Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Goa Lowo Trenggalek, Suara Semedi dari Lorong Kegelapan

Misteri Goa Lowo Trenggalek, Suara Semedi dari Lorong Kegelapan

Energi Juang News,Trenggalek- Malam itu hujan turun tipis di kawasan Watulimo. Jalan menuju pantai dan perbukitan terlihat sepi. Di tengah suasana yang dingin, beberapa pemuda Desa Watuagung berkumpul di warung kopi dekat pintu masuk goa yang terkenal sebagai goa terpanjang di Asia Tenggara. Mereka membicarakan pengalaman aneh yang dialami wisatawan beberapa hari sebelumnya. Tak seorang pun menyadari bahwa malam itu akan menjadi malam yang mengubah pandangan mereka tentang tempat yang selama ini hanya dianggap objek wisata biasa.

Goa yang ditemukan Mbah Lomedjo pada tahun 1931 itu memang menyimpan banyak cerita turun-temurun. Selain dikenal memiliki panjang sekitar dua kilometer berdasarkan penelitian Gilbert Mantovani dan Kingston Kho, warga sekitar juga meyakini bahwa lorong-lorong yang belum terjamah manusia menyimpan rahasia kuno. Aroma kelelawar yang menyengat dari dalam goa sering dianggap sebagai pertanda bahwa penghuni lama tempat itu masih menjaga wilayahnya.

“Mas, jangan masuk terlalu malam kalau tidak ada keperluan,” ujar Pak Karto, seorang warga sepuh yang sedang menyeruput kopi. “Dulu saya pernah dengar suara orang membaca mantra dari dalam goa. Padahal saat itu tidak ada siapa-siapa.” Pemuda bernama Jono tertawa kecil. “Ah, paling cuma gema suara kelelawar, Pak.” Namun Pak Karto hanya menggeleng pelan sambil menatap mulut goa yang gelap.

Karena penasaran, Jono bersama tiga temannya memutuskan mendatangi area mulut goa menjelang tengah malam. Lampu penerangan wisata sudah mulai redup. Dari kejauhan, patung raja bersayap yang dipercaya sebagian warga sebagai simbol kerajaan kelelawar tampak berdiri membisu. Angin malam berembus membawa suara lirih yang menyerupai bisikan manusia. Keempat pemuda itu saling berpandangan, mencoba meyakinkan diri bahwa suara tersebut hanyalah hembusan angin.

Baca juga :  Danyangan Yang Menakutkan di Alas Roban

Ketika mereka melangkah lebih jauh, terdengar suara ketukan dari dalam lorong. Tok… tok… tok… berulang secara teratur. “Kalian dengar itu?” bisik Anto dengan wajah pucat. Jono mengangguk pelan. Suara itu semakin jelas, seolah berasal dari kedalaman goa yang tidak tersentuh wisatawan. Tak lama kemudian terdengar suara tua berbisik, “Pulanglah… sebelum terlambat…” Keempatnya langsung menghentikan langkah.

Mereka berusaha mencari sumber suara menggunakan senter. Namun yang terlihat hanya dinding batu basah dan stalaktit yang menjulur dari langit-langit goa. Tiba-tiba lampu senter milik Anto mati. Dalam kegelapan sesaat, mereka melihat bayangan seseorang duduk bersila di atas batu besar. Sosok itu mengenakan pakaian serba putih dan tampak sedang semedi. Saat cahaya senter kembali menyala, sosok tersebut menghilang tanpa jejak.

“Astaghfirullah… kalian lihat juga?” teriak Anto gemetar. “Aku lihat! Duduk di batu sana!” jawab Jono sambil menunjuk ke arah yang sama. Ketakutan mulai menyelimuti mereka. Namun rasa penasaran membuat mereka tetap bertahan beberapa menit lagi. Saat itulah terdengar suara gamelan samar bercampur lantunan doa yang bergema dari arah lorong terdalam.

Menurut cerita para sesepuh, kawasan Goa Lowo pernah menjadi tempat semedi Eyang Pamong Amat Adiwiryo yang menjadi salah satu penjuru ritual pembukaan kawasan Teluk Prigi. Bersama para tokoh lain seperti Wirjo Udara, Raden Sutrisno, dan Raden Putro Widjojo, mereka dipercaya melakukan ritual besar di empat penjuru mata angin dengan dipimpin Tumenggung Yudho Negoro. Konon, energi spiritual dari ritual tersebut masih tersisa hingga sekarang dan sesekali menampakkan dirinya kepada orang-orang tertentu.

Saat para pemuda hendak meninggalkan lokasi, suara langkah kaki terdengar mengikuti mereka dari belakang. Anehnya, ketika mereka berhenti, suara itu ikut berhenti. Ketika mereka berlari, suara tersebut juga semakin cepat. “Jangan menoleh!” teriak Jono. Mereka terus berlari hingga tiba di area parkir. Begitu menoleh ke belakang, mereka melihat sosok hitam tinggi berdiri di dekat batu kura-kura raksasa yang berada di mulut goa. Sosok itu kemudian menghilang ditelan kabut malam.

Baca juga :  Arus yang Menyimpan Mata Munding Dongkol

Keesokan harinya, cerita itu menyebar ke seluruh desa. Sebagian warga percaya bahwa para pemuda tersebut melihat penjaga gaib kawasan Goa Lowo. Sebagian lagi menganggapnya hanya halusinasi akibat ketakutan. Namun hingga kini, ketika malam tiba dan lorong-lorong panjang Goa Lowo kembali diselimuti kesunyian, masih ada warga yang mengaku mendengar suara semedi, bisikan misterius, serta langkah kaki tanpa wujud dari kedalaman goa. Entah mitos atau kenyataan, kisah itu terus hidup dan menjadikan Goa Lowo Trenggalek sebagai salah satu destinasi wisata dengan aura mistis paling kuat di Jawa Timur.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments