Esteria Tamba
(Aktivis, Penulis)
Banjir dahsyat di Thailand dan Sumatera, serta bencana alam lain yang memakan korban jiwa di berbagai belahan dunia, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ini adalah gejala dari sebuah penyakit kronis yang menggerogoti planet kita: perubahan iklim.
Pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia kini menyebabkan suhu laut meningkat, yang pada akhirnya memperparah siklon dan cuaca ekstrem di Asia. Sementara kita sibuk menghitung kerugian dan korban jiwa, pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah: di mana peran nyata organisasi-organisasi dunia dalam mengatasi akar masalahnya?
Akar masalah tersebut sudah sangat jelas, yakni ketergantungan akut dunia pada energi fosil. Data menunjukkan bahwa permintaan energi global terus meningkat, didorong oleh konsumsi listrik yang masif. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi, konsumsi energi final global masih didominasi oleh energi fosil hingga mencapai 79%.
Meskipun ada kabar baik dengan pertumbuhan pesat energi terbarukan seperti surya yang mendorong porsi listrik rendah karbon hingga di atas 40% secara global, laju transisi ini terasa lambat saat dihadapkan pada skala krisis yang ada. Kita seolah mengambil satu langkah maju dalam energi bersih, tetapi pada saat yang sama enggan melepaskan cengkeraman energi kotor.
Lalu, ke mana organisasi internasional yang digadang-gadang sebagai penjaga tatanan dunia? Nama-nama seperti International Renewable Energy Agency (IRENA) dan International Energy Agency (IEA) memang ada dan aktif mendorong agenda transisi energi. Mereka memfasilitasi kerja sama, berbagi pengetahuan, dan memberikan rekomendasi kebijakan.
Namun, peran mereka sering kali terbatas pada koordinasi dan himbauan. Rekomendasi yang dikeluarkan tidak memiliki kekuatan mengikat, membuat implementasinya bergantung sepenuhnya pada kemauan politik masing-masing negara yang sering kali masih tersandera oleh kepentingan ekonomi jangka pendek berbasis fosil.
Di sinilah perspektif baru harus dihadirkan. Perubahan iklim tidak boleh lagi dilihat hanya sebagai isu lingkungan, melainkan harus diangkat statusnya menjadi krisis kemanusiaan dan keamanan global. Organisasi dunia harus diberi “taring” yang lebih tajam. Peran mereka harus bergeser dari sekadar fasilitator menjadi regulator yang mampu menetapkan target penurunan emisi yang mengikat dan memberikan sanksi bagi negara yang gagal mematuhinya.
Kolaborasi lintas negara yang selama ini didengungkan perlu diperkuat dengan mekanisme akuntabilitas yang jelas. Lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia juga harus lebih berani dalam mengarahkan pendanaan masif dari proyek energi fosil ke proyek energi berkelanjutan.
Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan solusi teknis maupun lembaga untuk memfasilitasi perubahan. Yang kurang adalah kemauan politik kolektif dan keberanian untuk mengubah kerangka kerja sama internasional dari sukarela menjadi mengikat. Banjir dan bencana yang terjadi adalah alarm yang sudah sangat nyaring.
Jika organisasi-organisasi dunia tidak segera bertransformasi untuk memimpin sebuah transisi energi yang cepat dan berkeadilan, mereka hanya akan menjadi penonton yang mencatat sejarah kelam kehancuran planet ini, bukan penyelamatnya.
Redaksi Energi Juang News



