Minggu, Maret 8, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBayang Raksasa di Oranje Nassau Pengaron

Bayang Raksasa di Oranje Nassau Pengaron

Energi Juang News, Kalsel– Sore di Desa Pengaron turun perlahan seperti asap tipis yang merayap dari celah tanah lembap. Jalan setapak menuju bangunan tua itu sunyi, hanya suara dedaunan kering yang saling bergesekan tertiup angin dari arah sungai. Langit berwarna tembaga, dan burung-burung terbang rendah seolah menghindari sesuatu yang tak terlihat. Di kejauhan, siluet bangunan peninggalan masa lalu berdiri kaku, dikelilingi semak liar dan pohon tua yang akar-akarnya menjalar seperti tangan yang menahan siapa pun agar tidak mendekat. Penduduk desa jarang melintas saat hari mulai gelap, bukan karena larangan, melainkan karena perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan.

“Dulu ada warga yang lihat sosok raksasa hitam di depan bangunan itu,” kata Pak Ridwan, pria paruh baya yang mengenakan gamis dan peci putih, saat duduk di teras rumahnya. Suaranya pelan, namun tegas. “Waktu itu menjelang senja. Dia mau ke sungai. Baru lewat jalan setapak… tiba-tiba makhluk itu berdiri di depan. Tingginya seperti pohon.” Ia berhenti sejenak, menatap jauh ke arah perbukitan. “Tanpa pikir panjang, dia lari terbirit-birit.”

Tempat yang dibicarakan warga adalah bekas tambang batu bara peninggalan Belanda yang juga pernah menjadi benteng pertahanan bernama Oranje Nassau. Bangunan tua itu berdiri tidak jauh dari permukiman, namun terasa terpisah oleh suasana yang berbeda. Dindingnya yang kusam menyimpan bekas waktu, sementara rongga-rongga gelap tampak seperti mata yang selalu mengawasi. Banyak warga percaya ada sosok penunggu yang tak pernah benar-benar meninggalkan tempat itu.

“Bukan sekali dua kali penampakan terjadi,” ujar Suman, warga yang rumahnya menghadap jalan menuju lokasi tersebut. Ia menuturkan kisah yang pernah mengguncang desa. Seorang tokoh lokal yang dikenal sebagai Guru Anang berencana membangun pabrik padi di seberang bangunan tua itu. Ia dikenal memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib. Sebelum pembangunan dimulai, Guru Anang sempat bertanya kepada para pekerja, “Kalian pernah diganggu sesuatu di sini?” Para pekerja menjawab tidak. Suasana saat itu terasa biasa saja.

Namun peristiwa aneh terjadi tak lama setelah ia pergi. Saat seorang pekerja sedang memasang atap bangunan, ia merasakan tepukan di bahunya. “Awalnya saya pikir teman,” kata pekerja itu kemudian kepada warga. Ketika menoleh, ia melihat tangan raksasa berwarna hitam menggenggam bahunya erat. Tubuhnya kaku, suaranya hilang. Makhluk itu tidak terlihat seluruhnya, hanya bayangan besar yang berdiri di belakang bangunan tua. Pekerja itu pingsan di tempat, dan setelah sadar, ia jatuh sakit berhari-hari.

“Setelah kejadian itu, dia tidak pernah kembali bekerja di situ,” kata Suman. “Katanya setiap malam dia mimpi didatangi bayangan besar yang berdiri diam di depan pintu rumahnya.” Cerita itu menyebar cepat di kalangan warga. Banyak yang semakin yakin bahwa bangunan peninggalan kompeni itu dijaga oleh makhluk gaib raksasa yang tidak menyukai kehadiran manusia.

Guru Anang kemudian kembali ke lokasi tersebut. Warga menyaksikan ia berdiri lama di depan bangunan, memandang ke arah pohon kariwaya besar yang tumbuh di atas struktur tua itu. “Di situlah tempat yang disukai jin,” katanya kepada beberapa warga yang mendekat. Beberapa hari kemudian, pohon itu disingkirkan. Setelah peristiwa itu, warga mengaku suasana di sekitar bangunan terasa berbeda, tidak sepekat sebelumnya.

Meski demikian, kisah lama tetap hidup di ingatan masyarakat. Seorang ibu tua pernah berkata kepada cucunya, “Kalau lewat sana, jangan berhenti lama-lama. Tempat itu pernah dijaga sesuatu yang tidak ingin dilihat manusia.” Beberapa warga mengaku masih merasakan hawa berat ketika melewati area itu pada malam hari, meskipun tidak lagi melihat penampakan.

Seiring waktu, kawasan tersebut mulai dibersihkan dan dikelola pemerintah daerah. Jalan setapak diperlebar, semak belukar dirapikan, dan pengunjung mulai berdatangan. Tempat yang dulu dihindari perlahan berubah menjadi lokasi yang ramai dikunjungi. Namun bagi warga lama, kenangan akan masa kelam itu masih terasa nyata. “Sekarang memang sudah tidak ada kejadian aneh,” kata Pak Ridwan. “Tapi orang yang pernah lihat… tidak akan lupa.”

Pada malam-malam tertentu, ketika angin berembus dari arah sungai dan langit dipenuhi awan tebal, beberapa warga mengaku masih merasakan sensasi aneh saat melewati kawasan itu. Tidak ada sosok yang terlihat, tidak ada suara yang jelas, namun perasaan diawasi muncul begitu saja. Seperti ada sesuatu yang pernah tinggal di sana dan belum sepenuhnya pergi.

Bangunan tua itu kini berdiri sebagai saksi masa lalu yang panjang, menyimpan lapisan sejarah dan cerita yang sulit dipisahkan. Di antara dinding yang telah lapuk, bayangan senja sering membentuk siluet besar yang seolah bergerak perlahan. Warga mungkin tidak lagi melihat sosok raksasa hitam itu, tetapi kisah tentang kehadirannya tetap hidup, beredar dari mulut ke mulut, seperti gema yang tidak pernah benar-benar menghilang dari Desa Pengaron

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments