Energi Juang News, Sumut– Sore itu langit Singkarak tampak muram, seolah menyimpan sesuatu yang tak ingin ia perlihatkan. Beni dan Lulu berdiri sejak pukul tiga sore di tepi jalan, menunggu bus menuju Medan yang tak kunjung datang. Angin danau menusuk tulang, membuat Lulu merapatkan jaketnya sambil bergumam pelan, “Kok lama sekali ya, Bang… biasanya sore begini sudah ada.” Beni hanya menghela napas, matanya terus menatap jalan kosong yang memanjang seperti lorong tanpa ujung, seakan menelan semua harapan mereka malam itu.
Jam demi jam berlalu. Ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, perut mereka mulai protes. Jalanan semakin sepi, hanya suara serangga dan desir angin yang menemani. “Bang, aku lapar… kita pulang dulu saja,” ucap Lulu dengan suara lelah. Beni mengangguk pasrah. Saat mereka tiba di rumah, sang ibu yang masih terjaga terkejut melihat mereka kembali. “Nak, kok pulang lagi?” tanyanya heran. “Lapar, Bu. Tidak ada bus yang datang,” jawab Beni singkat sambil duduk lesu.
Belum sempat makanan tersaji di meja, sebuah mobil travel melintas perlahan di depan rumah mereka. Lampunya temaram, mesinnya menggeram berat. Lulu spontan berdiri. “Bang, travel!” serunya. Tanpa pikir panjang, mereka keluar dan menghentikan mobil itu. Sang sopir menurunkan kaca, wajahnya pucat namun tersenyum tipis. “Medan, Pak?” tanya Beni. Sopir itu mengangguk pelan. Ibu mereka memandangi mobil itu dengan perasaan tak enak. “Aneh… biasanya tidak ada travel lewat sini malam-malam,” gumamnya, sambil diam-diam mencatat plat nomor kendaraan tersebut.
Mobil mulai melaju menembus gelapnya malam Sumatera. Di dalam hanya ada sopir dan seorang kernet yang duduk di depan. Tidak ada penumpang lain. Suasana sunyi, hanya suara mesin dan roda bergesekan dengan aspal. Beni dan Lulu yang kelelahan akhirnya tertidur. Jalan terasa mulus, tanpa guncangan berarti, seolah mobil itu melayang di atas permukaan bumi, membuat waktu berjalan terlalu cepat tanpa mereka sadari.
Di tengah perjalanan, Lulu terbangun oleh hawa dingin yang menusuk. Matanya samar-samar menangkap sesuatu di kursi depan. Ketika penglihatannya jelas, darah seakan berhenti mengalir di tubuhnya. Tubuh sang kernet terlihat penuh darah, bajunya basah merah, kepalanya tertunduk kaku. “Astaghfirullah…” bisiknya gemetar. Lulu mengguncang bahu Beni. “Bang… bangun… lihat depan…” Namun Beni tak bergerak, napasnya berat seperti orang tertidur sangat dalam.
Ketakutan mulai menekan dada Lulu. Ia mencoba menunduk, memejamkan mata, membaca doa seingatnya. Beberapa saat kemudian, sopir tiba-tiba bersuara tanpa menoleh, “Sudah sampai Medan.” Mobil berhenti begitu saja di pinggir jalan yang remang. Beni terbangun, kebingungan. “Lho… sudah sampai?” katanya heran. Mereka turun, dan Beni bertanya, “Berapa ongkosnya, Pak?” Sopir itu tersenyum aneh. “Sudah tidak apa-apa… memang tujuan kami ke sini,” jawabnya singkat.
Saat mobil itu pergi, Beni berdiri terpaku. “Lu… kok cepat sekali ya? Biasanya dua hari… ini cuma lima jam,” katanya dengan wajah pucat. Lulu tak sanggup menjawab. Tangannya dingin, tubuhnya masih gemetar mengingat sosok berdarah yang dilihatnya. Beni segera menelepon ibunya. “Bu, kami sudah sampai Medan,” ucapnya. Di seberang sana, suara ibunya meninggi panik. “Apa? Baru lima jam! Kalian naik apa?”
Dengan suara bergetar, sang ibu langsung menghubungi polisi, menceritakan kejanggalan yang dialami anaknya. Petugas bertanya detail kendaraan. “Plat nomornya, Bu?” Ibu itu menyebutkan nomor yang ia catat. Beberapa detik hening sebelum suara polisi terdengar berat. “Bu… mobil travel itu beberapa hari lalu kecelakaan dan masuk jurang di kawasan Singkarak. Sopir dan kernetnya meninggal di tempat.” Telepon hampir terlepas dari genggaman ibu itu.
Berita itu membuat tubuh ibu tersebut lemas. Ia menangis sambil beristighfar, membayangkan apa yang sebenarnya telah ditumpangi anaknya. Polisi menduga arwah sopir dan kernet itu belum tenang. Mereka ingin menyelesaikan perjalanan terakhir yang gagal mereka tuntaskan. Warga sekitar Singkarak pun membenarkan kabar tersebut. “Sejak kecelakaan itu, sering ada orang lihat travel melintas malam-malam,” ujar seorang tetua kampung.
Sejak kejadian itu, Beni dan Lulu tak pernah lagi bepergian malam melalui jalur tersebut. Lulu mengaku masih sering terbangun dengan bayangan wajah kernet berdarah yang menoleh perlahan ke arahnya. Kisah ini pun menyebar dari mulut ke mulut, menjadi peringatan sunyi bagi warga sekitar. Bahwa di jalan panjang Singkarak menuju Medan, bukan hanya manusia yang ingin sampai ke tujuan, tetapi juga mereka yang telah kehilangan nyawa dan masih terikat pada perjalanan terakhirnya.



