Minggu, Mei 10, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaReog Berdarah di Tanah Danyangan Ponorogo

Reog Berdarah di Tanah Danyangan Ponorogo

Energi Juang News,Ponorogo- Suasana pagi di sebuah desa di Ponorogo, Jawa Timur, hari itu terlihat sangat meriah. Pelataran rumah kepala dusun dipenuhi warga yang datang sejak subuh untuk menyaksikan pertunjukan seni tradisional yang sedang ramai diperbincangkan. Suara kendang menggema keras, berpadu dengan denting kenong, gong, angklung, dan kempul yang dimainkan penuh semangat oleh para pengrawit. Anak-anak kecil berlarian sambil tertawa, sedangkan para orang tua duduk berjejer menikmati suasana. Ketika pembarong muncul membawa dadag merak raksasa berkepala singa, sorak sorai penonton langsung pecah. Tubuh penari itu bergerak lincah mengikuti irama musik yang menghentak. Namun di balik kemeriahan tersebut, ada hawa aneh yang diam-diam membuat beberapa warga merasa tidak nyaman. Angin pagi terasa dingin menusuk meski matahari bersinar terang. Burung-burung yang biasanya ramai berkicau mendadak menghilang dari pepohonan sekitar halaman. Beberapa warga tua hanya saling pandang tanpa bicara, seolah menyimpan ketakutan yang tak ingin diucapkan.

Kelompok reog bernama Sardulo Nareswari itu memang berbeda dari grup reog biasanya. Semua pemainnya adalah ibu rumah tangga, termasuk para pengrawit yang memainkan alat musik gamelan. Yu Jempling, ketua rombongan, berdiri paling depan sambil mengawasi seluruh anggota dengan tatapan serius. “Ingat, jangan sembarangan bicara selama di tempat ini,” katanya pelan kepada Yu Marni yang sedang merapikan kostum. Yu Marni hanya tertawa kecil. “Memangnya ada apa, Yu?” tanyanya santai. Namun Yu Jempling tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada sebuah pohon beringin tua di ujung halaman. Pohon itu sangat besar dengan akar menjulur seperti ular raksasa. Di bawah pohon tersebut, terlihat seorang lelaki tua berbaju lurik duduk diam sambil memperhatikan pertunjukan tanpa berkedip. Wajahnya keriput dan matanya cekung menyeramkan. Ketika Yu Jempling menoleh lagi beberapa detik kemudian, lelaki tua itu mendadak hilang begitu saja.

Pertunjukan berlangsung sangat meriah hingga siang hari. Penonton terus berdatangan dari desa lain karena penasaran melihat kelompok reog perempuan yang sedang viral di Ponorogo. Ketika musik mulai menghentak lebih cepat, Yu Marni tampil paling mencolok di antara penari lain. Gerakannya begitu kuat dan liar, bahkan dadag merak yang beratnya puluhan kilogram terlihat ringan di pundaknya. “Lihat itu, kuat sekali dia,” gumam seorang warga kagum. Namun perlahan, tingkah Yu Marni berubah aneh. Tatapannya kosong, napasnya memburu, dan gerakannya makin agresif seperti binatang buas. Tiba-tiba ia mengaum keras di tengah arena. Suaranya mirip harimau. Semua pengrawit langsung berhenti memainkan gamelan. Yu Marni jatuh merangkak di atas tanah sambil mencengkeram rumput dengan kuku-kukunya. “Yu Marni!” teriak Yu Jempling panik. Tetapi perempuan itu justru menggeram sambil menatap semua orang dengan mata merah menyala.

Baca juga :  Suara Dunia Lain di Balik Cermin

Suasana berubah kacau dalam hitungan detik. Anak-anak menangis histeris dan para warga berlarian menjauh dari arena pertunjukan. Yu Marni bergerak dengan kecepatan tak wajar sambil melompat ke atas meja sesaji. Ia mengendus-endus seperti harimau lapar. Tiga lelaki desa mencoba menahannya, tetapi mereka malah terpental seolah didorong tenaga besar yang tak terlihat. “Kesurupan! Dia kesurupan!” teriak seorang warga ketakutan. Yu Jempling segera maju ke tengah arena. Ia memasang kuda-kuda dengan kedua tangan diangkat ke atas sambil mengepalkan tinju kuat-kuat. Dengan suara lantang ia berkata, “Mohon bagi saudara yang merasa terganggu, kami mohon maaf!” Kalimat itu diucapkan sambil mengerahkan tenaga dalam warisan leluhurnya. Angin mendadak berputar mengelilingi arena. Beberapa daun beterbangan liar, sedangkan gamelan berbunyi sendiri tanpa disentuh siapa pun.

Perlahan tubuh Yu Marni mulai bergetar hebat. Ia menjerit sambil memukul tanah berkali-kali. Namun sebelum keadaan membaik, tiba-tiba angin besar datang menerjang pelataran rumah. Terpal panggung beterbangan, kursi-kursi terbalik, dan debu berputar memenuhi udara. Pohon beringin tua bergoyang keras meski langit masih cerah tanpa hujan. Dari arah pohon itu terdengar suara kakek-kakek yang sangat berat dan menggema. “Jangan ganggu tempat bersemayamku ini!” bentaknya keras. Semua warga langsung terdiam pucat. Suara itu terdengar seperti keluar dari dalam tanah. “Kalau mau menginjakkan kaki ke tempatku, kalian harus izin kepadaku! Apalagi kalian perempuan yang tidak tahu sejarah tempat ini!” lanjut suara tersebut penuh amarah. Mendengar itu, Yu Jempling langsung sadar wajahnya memucat. Ia baru menyadari kesalahan besar yang dilakukan rombongannya.

