Energi Juang News,Jakarta- Umm Kulthum dikenang sebagai penyanyi paling berpengaruh dalam sejarah musik Arab modern. Selama lebih dari enam dekade, ia menghadirkan karya-karya yang melampaui batas hiburan, menjadikan musik sebagai media budaya, diplomasi, dan identitas nasional. Dengan kemampuan vokal yang luar biasa serta interpretasi lagu yang penuh emosi, namanya tetap hidup sebagai simbol kejayaan musik Timur Tengah hingga abad ke-21.
Lahir dengan nama Fatima Ibrahim el-Sayyed pada 1898 di sebuah desa kecil di kawasan Delta Sungai Nil, Mesir, perjalanan hidup Umm Kulthum berawal dari lingkungan religius yang sederhana. Ayahnya merupakan seorang ulama yang sering memimpin pembacaan syair-syair keagamaan. Karena norma masyarakat saat itu belum menerima perempuan tampil bernyanyi di depan umum, sang ayah menyamarkan putrinya dengan pakaian anak laki-laki agar dapat ikut melantunkan lagu-lagu religius dalam berbagai acara.
Pengalaman tersebut menjadi sekolah musik pertamanya. Sejak kecil ia terbiasa menghafal syair Arab klasik, menguasai teknik vokal tradisional, dan memahami makna setiap bait yang dinyanyikan. Bakatnya berkembang pesat hingga namanya mulai dikenal di berbagai desa. Popularitas itu akhirnya membawanya ke Kairo pada awal dekade 1920-an, pusat perkembangan seni dan budaya Mesir.
Di ibu kota, Umm Kulthum berkolaborasi dengan para komposer, penyair, dan musisi terbaik pada masanya. Penampilannya perlahan berubah dari gadis desa menjadi diva yang anggun tanpa kehilangan kedalaman artistiknya. Ia dijuluki Kawkab al-Sharq atau “Bintang Timur”, El Sitt yang berarti “Sang Nyonya”, bahkan disebut Piramida Keempat, sebuah penghormatan atas besarnya pengaruh yang ia miliki terhadap kebudayaan Mesir.
Keistimewaan Umm Kulthum tidak hanya terletak pada rentang vokalnya yang sangat luas, tetapi juga pada kemampuannya membangun hubungan emosional dengan pendengar. Lagu-lagunya sering kali berlangsung antara 45 menit hingga tiga jam, sementara konsernya dapat mencapai lima jam. Setiap pertunjukan dipenuhi improvisasi sehingga tidak pernah benar-benar sama meskipun membawakan lagu yang identik.
Fenomena tersebut dikenal dalam tradisi musik Arab sebagai tarab, yaitu kondisi emosional yang muncul ketika penyanyi dan pendengar larut dalam pengalaman musikal yang mendalam. Tarab bukan sekadar menikmati melodi, melainkan pengalaman spiritual yang mampu menghadirkan rasa haru, ekstase, bahkan keterhubungan batin antara seniman dan audiens. Umm Kulthum dianggap sebagai salah satu maestro terbesar dalam menghadirkan pengalaman musikal tersebut.
Selain membawakan lagu-lagu cinta, karya-karyanya juga mengangkat puisi, nasionalisme, dan harapan terhadap masa depan Mesir. Musiknya menjadi suara masyarakat pada masa perubahan politik yang besar. Ketika terjadi Krisis Terusan Suez pada 1956, ia menyanyikan lagu “Wallah Zaman Ya Selahy”, yang kemudian diangkat menjadi lagu kebangsaan Mesir hingga 1979. Lagu tersebut menjadi simbol semangat perjuangan nasional pada era Presiden Gamal Abdel Nasser.
Pemerintahan Nasser memanfaatkan popularitas Umm Kulthum sebagai bentuk soft power. Siaran radionya didengarkan jutaan masyarakat Mesir, dan tidak jarang pidato-pidato penting presiden disampaikan segera setelah lagu-lagunya berakhir. Musik menjadi sarana untuk memperkuat persatuan nasional sekaligus membangkitkan optimisme masyarakat di tengah berbagai tantangan politik dan ekonomi.
Selama kariernya, Umm Kulthum merekam lebih dari 300 lagu dan juga membintangi enam film layar lebar. Warisan artistiknya tidak hanya memengaruhi dunia musik Arab, tetapi juga menginspirasi banyak penyanyi lintas generasi, mulai dari musisi klasik hingga penyanyi pop Arab modern. Teknik vokalnya masih dipelajari di berbagai institusi musik sebagai salah satu standar tertinggi dalam seni menyanyi Arab.
Ketika Umm Kulthum wafat akibat gagal ginjal pada 1975, sekitar empat juta warga Mesir memenuhi jalan-jalan Kairo untuk mengiringi prosesi pemakamannya. Jumlah pelayat yang luar biasa tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar kehilangan seorang penyanyi, melainkan sosok yang telah menjadi bagian dari identitas nasional mereka. Hingga kini, lagu-lagunya terus diputar, dipelajari, dan diaransemen ulang, membuktikan bahwa suara emas Umm Kulthum tetap menjadi warisan budaya yang tak lekang oleh waktu dan salah satu tonggak terpenting dalam sejarah musik dunia.
Redaksi Energi Juang News



