Energi Juang News,Ponorogo- Langit sore di Ponorogo seringkali tampak biasa saja—jingga yang hangat, angin sawah yang tenang, dan suara jangkrik yang pelan. Namun, ada satu tempat yang tidak pernah benar-benar “tenang” meskipun terlihat sepi: sebuah dusun yang perlahan ditelan waktu, ditinggalkan manusia, dan konon… tidak pernah benar-benar kosong.
Dusun itu dikenal sebagai Sumbulan.
Terletak sekitar 10 kilometer dari pusat kota, akses menuju Sumbulan tidak mudah. Jalan setapak sepanjang lebih dari 3 kilometer membelah hamparan sawah yang sunyi, seolah menjadi batas antara dunia ramai dan dunia yang dilupakan. Di sana, hanya empat rumah tua yang masih berdiri—reot, terkunci, dan dipenuhi debu waktu.
Dan di situlah kisah ini bermula, Sumbulan bukanlah tempat yang menyeramkan. Kampung ini pernah hidup, bahkan memiliki sebuah pesantren yang cukup ramai. Para santri mengaji di bawah cahaya lampu minyak, suara bedug menggema setiap waktu salat, dan kehidupan berjalan seperti kampung lainnya.
Menurut cerita warga lama, pesantren tersebut didirikan oleh seorang ulama perempuan bernama Nyai Murtadho seorang tokoh yang dihormati sekaligus disegani.
Namun, sejak tahun 1960-an, satu per satu warga mulai pergi.
Alasannya sederhana: akses sulit, tidak ada tetangga, dan kehidupan yang semakin terisolasi.
Hingga akhirnya, Sumbulan menjadi kampung mati.
Meski ditinggalkan, satu sosok masih rutin datang ke Sumbulan: Tohari, mantan warga yang kini tinggal di daerah lain. Ia datang setiap hari sepulang dari sawah, hanya untuk menjaga satu hal yaitu masjid pondok.
“Sepulang dari sawah saya ke sini. Untuk Salat Dhuhur dan Ashar,” ujarnya suatu sore.
Namun ketika ditanya tentang waktu malam, wajahnya berubah sedikit tegang.
“Kalau Subuh, Maghrib, Isya… ya kosong,” katanya singkat.
Sepi tapi mungkin tidak benar-benar kosong.
Suatu hari, seorang pemuda desa bernama Raka nekat ikut Tohari ke Sumbulan. Ia penasaran dengan cerita-cerita yang beredar di kampung sebelah.
“Apa sih, Pak? Masa kampung kosong bisa serem?” tanya Raka sambil tertawa.
Tohari hanya diam. “Nanti kamu tahu sendiri.”
Raka memutuskan untuk tinggal hingga Maghrib. Awalnya, semua terasa biasa. Ia duduk di teras masjid, memandang sawah yang luas, dan mendengar angin yang berdesir pelan.
Namun saat matahari tenggelam, suasana berubah.
Sunyi itu menjadi… terlalu sunyi.
“Pak, kok rasanya beda ya?” bisik Raka.
Tohari hanya menjawab pelan, “Sudah waktunya kita pulang.”
Tapi Raka keras kepala. Ia ingin membuktikan bahwa cerita hantu hanyalah mitos.
Dan di situlah kesalahannya dimulai.
Saat azan Maghrib berkumandang dari mulut Tohari, sesuatu yang aneh terjadi.
Ada suara lain.
Seolah ada gema… atau seseorang yang ikut melantunkan azan.
Raka menoleh cepat. “Pak… itu siapa lagi?” Padahal ditempat itu tak ada lagi manusia selain mereka.
Tohari berhenti sejenak, lalu melanjutkan azan tanpa menjawab.
Setelah selesai, Raka berbisik dengan suara gemetar, “Itu bukan gema, Pak. Ada yang ikut…”
Tohari menatapnya tajam. “Jangan menoleh ke belakang saat azan di sini.”
Namun Raka sudah terlanjur melihat.
Di sudut teras masjid, ia melihat bayangan samar—sosok berjubah putih, duduk diam menghadap kiblat. Dengan muka yang sedikit tertutupi kain jubah, tapi samar terlihat wajah sosok itu berjanggut putih namum wajahnya hitam gelap.
Menurut cerita Sumarno, mantan warga lain, sosok itu diyakini sebagai salah satu santri lama atau bahkan penjaga pesantren yang tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat tersebut.
“Dulu ponpesnya ada di depan masjid,” ujar Sumarno. “Sekarang memang sudah tidak ada… tapi bukan berarti semuanya hilang.”
Raka mulai panik. “Pak, kita pulang sekarang!”
Namun langkahnya terasa berat. Seolah tanah menahannya.
Dan tiba-tiba…
DUK! DUK! DUK!
Suara bedug masjid terdengar keras—padahal tidak ada siapa-siapa di dalam.
Raka berteriak, “Itu siapa?!”
Tohari menarik tangannya. “Jangan dilawan. Kita pergi sekarang.”
Keesokan harinya, Raka jatuh sakit. Ia mengigau sepanjang malam, menyebut-nyebut “santri… masjid… jangan ganggu…”
Warga desa percaya bahwa Sumbulan bukan sekadar kampung kosong. Tempat itu adalah ruang yang ditinggalkan manusia, namun masih dihuni oleh sesuatu yang menjaga—atau mungkin menunggu.
Sisa-sisa peninggalan pesantren masih ada: kitab kuno, Al-Qur’an lama, dan sejarah yang tidak sepenuhnya hilang.
Dan mungkin… juga para penghuninya.
Beberapa hari kemudian, Raka akhirnya pulih. Namun ia berubah.
“Kalau ke sana lagi?” tanya temannya.
Raka menggeleng cepat. “Enggak. Cukup sekali.”
“Memangnya kamu lihat apa?”
Raka terdiam lama, lalu menjawab pelan:
“Ada yang masih mengaji di sana… walaupun tidak ada orang.”
Fenomena seperti Sumbulan bukan hal yang jarang terjadi di Indonesia. Urbanisasi membuat banyak desa ditinggalkan, menciptakan ruang kosong yang perlahan berubah menjadi tempat penuh misteri.
Redaksi Energi Juang News



