Energi Juang News,Yogyakarta– Hendro baru saja menetap di sebuah indekos sederhana di Yogya, menata barang-barang bernada biasa. Malam itu terdengar suara mendengung seperti kipas angin tuanya yang berputar di samping jendela. Suara berderu bergelombang, seperti bisikan senyap yang merambat masuk ke telinganya. Hening mencekam. Saat ia menoleh, kursi kayu berderit pelan. Jantungnya tak keruan, dan rasa dingin merayap ke tulang punggungnya.
Tiba‑tiba, Hendro menyadari keberadaan sosok menyeramkan: kepala gemuk tanpa tubuh, berdiri sendiri di atas kipas angin yang terpasang di sudut kamar. Kepala itu sama sekali tak memiliki rambut, hanya permukaan kulit menawan yang tampak mengkilap di bawah cahaya rembulan samar. Tatapannya menusuk jantung, mata merah menyala seolah memantulkan dendam purbakala. Ia tertawa—tawa yang seolah bercanda, tetapi dingin, tajam, menakutkan tanpa kompromi.
Dalam keheningan malam, ia menjerit, “Siapa kamu? Mengapa kau di sini?” Suaranya gemetar. Wajah kepala tanpa badan itu tiba‑tiba memanjang, rahang terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi tajam. “Aku… kepala yang menjatuhkan ketakutan,” seolah suara itu bergema di kepala Hendro. Suara magis yang menjijikkan. Ia terdiam, hanya mampu mendengar detak jantungnya sendiri yang mengaum lebih keras dari dentuman malam.
Keesokan harinya, cerita mengerikan itu merebak hingga ke penduduk sekitar kosan. Ibu Sri, pemilik warung di dekat gang kos, menceritakan “Ada yang bilang malam Jumat pagi, mereka dengar suara tawa kepala gelinding sambil berguling-guling di atap loteng.” Saksi lain, Pak Joko, tukang parkir di sebelah kos, menimpali, “Saya pernah lihat bayangan melayang cepat seperti bola bergulung. Kau tahu, seperti kepala yang bisa menggigit.” Suaranya gemetar saat mengenang kembali.Ketika malam Jumat tiba lagi, getaran di kamar kembali terasa.
Hendro menggigil, mengingat kata‑kata warga. Bayangan gelap menari di dinding, membentuk siluet kepala bulat bergerak semakin mendekat. Kipas angin berputar pelan, bergema serupa dengungan roh tanpa tubuh itu. Ruang seolah mengerut, dan terkesiapnya Hendro sampai tak mampu bernafas. Rasanya seperti dunia menyempit, malam seperti terbakar oleh tatapan merah menyala.Pada saat itu juga, kepala gelinding itu kembali.
Kali ini lebih dekat, matanya berkelip bagaikan bara api di sudut gelap. “Aku mengejarmu… dengan tawa dan gigitan,” suara cengengesannya bergema nyaris seperti ejekan. Hendro merasakan tekanan di lehernya, meski sosok itu hanya kepala. Gigitan maya seperti tusukan tajam—hingga seluruh anggota tubuhnya meronta namun lumpuh. Dalam delirium, ia hanya bisa menggigil dan menutup mata, berharap terbit fajar segera.
Warga RT setempat sempat mencoba membantu. “Nek, ada apa? Kenapa lampu kos menyala–mati terus?” tanya tetangga sebelah, Bu Ani, intinya penuh kekhawatiran. Hendro gemetar, menatap Bu Ani dengan wajah pucat pasi. “Aku… melihat kepala melayang… tanpa badan… menertawakan…” suaranya tercekat. Bu Ani menelan ludah, berusaha menenangkan, menggandeng tangannya, “Tenang… kita panggil orang pintar… jangan sendiri!” Kata-kata itu seperti angin sepoi di tengah badai ketakutan.
Malam kembali datang. Hendro dan beberapa tetangga menggelar sesajen kecil di halaman kos—kemenyan, lilin, bunga, berharap menetralisir kekuatan sosok mengerikan. Ketukan pintu terdengar pelan. Tiba‑tiba, kepala gemuk itu muncul di relung pintu—sosok arwah menjulang. Ia menatap korban yang berkerumun. Perlahan, gelindingannya mendekat, mata merah tajam, bibir terkatup tertawa pelan. Lilin berkedip saat udara serasa membeku.
“Dengan gigitan, aku membekumu… sampai malam tak mampu kau jelang,” suara itu berbisik lirih namun menusuk telinga mereka. Aroma kemenyan terbakar menyatu dengan bau tubuh tak bernyawa, menciptakan atmosfer mencekam hingga penduduk menutup mata. Kebekuan malam menjadi nyata—dan tawa kepala tulisan arwah itu bergema di antara petikan nyanyian kemenyan. Beberapa warga pingsan saat melihat bayangkannya sirna ke angkasa dengan denting gerimis kaca yang retak.
Sejak malam itu, kosan di Yogya menjadi sunyi. Hendro pindah, namun cerita kepala gelinding itu tetap jadi legenda. Warga masih berbisik, “Jangan bangunkan arwah tanpa badan itu,” katanya sambil merapatkan syal di leher. Kisah ini jadi peringatan: ada kekuatan yang tak terlihat, yang berguling dalam kegelapan, menunggu malam Jumat di sudut sunyi—dan hanya dengan doa serta solidaritas manusia, kengerian semacam itu bisa diperlambat, mungkin dihentikan.
Redaksi Energi Juang News



