Energi Juang News, Jakarta– Kisah mengerikan ini berawal dari sebuah tragedi pada tahun 2015 yang mengguncang warga sebuah kampung di Cirebon. Malam itu, seorang pencuri tertangkap basah sedang beraksi. Menurut Mamad, salah satu warga yang tinggal di kampung tersebut, insiden itu terjadi sekitar tengah malam ketika seorang penghuni rumah tiba-tiba berteriak histeris, “Maliiing! Maliiiing!”
Teriakan itu menggema di seantero kampung, memancing warga yang masih terjaga untuk berlarian keluar rumah. Tanpa pikir panjang, mereka bergerombol, membawa senjata seadanya. Ketika pencuri itu berpapasan dengan kerumunan warga, amarah pun memuncak. Tanpa sempat bertanya atau memastikan identitas, mereka langsung menghakimi pencuri itu secara brutal.
Pencuri malang tersebut dipukuli habis-habisan. Ia bahkan ditelanjangi, konon untuk memastikan ia tidak membawa jimat pelindung. Namun, serangan membabi buta itu berujung fatal. Ia tewas di tempat dengan wajah hancur mengerikan akibat hantaman benda tumpul. Kematian tragis itu meninggalkan jejak kelam di kampung.
Untuk mencegah insiden serupa, warga mulai rutin berjaga malam. Namun ketenangan tak berlangsung lama.
Pada suatu malam, ketika Mamad tengah ronda bersama tiga tetangganya, mereka dikejutkan oleh kedatangan Pak Amo—seorang penjual bakso di desa itu. Ia datang tergopoh-gopoh, wajahnya pucat pasi. “Pak… di dekat jalan sepi itu… saya lihat demit! Ada hantu!” katanya dengan suara gemetar.
Mamad mencoba menenangkannya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Pak Amo pun bercerita. Saat berjualan di tempat sepi, ia mencium bau amis menyengat. Tak lama, terdengar suara lirih penuh kesakitan, “Aduh… sakit… tolong… ampun…” Rasa penasaran membawanya ke sumber suara, dan di balik rerimbunan semak, ia melihat sosok lelaki berpakaian compang-camping tergeletak.
Namun saat didekati, ia sontak mundur ketakutan—wajah sosok itu rusak parah, berlumuran darah, namun sangat dikenalnya. Itu adalah wajah pencuri yang dulu dipukuli warga hingga tewas.
Ketakutan, Pak Amo langsung kabur meninggalkan gerobak baksonya begitu saja.
Desas-desus pun menyebar cepat. Warga percaya arwah si maling gentayangan, menebar teror untuk membalas dendam. Beberapa orang bahkan mengaku melihat sosok tersebut berkeliaran di malam hari, seolah mencari orang-orang yang dulu turut menghakiminya.
Akhirnya, dalam rapat warga, disepakati satu hal penting: meskipun seseorang berbuat salah, bukan berarti masyarakat boleh main hakim sendiri. Keadilan tetap harus ditegakkan melalui cara yang benar. Karena jika tidak, bisa jadi bukan hanya pelaku yang jadi korban, tapi juga orang-orang di sekitarnya.
Tragedi ini menjadi pengingat mengerikan—bahwa kemarahan massa bisa memunculkan penyesalan yang abadi… bahkan sampai arwah gentayangan tak menemukan kedamaian.
Redaksi Energi Juang News



