Energi Juang News,Kediri– Di lereng Gunung Bromo, terdapat sebuah desa kecil yang masih memegang teguh adat dan budaya Jawa. Kehidupan warga berjalan tenang, namun sejak beberapa bulan terakhir, suasana berubah mencekam. Warga desa mulai gelisah karena beras dalam pendaringan—tempayan kecil tempat menyimpan beras mereka
sering berkurang tanpa sebab. Bukan karena tikus, bukan pula karena dicuri
manusia. Tapi sesuatu yang tak terlihat.
Pak Saiman, salah satu warga tertua di desa itu, pertama kali merasakan kejanggalan. Setiap sore ia mengisi penuh pendaringannya dengan beras hasil panen. Namun keesokan paginya, jumlahnya selalu berkurang. Tidak pernah ia menemukan jejak pencuri ataupun tanda-tanda beras tercecer. Hingga suatu malam Jumat Kliwon, saat ia memutuskan untuk berjaga, ia menyaksikan sesuatu yang mengubah hidupnya.
Sekitar pukul tiga lewat tiga puluh pagi,Pak Saiman terbangun dari tidur dan mencium aroma pandan melintas hidungnya, Tak lama “Blek… Blek… Blek…” suara terdengar dari atap rumah. Bukan suara biasa lebih mirip kepakan sayap burung besar yang berat dan berulang. Ia mendongak, jantungnya berdegup kencang. Pak Saiman segera berlari keluar kamar
menuju ruang tengah, memastikan sosok apa yang hinggap diatas rumahnya. Belum
sempat keluar rumah, ia mendengar suara derap langkah berat terdengar mengelilingi rumah diiringi getaran hebat. Dengan rasa takut, Pak Saiman mencoba mengintip dari balik celah jendela.
Apa yang ia lihat bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika. Di bawah cahaya bulan yang temaram, terlihat sosok bayangan besar berbulu, matanya menyala merah. Makhluk itu tampak seperti burung raksasa, namun berdiri dengan dua kaki menyerupai manusia. Paruhnya runcing dan tajam, kepalanya menoleh cepat ke arah jendela tempat Pak Saiman bersembunyi. Mereka saling bertatapan. “Gusti… Iki keblek!” gumam Pak Saiman dengan suara gemetar.Kalau diamati dengan cermat sosok hantu keblek diwujudkan manusia bertubuh besar namun punya sayap dengan badan gelap.
Warga sekitar pun sudah mulai menduga bahwa ini bukan pencurian biasa. Menurut kepercayaan Jawa, keblek adalah makhluk jejadian (lelembut) yang biasa dipelihara oleh orang-orang yang menjalani pesugihan. Tugas keblek
adalah mencuri beras untuk diberikan kepada tuannya. “Kami percaya, jika suara ‘blek-blek’ itu terdengar, itu tandanya keblek datang,” jelas Mbah Sarti, seorang tetua desa. “Langsung tutup pintu dan periksa pendaringan. Itu yang kami lakukan sejak lama.”
Ibu Rini, tetangga Pak Saiman, juga mengalami hal serupa. “Malam itu saya dengar suara seperti burung hantu besar di atap, tapi lebih berat. Saya kira hanya mimpi. Tapi pagi harinya, pendaringan saya bersih. Tidak ada sisa beras, padahal malamnya masih penuh,” ceritanya sambil menunjukkan tempayan tua yang kini ia gembok dengan rantai kecil. Tapi menurut kepercayaan warga, gembok pun tak ada gunanya jika keblek sudah mengincar.
Pak Saiman merasa teror itu semakin menjadi-jadi. Setiap malam Jumat Kliwon, suara aneh itu kembali terdengar. Meski sudah menaruh sesajen dan membaca doa-doa, sosok keblek tetap datang. Ia bahkan pernah mendengar suara napas berat di balik dinding kamarnya. Bau amis menyengat
memenuhi udara. “Saya pernah coba membaca ayat kursi keras-keras, tiba-tiba ada angin besar menerpa jendela. Piring-piring jatuh sendiri,” katanya.
Akhirnya, warga desa sepakat melakukan bersih desa. Upacara adat diadakan di pelataran balai desa, dipimpin oleh dukun kampung. Sesajen dari berbagai jenis makanan dan bunga dipersembahkan. Harapannya, keblek itu tidak lagi datang mengganggu. Namun, seperti yang dikatakan Mbah Sarti, “Kalau ada satu yang masih pelihara, dia akan terus kembali. Tidak akan pernah benar-benar pergi.”
Sejak malam upacara itu, suasana desa mulai tenang. Tapi bukan berarti ancaman sudah hilang. Setiap kali terdengar suara “Blek… Blek…” dari kejauhan, warga langsung saling pandang dan buru-buru menutup pintu rumah mereka. Di balik keheningan malam, semua berharap makhluk itu tidak kembali memilih pendaringan mereka sebagai sasaran berikutnya.
Redaksi Energi Juang News
Keblek, Lelembut Pengoyak Pendaringan
RELATED ARTICLES



