Jumat, Mei 8, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaDilema Gen Z: Antara Ambisi Jakarta Kota Global dan Realitas PHK Massal

Dilema Gen Z: Antara Ambisi Jakarta Kota Global dan Realitas PHK Massal

Indonesia sedang berdiri di atas gerbang emas. Dengan lebih dari 68% penduduk berada dalam usia produktif dan sekitar 70% di antaranya adalah Generasi Z, secara demografi negara ini tengah mengalami fenomena langka yang disebut bonus demografi, yaitu sebuah kesempatan sekali dalam seratus tahun di mana jumlah penduduk usia kerja jauh melampaui usia non-produktif. Pemerintah bahkan telah mencanangkan ambisi besar menjadikan Jakarta sebagai kota global, sebuah visi yang membutuhkan sumber daya manusia unggul, kompetitif, dan siap bersaing di kancah internasional.

Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan menyambut masa kejayaan itu, terdengar suara sumbang dari dunia kerja global: perusahaan-perusahaan besar ramai-ramai memecat karyawan Gen Z yang baru saja bekerja. Berdasarkan survei Intelligent yang dirilis pada awal Mei 2026, enam dari sepuluh perusahaan mengaku telah memberhentikan karyawan Gen Z hanya dalam hitungan bulan setelah perekrutan. Profesor New York University, Suzy Welch, melalui riset terhadap 200.000 responden menggunakan alat The Values Bridge, menemukan akar masalahnya bukan pada kecerdasan atau keterampilan teknis, melainkan pada benturan nilai yang fundamental antara apa yang diinginkan generasi muda dan apa yang dicari oleh dunia industri.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan. Tiga nilai tertinggi yang dijunjung Gen Z adalah perawatan diri atau self-care, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan kuat untuk membantu orang lain. Sebaliknya, perusahaan justru mendambakan pekerja dengan jiwa kompetitif yang haus akan prestasi, fokus pada pekerjaan, dan memiliki dorongan untuk belajar serta berpetualang dalam lingkup karier.

Welch menjelaskan bahwa pekerja muda beranggapan pola kerja generasi sebelumnya yang mengorbankan kesehatan mental dan keseimbangan hidup ternyata tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil, bahkan banyak dari orang tua mereka yang justru menganggur di usia 54 tahun karena kelelahan atau tergantikan teknologi. Karenanya, Gen Z lebih memilih memegang teguh prinsip keseimbangan hidup meskipun konsekuensinya mereka harus kehilangan jenis pekerjaan yang seharusnya sesuai dengan gelar sarjana mereka. Data Federal Reserve New York pada akhir 2025 pun memperkuat temuan ini dengan mencatat bahwa tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen, atau sekitar 1,5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Baca juga :  Penertiban Tanah Telantar: Pro Rakyat Asal Tak Serampangan

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Negara ini menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dan mendesak. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi secara terbuka mengakui adanya ketidaksesuaian atau mismatch antara dunia pendidikan dan industri, di mana hanya sekitar 64 persen pekerja muda yang benar-benar bekerja sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Lebih ironis lagi, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka untuk usia muda 15 hingga 24 tahun mencapai angka 16,36 persen, yang merupakan tertinggi dibandingkan kelompok umur lainnya.

Jika pemerintah tidak segera serius menangani persoalan struktural ini, bonus demografi yang semestinya menjadi peluang emas justru akan berbalik menjadi boomerang yang menghancurkan. Para ahli dalam berbagai forum ketahanan pemuda telah memperingatkan bahwa tanpa kebijakan yang tepat, ledakan jumlah penduduk produktif yang tidak terserap pasar kerja akan berpotensi menimbulkan krisis sosial, mulai dari meningkatnya angka kriminalitas hingga radikalisasi akibat rasa putus asa. Apalagi, era digital dan kecerdasan buatan telah mengubah peta jalan ketenagakerjaan secara drastis: dulu setiap satu persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap sekitar 400.000 tenaga kerja, namun kini hanya mampu menyerap sekitar 100.000 orang karena efisiensi dan otomatisasi. Pemerintah di bawah arahan kepresidenan saat ini memang menyadari bahwa investasi pada generasi muda adalah investasi strategis, namun upaya yang dilakukan masih harus lebih masif, terstruktur, dan menyentuh akar masalah.

Tiga agenda besar harus dijalankan secara paralel: pertama, merevolusi kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri masa kini; kedua, membangun program pembentukan mentalitas dan resiliensi bagi Gen Z, karena selama ini fokus berlebihan pada hard skill tanpa membekali ketahanan mental terbukti tidak cukup; ketiga, menciptakan lapangan kerja berkualitas yang tidak hanya banyak tetapi juga sehat secara psikologis.

Baca juga :  Waspadai Upaya Merusak Halmahera Utara dengan Konflik SARA

Ambisi Jakarta menjadi kota global tidak akan pernah tercapai jika hanya mengandalkan gedung pencakar langit dan infrastruktur fisik canggih, sementara fondasi sumber daya manusianya yang didominasi Gen Z rapuh akibat benturan nilai yang tidak pernah dijembatani. Dunia saat ini tidak sedang mencari pekerja yang hanya ingin merasa nyaman dan dihargai secara autentik tanpa mau bekerja keras, tetapi juga tidak lagi menerima sistem eksploitasi yang mengabaikan kesehatan mental.

Indonesia harus menjadi penengah yang cerdas, menciptakan ekosistem kerja yang sehat secara psikologis namun tetap kompetitif secara global. Jika gagal, maka negara ini tidak hanya akan kehilangan momentum bonus demografi, tetapi juga berpotensi melahirkan generasi yang kecewa, putus asa, dan marah, sebelum mereka sempat membangun negeri.

Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments