Energi Juang News, Semarang– Di kawasan Pundakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, terdapat kisah misterius yang terus hidup dalam bisik-bisik warga. Lokasi ini sempat menghebohkan masyarakat pada 1 November 2019, ketika sebuah pohon beringin raksasa tumbang secara mendadak tanpa sebab yang jelas. Beringin itu telah berdiri tegak selama puluhan tahun, menjadi penanda jalan sekaligus tempat yang dihindari saat malam tiba. Banyak warga percaya bahwa pohon itu bukan sekadar pohon biasa, melainkan tempat bersemayamnya sesuatu yang tak kasatmata.
Maji, salah satu warga yang tinggal tak jauh dari lokasi pohon tumbang, mengaku sering merasakan hawa aneh setiap melintasi pohon tersebut. Menurutnya, udara di sekitar pohon itu terasa lebih dingin dan berat, bahkan pada siang hari yang terik sekalipun. “Waktu itu saya pulang dari warung, sekitar jam sebelas malam, tiba-tiba ada bau amis yang menusuk hidung,” ujarnya. Tak lama kemudian, seekor ular raksasa muncul begitu saja dari balik semak, melintang di jalan dan menatap Maji dengan tatapan yang menurutnya bukan tatapan binatang biasa.
“Ular itu panjangnya bisa tiga meter lebih, kulitnya mengkilap seperti sisik logam. Tapi yang paling aneh, matanya… seperti mata manusia, merah menyala dan tidak berkedip,” lanjut Maji sambil bergidik. Ular itu tak bergerak meskipun motor Maji berhenti hanya beberapa meter di depannya. Ketika angin malam berembus, bau amis itu semakin kuat dan Maji merasa seperti ada bisikan samar di telinganya. Ia segera berbalik arah, tak berani melanjutkan perjalanan melewati jalur itu.
Kejadian aneh lain dialami oleh Asmat, tetangga Maji yang rumahnya berbatasan langsung dengan tanah kosong tempat pohon beringin tumbang. Suatu pagi, ia mendapati seekor ayam babon sedang mengerami telur-telur di belakang rumahnya. “Yang aneh, saya nggak pernah pelihara ayam, apalagi sampai bertelur begitu. Saya juga nggak dengar suara ayam sebelumnya,” kata Asmat. Namun keesokan harinya, ayam itu menghilang tanpa jejak. Telurnya pun lenyap seolah tak pernah ada.
Warga lain menyebut ayam tersebut sebagai “utusan gaib” atau jelmaan siluman. Menurut kepercayaan setempat, kemunculan hewan-hewan aneh tanpa asal-usul sering dikaitkan dengan aktivitas makhluk halus atau roh penjaga tempat tertentu. “Biasanya itu pertanda ada sesuatu yang nggak beres. Kadang siluman atau penunggu tempat mencoba memberi pesan lewat mimpi atau kejadian-kejadian aneh,” ujar Pak Darno, seorang tetua kampung yang sering dimintai nasihat spiritual oleh warga.
Pak Darno juga mengungkap bahwa sebelum pohon beringin itu tumbang, banyak warga sekitar mengeluh mimpi buruk yang berulang. Dalam salah satu mimpi yang dialami Maji, ia bertemu dengan seorang lelaki tua berjubah putih yang berkata, “Jaga dirimu, akan ada peristiwa yang membuka mata banyak orang.” Maji tak mengerti maksud mimpi itu hingga akhirnya pohon beringin roboh dan kejadian-kejadian aneh mulai terjadi di lingkungannya.
Menurut cerita turun-temurun, pohon beringin itu diyakini sebagai gerbang antara dunia nyata dan alam gaib. Sosok ular besar yang sering terlihat di sekitar situ dipercaya bukan hewan biasa, melainkan siluman penjaga atau bahkan jelmaan makhluk halus. Beberapa warga yang nekat menebang ranting atau merusak pohon itu sebelumnya, kabarnya mengalami kesurupan atau jatuh sakit secara misterius. “Pernah ada pemuda yang nekat manjat pohon itu, besoknya dia demam tinggi dan terus meracau tentang ‘mata merah’ yang menatapnya dari dalam pohon,” jelas Pak Darno.
Suasana di sekitar lokasi bekas pohon tumbang pun masih terasa mencekam hingga kini. Banyak warga enggan melintasi area itu saat malam. Bahkan, pengemudi ojek online pun sering menolak pesanan yang mengarah ke titik tersebut setelah pukul sepuluh malam. “Saya pernah antar penumpang ke sana malam-malam, tapi tiba-tiba motor saya mati padahal bensin masih penuh. Habis itu, saya nggak berani ambil orderan ke sana lagi,” cerita Andri, seorang pengemudi ojek online lokal.
Kini, meski pohon itu telah tiada, cerita tentang teror siluman ular Pundakpayung masih hidup dalam ingatan warga. Beberapa bahkan meyakini bahwa roh yang dahulu bersemayam di pohon itu belum benar-benar pergi, melainkan berpindah ke tempat lain. “Kadang terdengar suara desisan panjang dari arah semak-semak, padahal nggak ada ular,” kata Maji. Ia dan warga lainnya hanya bisa berharap bahwa peristiwa serupa tidak terulang dan lingkungan mereka kembali tenang seperti dahulu.
Redaksi Energi Juang News



