara bayangan lorong.

Sore harinya saat pulang, rasa penasaran Soni semakin besar. Saat hendak meninggalkan gedung, ia menoleh ke lantai dua. Di sana, terlihat sosok hitam duduk di balkon dengan postur membungkuk. Kulitnya tampak melepuh dan penuh luka, seperti habis terbakar. Sosok itu tersenyum padanya yaitu senyum yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Gigi-giginya tajam, matanya kosong tak berjiwa. Dalam sekejap, Soni menarik temannya dan mengajak mereka pergi tanpa sepatah kata. Ketika ia menoleh kembali, sosok itu telah menghilang, seolah hanya halusinasi. Tapi perasaan takut itu nyata, terlalu nyata.

Baca juga :  Gamelan dari Dasar Air Terjun Sri Gethuk

Sejak malam itu, Soni tidak bisa tidur nyenyak. Mimpi buruk menghantui malamnya: suara langkah kaki, bisikan asing di telinga, dan bayangan hitam yang berdiri di ujung tempat tidurnya. Ia mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menghuni gedung itu? Apakah ada sejarah kelam yang tak diketahui para karyawan baru seperti dirinya? Suatu malam, Budi—rekan satu tim Soni—berniat masuk ke ruangan admin untuk mengambil dokumen penting. Tapi apa yang ditemuinya jauh dari sekadar dokumen.

Di dalam ruangan itu, Budi mendapati sosok-sosok yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Seorang pria dengan wajah yang hanya tinggal separuh, tulangnya menyembul dari pipi kirinya. Makhluk kerdil bertangan panjang mengintip dari bawah meja, dengan kuku yang hampir menyentuh lantai. Yang paling mengerikan adalah setengah tubuh pria yang berjalan dengan satu kaki, menyeret dirinya perlahan ke arah Budi. Nafas Budi tercekat, keringat dingin membanjiri wajahnya. “Astaghfirullah… apa ini…,” gumamnya sambil mundur perlahan, hingga akhirnya berlari keluar tanpa menoleh ke belakang.

Keesokan harinya, suasana kantor berubah drastis. Banyak yang membicarakan kejadian aneh semalam. Seorang ‘orang pintar’ didatangkan atas saran warga sekitar. Ia menyarankan agar dua sajen diletakkan di dua sudut kantor sebagai bentuk ‘kesepakatan’ dengan penghuni lama tempat itu. “Ini bukan arwah biasa,” ucapnya pelan, “Ini adalah sisa dendam kerusuhan besar dulu. Mereka mati tidak tenang.” Sejak sajen diletakkan, kejadian horor mulai mereda, namun tidak benar-benar hilang.

Soni, yang masih penasaran, akhirnya mendatangi Pak Samiaji—mantan pegawai lama yang dulu bekerja sebelum kantor itu direnovasi. Di warung kecil pinggir jalan, Soni bertanya langsung. “Pak, memangnya ada apa sih dulu di kantor itu?” Pak Samiaji menghela napas panjang. “Itu tempat pembantaian tahun 98, Nak. Banyak orang dibakar hidup-hidup di sana. Mereka tidak pernah benar-benar pergi.” Kata-kata itu menggantung di udara, membuat Soni terdiam. Rasa dingin menjalari tengkuknya.

Baca juga :  Dua Perangai Leak yang Menakutkan

Beberapa warga sekitar yang sempat ditanya pun membenarkan. “Dulu, tiap malam Jumat Kliwon, suara teriakan itu kedengaran sampai sini,” kata Bu Narti, pedagang warung dekat ruko. “Kadang ada suara orang lari-lari di lantai dua, padahal kosong.” Seorang satpam yang pernah bertugas di area itu juga bersaksi. “Saya lihat sosok wanita berbaju putih berdiri di tangga. Tapi pas saya senter, hilang. Dua kali saya lihat dia,” katanya sambil menatap kosong. Cerita-cerita itu akhirnya membuat Soni yakin: apa yang dia alami bukan mimpi buruk belaka.

Kini, meski gedung itu masih berdiri, tak ada satu pun kantor yang bertahan lama di dalamnya. Setiap bisnis yang buka selalu berakhir dengan bangkrut atau ditinggal karyawannya karena ketakutan. Sosok-sosok menyeramkan yang dulunya adalah korban kerusuhan, kini menjadi penjaga tak kasat mata yang terus menghantui siapa pun yang berani mengusik mereka. Kantor itu bukan sekadar tempat kerja namun ia adalah saksi bisu dari tragedi kemanusiaan yang tak pernah dituntaskan secara spiritual.

Sebagai penutup, Soni hanya bisa mengingatkan satu hal kepada siapa pun yang berniat datang ke tempat itu. “Kalau kalian tidak kuat iman, jangan coba-coba kerja di sana. Arwah mereka belum tenang, dan kita bukan siapa-siapa untuk mengusik mereka.” Dan bagi sebagian orang, mungkin tempat itu hanyalah bangunan tua. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami sendiri, gedung kantor itu adalah neraka yang berdiri di dunia nyata.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments