Energi Juang News, Sukabumi–Di wilayah pegunungan Sukabumi yang tenang, kepercayaan terhadap makhluk halus bukan sekadar cerita pengantar tidur. Larangan untuk tidak keluar rumah saat waktu maghrib masih sangat dijaga oleh para orang tua. Hal ini bukan hanya karena alasan agama atau keamanan biasa, melainkan karena kepercayaan lama yang telah mengakar kuat: Sandekala. Makhluk ini diyakini muncul menjelang malam, saat cahaya matahari tenggelam dan azan mulai berkumandang, mengambil bentuk yang bisa membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
Sandekala digambarkan sebagai sesosok ibu ibu perempuan bertubuh besar, berambut panjang, dengan wajah menyeramkan yang menyeringai lebar. Ia dipercaya datang dengan angin yang bertiup kencang dan suasana langit yang tiba-tiba berubah menjadi kelam, bahkan saat matahari belum benar-benar tenggelam. Menurut warga, terutama yang tinggal di pinggiran hutan atau dekat sawah, kehadiran Sandekala bisa dirasakan lewat hawa dingin yang mendadak menyusup ke tubuh. “Langit langsung gelap, angin gede banget. Seperti ada yang ngintip dari semak-semak,” kata Pak Ardi, warga kampung Cibuntu. Ia mengaku pernah melihat bayangan besar berdiri diam di antara pohon pisang belakang rumahnya saat maghrib.
Cerita paling menyeramkan terjadi pada Kang Nana, seorang pedagang cilor keliling yang setiap sore biasa mangkal di sekitar taman kota. Malam itu, ia pulang lebih larut dari biasanya karena banyak anak-anak yang jajan. Saat hendak melintasi gang sempit menuju rumahnya, ia merasa seperti dibuntuti sesuatu. Angin tiba-tiba berhenti dan semua suara menjadi hening. Tak ada suara jangkrik, tak ada suara kendaraan. Saat ia menoleh ke belakang, terlihat sesosok perempuan besar dengan rambut menjuntai hingga tanah. Wajahnya pucat, matanya menatap kosong, dan mulutnya menyeringai lebar memperlihatkan deretan gigi tajam yang tidak manusiawi.
Kang Nana panik. Ia menjatuhkan gerobaknya dan berlari sekuat tenaga. Tapi suara tawa perempuan itu justru makin dekat di belakangnya. “Gue gak berani lihat lagi, tapi langkah kakinya kayak berat, kayak bumi diguncang tiap dia jalan,” katanya gemetar saat bercerita kepada tetangga esok harinya. Warga kemudian bersama-sama menenangkan Kang Nana dan mengadakan pengajian malam itu. “Bukan pertama kalinya sih kejadian begini. Dulu juga pernah ada anak kecil hilang sebentar lalu ditemukan di dekat kali, katanya dibawa sama wanita besar,” timpal Bu Euis, seorang warga yang sudah tinggal puluhan tahun di daerah itu.
Mitos Sandekala tak pernah benar-benar hilang dari memori masyarakat Sunda. Meski sebagian menganggapnya hanya dongeng, banyak yang percaya bahwa makhluk ini adalah manifestasi dari roh halus yang mengintai saat waktu transisi antara terang dan gelap. Anak-anak paling rentan menjadi sasaran. Itulah sebabnya orang tua melarang keras bermain di luar rumah saat waktu maghrib. “Kalau sudah azan, semua harus masuk rumah. Jangan nunggu dipanggil Sandekala,” begitu pesan almarhum nenek Kang Nana yang kini diwariskan turun-temurun.
Keberadaan Sandekala dipercaya sebagai bagian dari keseimbangan antara dunia manusia dan makhluk gaib. Ketika aturan adat dilanggar, terutama yang berkaitan dengan waktu-waktu keramat seperti maghrib, maka gangguan akan datang. Banyak warga yang kini mulai menghidupkan kembali kebiasaan lama: membacakan doa-doa perlindungan saat matahari mulai turun dan menyalakan lampu rumah lebih awal agar tidak ada ruang gelap yang bisa menjadi pintu masuk bagi makhluk halus. “Kami tidak mau ambil risiko. Percaya atau tidak, yang penting waspada,” ucap Pak Deni, ketua RT setempat.
Di sekolah-sekolah dasar di Sukabumi, guru-guru bahkan mulai memasukkan cerita rakyat tentang Sandekala dalam materi pelajaran muatan lokal. Tujuannya bukan menakut-nakuti, tapi membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga waktu dan tradisi. “Ini bagian dari budaya kita, bukan cuma cerita horor. Anak-anak juga jadi lebih disiplin pulang tepat waktu,” kata Bu Retno, guru SDN 03 Sukabumi. Ia percaya bahwa mengajarkan mitos ini juga melestarikan nilai-nilai lokal yang sudah hampir punah.
Namun tak semua warga bisa tidur nyenyak. Sejak kejadian yang menimpa Kang Nana, desas-desus muncul bahwa Sandekala sedang “berkeliaran” kembali karena ada pelanggaran adat atau ketidakseimbangan spiritual di desa itu. Beberapa warga mengaku melihat bayangan tinggi melintas cepat di antara rumah-rumah saat senja. Bahkan, seekor kambing ditemukan mati mendadak tanpa luka, hanya mata terbuka lebar seolah melihat sesuatu yang tak bisa dijelaskan. “Ini bukan biasa. Kami sudah panggil tokoh adat untuk lakukan penyeimbangan alam,” ujar Pak Ujang, seorang tokoh masyarakat.
Legenda Sandekala bukan hanya tentang sosok hantu perempuan menyeramkan, tapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat Sunda menghormati waktu, terutama waktu transisi yang dianggap sakral. Dalam balutan mitos, terdapat nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kisah Kang Nana hanyalah salah satu dari sekian banyak pengalaman nyata yang memperkuat keyakinan bahwa mitos ini bukan sekadar dongeng kosong. Karena sampai hari ini, ketika langit mulai menggelap dan angin bertiup lebih kencang dari biasanya, tak satu pun anak kecil di kampung itu yang berani bermain di luar rumah.
Redaksi Energi Juang News



