Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaJumat Kliwon, Saat Terlambat Pulang

Jumat Kliwon, Saat Terlambat Pulang

EnergiJuangNews,Madiun- Langit malam tampak kelam. Tidak ada bintang, dan bulan pun tertutup awan. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya.Malam itu, ketika Damar memutuskan untuk pulang melewati jalan pintas di tengah kebun bambu, ia tak tahu bahwa malam itu adalah Jumat Kliwon.

Jam menunjukkan pukul 11 malam lewat sedikit saat Komar(24) keluar dari rumah temannya di dusun sebelah. Mereka baru saja menyelesaikan tugas kelompok, dan Komar memilih pulang lewat jalan pintas, melewati kebun bambu dan makam tua di tengah sawah. Lebih cepat sepuluh menit daripada rute biasa, katanya dalam hati.

Dalam gelap dan sunyi, ia mendengar suara-suara yang seharusnya tak ada. Namun lamat-lamat, lantunan kuno terdengar dari arah pohon beringin tua. Lampu motornya yang tadinya terang tiba tiba redup sendiri. Dan ketika ia menoleh ke kaca spion, ia tak pernah jadi orang yang sama. 

Daun bambu berbisik lirih ketika angin lewat, seperti seseorang yang menggumamkan doa dalam bahasa yang mulai jarang digunakan. Tapi Komar bukan orang yang gampang takut, karena jalan itu sudah tak asing baginya. Tapi biasanya ia melewatinya saat sore atau menjelang magrib, bukan larut malam seperti ini. Dan tentu saja ia lupa satu hal penting, Malam itu adalah Jumat Kliwon, suasana yang tadi hangat mendadak berubah sangat dingin.

Begitu ban motornya menyentuh tanah di kebun bambu, udara seolah berubah. Lebih dingin lebih senyap dan jangkrik yang biasa ramai tiba-tiba diam seolah angin terhenti. Suasana mencekam seperti itu tak membuat nyali Damar ciut.

Komar mempercepat laju motor, tapi lampu depan motornya mendadak meredup sendiri. Cahaya kuningnya hanya menjangkau semeter ke depan membuatnya mengernyit, menurunkan kecepatan, lalu mematikan mesin sebentar. Kerusakan motor yang disebabkan paparan energi negatif dari tempat sekitar tersebut. “Mungkin aki-nya ngaco,” Komar menerka nerka kerusakan motornya yang tiba tiba. Sambili mengawasi sekeliling barangkali ada binatang buas atau semacamnyayang mengancam keselamatannya.

Baca juga :  Menara Air UI: Kisah Urban Legend yang Mengintai Malam

Karena bengkel jauh Komar memaksa motornya hidup lagi dengan konsisi aki yang ada. Lalu ia menyalakan ulang motornya, lampu depan menyala lagi, tapi tidak seterang semula. Jalan di depan terlihat sama, terhalang bambu-bambu di kanan-kiri menjulang seperti bayangan hitam menari.

Saat Komar mulai merasa ada yang aneh ,bau wangi bunga melati tiba-tiba menyeruak tercium kuat Aroma wangi itu menusuk, seperti dituang langsung ke hidung. Padahal situasi ini tak masuk akal.

“Wangi kembang… kok malam-malam?” gumamnya. Ia mencoba menenangkan diri,tapi di tikungan dekat pohon jati besar ia melihat seorang perempuan berdiri memunggunginya. Rambutnya panjang hitam legam menjuntai ke bawah dengan pakaiannya putih lusuh terdiam hanya berdiri, tanpa berani menampakkan raut wajaknya.

Komar langsung membelok cepat ke kanan, menghindar tanpa menoleh. Tapi ia sempat melirik lewat kaca spion namun kosong. Namun beberapa detik kemudian, kaca spion sebelah kanan… berembun. Dan dari sudutnya, tampak bayangan hitam duduk di jok belakang.

Motor terasa lebih berat. Gas yang ia tarik tak sekuat sebelumnya. Seolah ada beban besar yang menghambat roda. Ketika ia mulai mendengar tarikan napas berat.

Panjang, berat, dan basah “Hemmm….. hrrghhh…….” Saking kaget dan takut menyatu Komar tiba tiba ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia melirik spion kiri. Masih kosong. Spion kanan?

Retak. Di balik retakannya, terlihat sepasang mata merah menatap lurus ke arahnya. Mata merah yang sedikit menyala mengarah ke mereka. Ketakutan Komar menarik gas sekencang-kencangnya. Tapi motor Komar malah mati total. Semuanya hening. Hanya detak jantungnya yang bergema di kepala.

Namun ternyata teror berlanjut. Lalu terdengar nyanyian.Suara perempuan. Lirih. Samar. Tapi nadanya tidak wajar. “Golekno aku neng njero… Aja ndhelik, aku ngerti…”

Baca juga :  Misteri Jembatan Talang dan Kerajaan Gaib Penarik Nyawa

Bahasa Jawa. Suaranya seperti dari mulut yang tidak lagi utuh. Nyanyian itu datang dari arah kiri. Komar menoleh perlahan tidak ada siapa-siapa.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments