Energi Juang News,Banyumas- Di tengah hiruk pikuk Kota Purwokerto, berdiri sebuah makam kecil yang nyaris luput dari perhatian pengendara. Setiap hari kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, sementara pusat pemerintahan dan pusat perbelanjaan modern terus berkembang di sekitarnya. Namun, di balik kesibukan itu, masyarakat sekitar masih menyimpan cerita lama yang diwariskan turun-temurun dan belum pernah benar-benar terpecahkan.
Makam Ragasemangsang Banyumas berada di kawasan yang berbatasan dengan Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur. Makam sederhana yang kini berada tepat di pertigaan Jalan Ragasemangsang itu telah dikenal warga sejak puluhan tahun silam. Ketua RT 03 RW 05 Sokanegara, Karto Suwito, mengaku makam tersebut sudah ada ketika dirinya pindah ke wilayah itu pada tahun 1962 saat masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan warga, makam itu diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang sakti mandraguna yang menguasai ajian Pancasona. Konon, siapa pun yang memiliki ilmu tersebut akan kembali pulih setiap kali tubuhnya menyentuh tanah. Karena kesaktiannya dianggap meresahkan masyarakat, tokoh yang dikenal sebagai Kiai Pekih dikisahkan menantangnya dalam sebuah pertarungan yang berlangsung sengit.
“Orang tua kami dulu selalu bilang, satu-satunya cara mengalahkan orang itu adalah jangan sampai tubuhnya menyentuh tanah,” ujar Pak Karto saat mengenang kisah yang sering ia dengar sejak kecil. Menurut legenda, Kiai Pekih akhirnya menggantung tubuh lawannya di sebuah pohon besar hingga ajal menjemput. Sejak itulah masyarakat menyebutnya sebagai Ragasemangsang, yang dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai tubuh yang tersangkut atau menyangsang.
Tidak sedikit warga yang mengaku enggan melintas sendirian pada malam hari. Seorang warga bernama Pak Slamet mengisahkan pengalamannya, “Kalau lewat habis tengah malam, kadang terasa seperti ada yang memperhatikan dari arah makam. Saya tidak pernah melihat apa-apa, tapi suasananya berbeda.” Sementara warga lain hanya mengingatkan agar siapa pun yang melintas tetap menjaga sopan santun dan tidak mengucapkan kata-kata sembarangan.
Selain kisah orang sakti, berkembang pula versi lain yang tidak kalah menarik. Dalam cerita ini, Ragasemangsang diyakini sebagai seorang pejuang yang gugur pada masa penjajahan setelah tersangkut di sebuah pohon ketika melakukan penerjunan. Karena identitasnya tidak pernah diketahui, masyarakat kemudian memakamkannya di lokasi tersebut sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya. Hingga kini, tidak ada dokumen sejarah yang dapat memastikan kebenaran versi tersebut.
Misteri semakin kuat karena makam itu tidak pernah dipindahkan meski pembangunan jalan dilakukan sekitar tahun 1963 hingga 1964. Saat kawasan diperlebar, masyarakat memilih mempertahankan keberadaan makam sehingga akhirnya berada tepat di tengah pertigaan jalan seperti yang terlihat sekarang. “Dulu jalannya kecil, belum diaspal seperti sekarang,” kenang Pak Karto. “Karena sudah dihormati sejak dulu, warga sepakat makam itu tetap dibiarkan di tempatnya.”
Ketika malam mulai larut, beberapa warga mengaku masih melihat orang datang membawa bunga, kemenyan, atau sesaji. Mereka biasanya duduk dalam diam di dekat makam tanpa banyak bicara. “Saya sering melihat ada yang berdoa atau melakukan ritual,” kata Pak Karto. “Apa tujuannya, saya sendiri tidak tahu. Mereka datang malam, lalu pulang menjelang subuh.”
Meski cerita mistis terus berkembang, pihak Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Banyumas menyebut belum ada catatan sejarah yang dapat memastikan asal-usul Makam Ragasemangsang. Menurut mereka, kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari folklor yang diwariskan secara lisan sehingga sulit diverifikasi. Tidak adanya juru kunci maupun pencatatan sejarah membuat berbagai versi cerita tetap hidup berdampingan hingga sekarang.
Kini, Makam Ragasemangsang Banyumas tetap menjadi salah satu simbol misteri di pusat Kota Purwokerto. Di tengah lalu lintas yang padat dan bangunan modern yang terus bertambah, makam kecil itu seolah mengingatkan bahwa setiap kota menyimpan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap. Apakah Ragasemangsang benar seorang sakti pemilik ajian Pancasona, seorang pejuang tanpa nama, atau sekadar legenda yang terus hidup dalam ingatan warga, jawabannya masih menjadi misteri yang menyelimuti Banyumas hingga hari ini.
Redaksi Energi Juang News



