Energi Juang News,Kuala Kapuas,- Malam itu, angin dari Sungai Kapuas bertiup lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu di kawasan Siring berpendar redup, memantul di permukaan air yang hitam pekat. Suasana yang biasanya dipenuhi tawa pengunjung mendadak berubah hening, seolah alam ikut menahan napas. Beberapa warga yang sedang duduk di bangku beton tiba-tiba berdiri, menatap ke arah pepohonan dengan wajah pucat dan sorot mata tak percaya.
Keributan bermula ketika seorang pria paruh baya berlari kecil sambil menunjuk ke arah pohon ketapang di tepi jalan. “Tadi itu, saya benar-benar ada melihat,” katanya dengan suara bergetar. “Tepat di pohon itu… lalu melayang ke pohon lainnya.” Beberapa orang mendekat, mengikuti arah telunjuknya, sementara yang lain memilih mundur, merapatkan jaket, seakan hawa malam merayap ke tulang.
Lampu senter mulai menyala satu per satu. Berkas cahaya menyisir dahan dan daun. Dari kejauhan, suasana tampak seperti perburuan senyap. “Banyak yang menyinari pohon pakai senter, tapi sudah tidak ada,” ujar Isal, seorang pemuda yang baru datang. “Sepertinya sudah pergi.” Kalimat itu bukannya menenangkan, justru membuat bisik-bisik makin liar.
Kejadian ini berlangsung pada Kamis malam, pada Mei 2025, di Obyek Wisata Siring, Jalan Cilik Riwut, Kuala Kapuas. Dalam hitungan menit, kabar menyebar dari mulut ke mulut. Warga berdatangan, sebagian penasaran, sebagian lagi dengan wajah tegang seolah mengingat cerita lama yang diwariskan orang tua mereka.
Di Kalimantan, kisah tentang misteri hantu kuyang bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah legenda yang hidup, dipercaya berakar dari manusia yang biasanya perempuan yang menempuh jalan gelap demi awet muda atau kekuatan. Dalam wujudnya yang paling mengerikan, makhluk ini digambarkan sebagai kepala melayang dengan organ dalam menjuntai, terbang bebas di malam hari, mengincar energi kehidupan dari yang lemah.
Warsi seorang ibu yang ikut menonton keramaian itu memeluk perutnya erat-erat. “Saya langsung merinding,” katanya lirih. “Orang tua dulu selalu bilang, kalau ada yang terbang malam-malam seperti burung besar, jangan dilihat lama-lama.” Ia menunduk, seolah takut tatapannya masih terhubung dengan sesuatu di kegelapan.
Menurut penuturan warga, sosok itu sempat terlihat seperti bayangan hitam yang bergerak cepat, nyaris menyerupai burung besar. Namun ketika cahaya senter menyentuhnya, bentuknya berubah—lebih kecil, lebih rendah, lalu lenyap di antara pepohonan. “Bukan burung,” tegas pria yang pertama berteriak tadi. “Geraknya aneh. Saya orang sini, tahu burung malam.”
Sebagai peneliti fenomena gaib, aku mencatat satu pola penting: waktu. Malam hari, terutama di kawasan yang dekat air dan pepohonan tua, sering disebut sebagai saat berburu makhluk ini. Musim ibu hamil juga kerap dikaitkan dengan meningkatnya penampakan. Tak heran jika ketakutan malam itu menjalar cepat.
Pro dan kontra pun muncul. Seorang pemuda bersuara lantang, mencoba rasional. “Mungkin cuma burung hantu atau kelelawar besar,” katanya. Namun ucapannya tenggelam oleh teriakan lain. “Kalau burung, kenapa orang tua-tua langsung pasang sapu lidi di rumah?” sahut Wardi seorang warga sambil menunjuk deretan rumah di seberang jalan.
Memang, malam itu beberapa warga langsung pulang untuk melakukan penangkalan. Di Kalimantan Tengah, cara-cara tradisional masih dipercaya ampuh: menggantungkan cermin atau benda tajam seperti gunting di rumah, menaruh bawang putih di sudut-sudut, atau meletakkan sapu lidi dekat pintu. Konon, pantulan dan aroma menyengat bisa mengusir makhluk yang haus darah.
Seorang kakek yang duduk di pinggir Siring berbisik padaku, “Kalau benar itu dia, tubuh aslinya pasti ditinggal. Biasanya di bawah pohon pisang.” Matanya menatap sungai, penuh keyakinan. “Kalau tubuh itu diserang benda tajam, dia tak bisa kembali.” Kalimatnya terdengar dingin, seperti fakta yang sudah diuji zaman.
Hingga larut malam, tak ada penampakan lanjutan. Keramaian perlahan bubar, menyisakan rasa penasaran dan ketakutan yang menggantung. Tidak ada keterangan resmi dari pihak berwenang, dan mungkin memang tak akan pernah ada. Fenomena seperti ini berada di wilayah abu-abu antara kepercayaan dan logika
Redaksi Energi Juang News



