Energi Juang News,Karang Anyar-Kabut tebal kembali turun menyelimuti lereng Gunung Lawu. Hutan pinus bergoyang pelan diterpa angin dingin, sementara suara air dari Grojogan Sewu terdengar memecah keheningan malam. Keindahan alam itu menyimpan cerita yang membuat siapa pun memilih berhati-hati ketika matahari mulai tenggelam.
Misteri Kreteg Pegat Tawangmangu menjadi cerita yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar. Jembatan tua yang menghubungkan jalur menuju Grojogan Sewu dipercaya memiliki aura berbeda, terutama saat malam Jumat Kliwon. Banyak orang mengaku merasakan hawa dingin yang datang tanpa sebab.
Konon, sosok perempuan berambut panjang berbaju putih sering terlihat berdiri di ujung jembatan. Ia hanya menatap ke arah jurang yang dipenuhi kabut, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Siapa pun yang berani menatap terlalu lama disebut akan mendengar suara tangisan dari bawah jurang.
Suatu malam, Rian bersama dua temannya sengaja melewati jembatan itu. Warga sebelumnya sudah mengingatkan agar tidak bersiul dan tidak mengucapkan kata-kata sembarangan. Namun Rian justru tertawa. “Ah, cuma mitos. Mana mungkin ada hantu,” katanya sambil melangkah santai.
Belum sampai di tengah jembatan, suara perempuan menangis terdengar jelas. “Ada orang minta tolong!” seru Rian. Kedua temannya saling berpandangan. “Kami tidak mendengar apa-apa, Yan. Jangan macam-macam,” jawab mereka dengan wajah pucat.
Rian semakin penasaran. Ia mendekati pagar jembatan dan menyorotkan senter ke arah jurang. Sesaat kemudian tampak perempuan berbaju putih berdiri di balik kabut. Ketika cahaya senter mengenai sosok itu, tubuhnya perlahan memudar dan berubah menjadi bayangan hitam tinggi di antara pepohonan.
Mereka bertiga berlari meninggalkan lokasi tanpa menoleh sedikit pun. Sepanjang perjalanan pulang, langkah kaki lain terdengar mengikuti dari belakang. Anehnya, setiap kali mereka berhenti, suara itu ikut menghilang bersama embusan angin yang semakin dingin.
Keesokan paginya, Rian menemui seorang warga sepuh untuk menceritakan kejadian semalam. “Nak, kalau mendengar suara yang memanggil di Kreteg Pegat, jangan pernah dicari asalnya,” ujar sang kakek. “Teruslah berjalan dan berdoa. Tidak semua yang terdengar berasal dari manusia.”
Sejak malam itu, Rian tidak pernah lagi menganggap remeh pantangan yang dipercaya warga. Baginya, setiap sudut Gunung Lawu menyimpan kisah yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika. Alam memiliki aturan yang patut dihormati oleh siapa pun yang datang berkunjung.
Hingga kini, kisah tentang Kreteg Pegat masih menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat Tawangmangu. Terlepas dari benar atau tidaknya, legenda tersebut menjadi pengingat agar manusia menjaga sikap, menghormati alam, dan tidak berlaku sombong di tempat yang dianggap memiliki sejarah panjang serta nilai spiritual.
Redaksi Energi Juang News



