Energi Juang News, Bogor- Gunung Salak di Jawa Barat dikenal sebagai salah satu gunung dengan hutan yang lebat, jalur berkabut, dan cuaca yang berubah sangat cepat. Selain panorama alamnya, gunung ini juga memiliki banyak legenda yang berkembang di kalangan pendaki maupun masyarakat sekitar. Salah satu cerita yang paling sering diperbincangkan adalah tentang seorang pendaki bernama Ririn yang dikaitkan dengan kisah misterius yang kemudian dikenal sebagai “Pocong Ririn”. Cerita ini merupakan legenda urban yang beredar luas dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Menurut cerita yang beredar, Aria, seorang pemandu pendakian yang mencari tambahan penghasilan dengan mengantar wisatawan mendaki Gunung Salak, memimpin sebuah rombongan yang salah satu anggotanya bernama Ririn. Pendakian berlangsung normal hingga malam pertama ketika sebuah mantel kesayangan milik Ririn tiba-tiba hilang tanpa jejak.
“Mas, tolong bantu cari ya. Mantel ini peninggalan ayah saya. Saya nggak bisa pulang kalau belum ketemu,” kata Ririn dengan wajah cemas.
Seluruh rombongan menyisir area sekitar tenda menggunakan senter. Anehnya, mantel itu tidak ditemukan. Aria mengaku sempat melihat benda menyerupai mantel melayang sesaat di atas tenda sebelum menghilang begitu saja. Namun ia memilih diam karena mengira matanya hanya tertipu kabut dan cahaya bulan.
Keesokan harinya, Ririn justru menemukan mantel itu sendiri di dekat aliran sungai kecil, tempat ia mencuci muka. Tidak ada yang mengetahui bagaimana mantel tersebut bisa berpindah sejauh itu. Beberapa anggota rombongan mulai merasa tidak nyaman, sementara sebagian lainnya menganggap kejadian tersebut hanyalah kebetulan.
Memasuki malam ketiga, suasana hutan berubah semakin sunyi. Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Ketika Ririn hendak mengenakan kembali mantel itu, ia tiba-tiba menjerit histeris.
“Aria… lepas… lepas… mantelnya nggak bisa dilepas!” teriaknya sambil menangis.
Beberapa pendaki berusaha menarik mantel tersebut, tetapi menurut cerita, kain itu terasa melekat erat di tubuh Ririn. Dalam kepanikan, Ririn dikisahkan berteriak semakin keras sebelum tubuhnya menghilang ke arah pepohonan. Ada yang mengaku melihat bayangan putih melompat dari satu pohon ke pohon lainnya hingga akhirnya lenyap ditelan gelapnya hutan.
“Kami cuma bisa menangis. Tidak ada seorang pun yang berani mengejar. Suara jeritannya masih terdengar dari kejauhan,” tutur seorang saksi dalam kisah yang beredar di media sosial.
Rombongan akhirnya turun gunung dan meminta bantuan warga setempat. Berbagai pencarian dilakukan, tetapi Ririn tidak kunjung ditemukan. Di tengah pencarian itulah muncul cerita lain yang menyebut mantel tersebut bukanlah benda biasa.
Konon, mantel itu merupakan milik ayah Ririn yang dipercaya pernah dijadikan media perjanjian dengan makhluk gaib penjaga sebuah lokasi tambang. Dalam legenda yang beredar, makhluk tersebut hanya mengizinkan sang ayah mengenakan mantel itu. Siapa pun yang melanggar dipercaya akan menerima akibat yang mengerikan. Klaim ini tidak pernah dapat dibuktikan dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang berkembang.
Seorang warga yang tinggal di kaki Gunung Salak mengaku pernah mendengar kisah serupa dari para pendaki.
“Orang tua kami selalu mengingatkan, jangan sembarangan membawa barang warisan yang asal-usulnya tidak jelas ke gunung. Bukan karena pasti angker, tapi karena kita tidak pernah tahu cerita di balik benda itu,” ujar Pak Darto, warga sekitar.
Kesaksian lain datang dari seorang penjaga jalur pendakian yang enggan disebutkan namanya.
“Kalau malam berkabut, kadang terdengar suara perempuan menangis dari arah hutan. Saya sendiri belum pernah melihat apa pun, tetapi banyak pendaki memilih berhenti mendaki kalau cuaca mulai berubah drastis.”
Dalam versi lain yang beredar di media sosial, sekelompok pemburu makhluk gaib dikisahkan mendatangi Gunung Salak untuk mencari keberadaan Ririn. Mereka disebut bertemu sosok tua bertubuh tinggi yang diyakini sebagai penjaga kawasan hutan. Setelah melalui ritual tertentu, muncul narasi bahwa Ririn telah terusir dari kawasan tersebut oleh penghuni gaib gunung. Cerita ini merupakan bagian dari urban legend dan tidak memiliki bukti yang dapat diverifikasi.
Hingga kini, kisah Pocong Ririn tetap menjadi salah satu legenda paling populer yang dikaitkan dengan Gunung Salak. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, masyarakat sekitar menganggapnya sebagai pengingat agar setiap pendaki menjaga sikap, menghormati alam, serta tidak membawa benda-benda yang memiliki riwayat atau kepercayaan tertentu tanpa memahami asal-usulnya. Di balik kabut tebal dan rindangnya hutan Gunung Salak, kisah itu masih terus hidup, diceritakan dari mulut ke mulut setiap kali malam mulai turun.
Redaksi Energi Juang News



