Energi Juang News, Jakarta– Perdebatan soal musik lintas generasi sebenarnya bukan hal baru. Setiap era selalu merasa zamannya memiliki sesuatu yang lebih “asli”, lebih jujur, dan lebih berkesan dibandingkan era setelahnya. Namun penting untuk ditegaskan sejak awal: mengatakan bahwa musik masa lalu terasa lebih unggul tidak otomatis berarti musik hari ini buruk atau tidak layak didengar. Saya sendiri masih menikmati banyak rilisan baru dan aktif mengeksplor berbagai genre. Jadi tulisan ini bukan serangan, melainkan refleksi.
Jika ditarik ke pengalaman personal dan diperkuat oleh banyak diskusi kultural, memang ada kesan kuat bahwa lagu-lagu lama terutama dari rentang 1960-an hingga awal 2000-an meninggalkan jejak yang lebih dalam. Kesan ini bukan muncul tanpa sebab. Ada sejumlah faktor yang secara historis, estetis, dan industrial ikut membentuk persepsi tersebut. Dan ya, buat yang tidak terlalu suka membaca paragraf panjang, bagian ini memang menuntut kesabaran. Tapi di situlah letak ceritanya.
Alasan pertama yang paling sering muncul adalah soal keikonikan. Banyak lagu dari masa lalu memiliki melodi atau lirik yang langsung menempel di kepala. Sekali dengar, lalu abadi. Lagu-lagu itu bekerja seperti mesin waktu. Begitu diputar, emosi lama ikut muncul kenangan masa kecil, cinta pertama, patah hati, atau fase hidup tertentu. Nostalgia memang berperan besar, tapi keikonikan tidak lahir dari nostalgia semata. Ia lahir dari komposisi yang kuat, struktur yang jelas, dan identitas musikal yang khas.
Bandingkan dengan banyak lagu masa kini yang cenderung cepat viral tapi cepat pula dilupakan. Tidak sedikit lagu yang populer besar dalam hitungan bulan, lalu menghilang tanpa bekas. Ironisnya, kita sering lebih mudah mengingat lagu lama yang tidak kita dengar bertahun-tahun dibandingkan lagu baru yang terakhir kita dengar dua tahun lalu. Ini seperti membandingkan parfum klasik dengan pewangi ruangan instan—sama-sama wangi, tapi daya tinggalnya berbeda.
Alasan kedua terletak pada karakteristik dan kompleksitas komposisi. Musik zaman dulu umumnya dibangun dengan struktur yang lebih berlapis. Baik itu jazz, blues, rock, maupun pop, masing-masing genre memiliki identitas sonik yang jelas. Gaya vokal, progresi chord, dinamika instrumen, hingga aransemen dibuat dengan pertimbangan matang. Tidak jarang satu lagu melalui proses eksplorasi panjang sebelum akhirnya direkam.
Tentu saja, persepsi kualitas bersifat subjektif. Apa yang terasa indah bagi satu orang belum tentu bermakna bagi orang lain. Namun tidak bisa diabaikan bahwa banyak pendengar termasuk saya merasakan musik lama memiliki kedalaman emosi yang lebih konsisten. Liriknya sering lahir dari pengalaman hidup nyata: kehilangan, perjuangan, cinta, kegagalan, dan harapan. Lagu menjadi medium bercerita, bukan sekadar produk hiburan.
Sebaliknya, sebagian musik masa kini terasa homogen. Bukan karena musisinya kurang berbakat, tetapi karena tuntutan pasar yang bergerak cepat. Banyak lagu dibuat untuk menyesuaikan algoritma, durasi singkat, dan kebutuhan viral. Pola chord, tempo, bahkan tema lirik cenderung berulang. Ini bukan kesalahan individu, melainkan konsekuensi sistem industri yang berubah.
Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah industri musik itu sendiri. Di masa lalu, proses produksi musik relatif panjang dan mahal. Rekaman dilakukan di studio dengan keterbatasan teknologi, sehingga musisi dituntut benar-benar siap secara musikal. Kesalahan kecil berarti mengulang dari awal. Proses ini memaksa ketelitian, latihan, dan pematangan ide.
Hari ini, teknologi memungkinkan musik diproduksi dengan cepat dan biaya rendah. Ini adalah kemajuan besar yang patut diapresiasi. Namun seperti makanan cepat saji, kemudahan sering kali berdampak pada karakter rasa. Bukan berarti rasanya selalu buruk, tapi sensasinya berbeda dengan masakan yang dimasak perlahan. Musik lama lebih sering terasa “matang” karena memang dimatangkan.
Analogi sederhananya begini: musik zaman dulu seperti film layar lebar yang dibuat tanpa efek digital berlebihan. Setiap adegan harus kuat secara narasi dan akting. Musik sekarang lebih mirip konten streaming cepat ada yang sangat bagus, ada yang sekadar lewat, dan ada yang viral sesaat lalu tenggelam. Keduanya punya tempat masing-masing.
Namun penting juga untuk bersikap adil. Tidak semua musik lama berkualitas, dan tidak semua musik baru dangkal. Setiap era memiliki karya luar biasa dan karya biasa-biasa saja. Hanya saja, waktu bertindak sebagai kurator alami. Lagu-lagu lama yang masih kita dengar hari ini adalah yang berhasil bertahan, sementara yang kurang kuat sudah tersaring oleh sejarah.
Di titik ini, nostalgia memang memainkan peran besar. Musik lama sering terikat dengan fase hidup tertentu, membuatnya terasa lebih personal dan emosional. Tetapi nostalgia bukan satu-satunya alasan. Struktur musik, proses kreatif, dan dinamika industri jelas memengaruhi bagaimana sebuah lagu dirasakan dan diingat.
Kesimpulannya, perasaan bahwa musik zaman dulu lebih berkualitas lahir dari kombinasi banyak faktor: keikonikan, kompleksitas komposisi, proses produksi yang lebih artistik, serta memori emosional pendengarnya. Namun ini bukan vonis bagi musik masa kini. Banyak lagu hari ini yang kelak mungkin akan disebut klasik oleh generasi berikutnya.
Musik, pada akhirnya, selalu bergerak. Ia berubah mengikuti zaman, teknologi, dan manusia yang menciptakannya. Dan tugas kita sebagai pendengar bukan memilih era mana yang paling benar, melainkan menikmati setiap fase dengan telinga terbuka dan ingatan yang jujur.
Redaksi Energi Juang News



