Energi Juang News, Cirebon– Di sebuah kota kecil di Cirebon yang kerap diselimuti kabut tipis pada pagi hari, terdapat sebuah ruang penyimpanan tua yang jarang sekali dikunjungi orang. Ruangan itu awalnya hanyalah bagian dari bangunan lama yang terbengkalai, namun warga sekitar mulai memperlakukannya seperti tempat terlarang karena cerita-cerita yang beredar. Mereka sering berkata bahwa ada sesuatu yang tidak boleh disebut secara sembarangan, meski tidak menyebutkan secara jelas apa yang mereka maksud. Keheningan yang terasa di sekitar bangunan itu membuat siapa pun yang melintas merinding tanpa alasan yang jelas.
Pada suatu petang, seorang pemuda bernama Rafi memberanikan diri bertanya kepada warga tentang ruangan tua itu. Ia mendekati seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di warung. “Pak, kenapa orang-orang selalu menghindari bangunan itu?” tanyanya. Lelaki itu hanya menatap kosong sebelum menjawab, “Nak, ada hal-hal yang tidak ingin diingat, tapi juga tidak bisa dilupakan begitu saja.” Kalimat itu diucapkannya pelan, seolah takut jika ada sesuatu yang sedang mendengarkan. Suasana warung pun mendadak terasa lebih dingin dari biasanya.
Beberapa warga lain yang mendengar percakapan itu ikut mendekat dan saling berpandangan. Seorang ibu berkerudung berkata lirih, “Jangan banyak bertanya soal ruangan itu kalau bukan orang sini.” Ketika Rafi mendesak, seorang pemuda lain akhirnya berkata, “Kami hanya tahu bahwa sesuatu pernah terjadi di sana… sesuatu yang membuat banyak orang takut matahari terbenam.” Tak ada satu pun dari mereka yang menyebut nama atau benda apa pun, seakan itu adalah pantangan. Rafi pun merasa ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari orang luar.
Cerita kelam patung Perawan Sunti mulai terkuak saat seorang tetua desa akhirnya mau berbicara. Ia menjelaskan bahwa patung itu menggambarkan seorang perempuan yang mengalami kehamilan di luar pernikahan pada masa lalu, sebuah hal yang dianggap aib besar pada zamannya. Sosok perempuan tersebut kemudian melahirkan anak tanpa pernah diketahui siapa ayahnya, sehingga masyarakat selalu menganggap kelahirannya merupakan misteri yang hanya Tuhan yang mengetahuinya. “Patung itu bukan sekadar patung,” ujar tetua itu dengan suara gemetar, “ia adalah pengingat dari sebuah kisah yang seharusnya tidak terulang.”
Dalam penuturan tetua desa, arwah perempuan itu digambarkan sebagai sosok yang selalu menunduk dengan rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Aura gelap yang terpancar dari kisahnya membuat beberapa warga meyakini bahwa patung tersebut memiliki hubungan dengan roh asli sang perempuan. “Patung yang mengingatkan kami kisah yang sudah turun temurun tentang sosok Perawan Sunti ,” ujar seorang warga yang ikut mendengarkan, “kadang terdengar suara perempuan menangis dari balik dinding ruangan itu.” Rafi merasakan bulu kuduknya berdiri ketika melihat keseriusan wajah para warga.
Patung Perawan Sunti yang kini disimpan di ruangan khusus dulunya berada tepat di depan bangunan tua tersebut. Menurut warga, pemindahan itu dilakukan setelah beberapa kejadian yang membuat orang tidak berani keluar rumah di malam hari. Seorang penjual makanan yang tinggal tak jauh dari lokasi berkata, “Saya sering lihat bayangan seperti perempuan berdiri dekat patung itu. Tapi waktu saya dekati, hilang begitu saja.” Cerita-cerita seperti itu semakin memperkuat keyakinan warga bahwa patung tersebut bukan benda biasa.
Rafi yang merasa penasaran mencoba mendekati bangunan tersebut pada sore hari. Ia bertemu seorang penjaga yang tampak enggan berbicara. “Mas, kalau mau lihat boleh, tapi jangan sampai magrib,” ujarnya singkat. Ketika Rafi bertanya alasannya, penjaga itu hanya menjawab, “Karena setelah itu, dia tidak suka diganggu.” Kata “dia” diucapkan dengan tekanan tertentu, membuat Rafi terdiam karena tidak tahu apakah yang dimaksud adalah sosok nyata atau sesuatu yang tidak terlihat.
Deskripsi sosok arwah yang kerap muncul di dekat patung membuat cerita itu semakin menyeramkan. Warga menggambarkannya sebagai perempuan dengan wajah pucat, mata kosong seperti kehilangan harapan, dan tubuh yang tampak menggigil meski udara tidak dingin. “Saya pernah dengar dia berkata ‘tolong’,” cerita seorang bapak tua di warung kopi. “Suaranya dekat sekali, padahal tidak ada siapa-siapa.” Rafi yang mendengarkan merasa dadanya mulai sesak oleh rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.
Pengalaman menyeramkan juga dialami seorang remaja yang mengaku pernah mendengar ketukan dari dalam ruangan tempat patung itu disimpan. Ia berkata kepada Rafi, “Ketukannya pelan, seperti seseorang meminta dibukakan pintu. Tapi waktu saya panggil, tidak ada jawaban.” Beberapa warga yang mengetahui kejadian itu menegaskan bahwa suara seperti itu bukan pertama kali terdengar. Rafi mulai mengerti mengapa warga setempat begitu menjaga jarak dari patung yang menyimpan kisah tragis itu.
Setelah mendengar semua kisah dan pengalaman mistis dari warga, Rafi menyadari bahwa cerita kelam patung Perawan Sunti bukan sekadar legenda yang diceritakan untuk menakut-nakuti pendatang. Di balik patung itu tersimpan penderitaan seorang perempuan yang hidup pada masa ketika aib lebih ditakuti daripada kebenaran. “Biarkan saja patung itu tetap di sana,” ujar seorang warga sebelum Rafi pulang, “beberapa luka hanya bisa dikenang, bukan disembuhkan.” Kalimat itu terus terngiang di pikirannya sepanjang perjalanan pulang.
Redaksi Energi Juang News