Yu Jempling memang sudah meminta izin kepada kepala desa dan warga sekitar sebelum pertunjukan dimulai. Namun ia lupa bahwa tempat itu dipercaya sebagai tanah danyangan yang sudah dijaga makhluk gaib selama ratusan tahun. “Astaghfirullah…” gumamnya lirih sambil menunduk. Seorang sesepuh desa bernama Mbah Wiryo kemudian maju membawa dupa dan kendi tanah liat. “Kalian salah besar datang tanpa permisi kepada penunggu tempat ini,” katanya pelan namun tegas. Asap dupa mulai mengepul ke udara. Namun angin tiba-tiba bertiup lebih kencang hingga asap itu buyar. Suara tawa berat kembali terdengar dari arah pohon beringin. Beberapa warga mengaku melihat sosok lelaki tua berjubah hitam berdiri di balik akar pohon sambil memegang tongkat panjang. Matanya merah menyala seperti bara api.

Baca juga :  Legenda Jurig Jarian: Hantu Penunggu Sampah Di Garut

Malam mulai turun dengan cepat. Langit desa berubah hitam pekat meski waktu baru menunjukkan pukul enam sore. Lampu-lampu rumah berkedip tidak menentu. Suasana semakin mencekam ketika suara gamelan kembali berbunyi sendiri dari atas panggung kosong. Kendang dipukul bertalu-talu tanpa pemain. Gong berdentum keras membuat dada semua orang bergetar. Dari arah sumur tua di samping rumah terdengar suara perempuan menangis lirih bercampur geraman binatang. “Ya Allah…” bisik seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat. Tiba-tiba seekor ayam jago mendadak mati dengan leher terpuntir ke belakang. Darahnya mengalir perlahan di atas tanah. Yu Marni kembali kejang-kejang sambil tertawa keras. “Dia datang… dia datang…” katanya berulang-ulang dengan suara berat bukan suara manusia biasa.

Tak lama kemudian terdengar langkah berat dari atas genting rumah. Duk… duk… duk… seperti seseorang berjalan sambil menyeret benda besar. Semua warga mendongak ketakutan. Dalam sekejap, sosok hitam berbulu melompat turun tepat di tengah halaman. Tanah bergetar keras ketika makhluk itu mendarat. Tubuhnya menyerupai harimau raksasa, tetapi berdiri tegak seperti manusia. Matanya merah menyala dan mulutnya penuh taring panjang. Bau busuk langsung menyebar memenuhi udara. Anak-anak menjerit histeris melihat makhluk tersebut mengaum keras ke arah kerumunan warga. Mbah Wiryo gemetar sambil berbisik, “Itu penjaga tanah ini… Ki Demang Surakerta.” Yu Jempling segera bersujud hormat. “Maafkan kami, Eyang. Kami tidak tahu,” katanya penuh takut. Makhluk itu tertawa pelan, tetapi suaranya membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

“Tidak tahu bukan alasan,” ucap sosok itu dingin. Tiba-tiba ia menunjuk Yu Marni. Seketika tubuh perempuan itu terlempar beberapa meter hingga menghantam tiang panggung. Darah mengalir dari pelipisnya, tetapi ia malah tertawa sambil merangkak seperti binatang buas. “Dia milikku sekarang,” kata sosok tua itu sambil menatap Yu Jempling tajam. Yu Jempling menggigit bibir menahan takut. Dengan suara gemetar ia mulai membaca doa lebih keras sambil menghentakkan kaki ke tanah. Angin kembali berputar di sekeliling tubuhnya. “Saya mohon, jangan sakiti warga desa,” pintanya. Namun sosok itu justru mendekat sambil berbisik pelan, “Kalian sudah membangunkan mereka.” Belum sempat Yu Jempling bertanya, tanah di tengah arena mendadak retak. Dari dalam retakan terdengar suara tangisan ratusan orang bersamaan.

Baca juga :  Tuyul: Perewangan Penghisap Darah Si Pelaku Pesugihan

Warga menjerit histeris ketika tangan-tangan hitam mulai keluar dari dalam tanah. Jari-jari kurus penuh lumpur itu bergerak seperti ingin meraih siapa saja yang berada di atasnya. Mbah Wiryo menjelaskan bahwa tempat tersebut dulunya adalah lokasi pembantaian para warok pada masa lampau. Mayat-mayat mereka dikubur massal tanpa ritual yang layak. Pertunjukan reog tadi siang tanpa sadar telah membangunkan seluruh arwah penasaran yang tertidur di bawah tanah. Yu Jempling segera mengambil segenggam tanah sambil membaca doa terakhir yang diwariskan leluhurnya. “Atas izin Gusti Allah, kembalilah kalian ke tempat asal!” teriaknya lantang. Angin berhenti mendadak. Sosok Ki Demang Surakerta menatap tajam beberapa saat sebelum perlahan menghilang bersama kabut hitam yang menyelimuti arena. Retakan tanah menutup sedikit demi sedikit, sementara suara tangisan mulai mereda. Namun hingga kini, warga desa itu percaya setiap malam Jumat Kliwon masih terdengar suara gamelan misterius dari pelataran rumah tersebut. Dan konon, bayangan perempuan menari sambil mengaum seperti harimau masih sering terlihat di bawah pohon beringin tua itu.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments

High pressure hydraulic lifting equipment pada Dilema Gen Z: Antara Ambisi Jakarta Kota Global dan Realitas PHK Massal
Offshore heavy lifting hydraulic system pada Selat Hormuz Memanas, Iran Balas Serangan AS
Hydraulic jacks exporter from India pada Sampah MBG di Bandung Diperkirakan Capai 60 Ton