Energi Juang News, Wonogiri–Di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, kehidupan berjalan dengan irama yang tenang namun menyimpan lapisan makna mendalam. Rina, gadis berusia lima belas tahun, menjalani hari-harinya dengan kesederhanaan yang nyaris tanpa keluhan. Ia tinggal di rumah bambu beratap genteng rapuh di ujung kampung, dikelilingi hamparan sawah hijau yang menjadi nadi kehidupan keluarga kecilnya. Bersama neneknya, Mbok Sari, Rina belajar memahami alam, dari menanam padi hingga membaca tanda cuaca. Setiap pagi, suara burung dan desir angin sawah menjadi pengantar hari yang terasa biasa, seolah tak menyimpan pertanda apa pun.
Kehadiran ibu Rina, Wulan, hanya terasa lewat kiriman uang yang selalu datang tepat waktu dari Jakarta. Mbok Sari sering berujar sambil menatap tanah sawah, “Tanah ini hidup, Rin, kalau kita rawat, dia akan balas budi.” Kata-kata itu tertanam kuat di benak Rina, terlebih saat hasil panen mereka mulai meningkat. Dari sawah kecil, keluarga itu mampu membeli beberapa petak tambahan. Tetangga sering menyapa ramah, namun di balik senyum itu, Rina kerap menangkap tatapan yang terasa dingin dan mengundang tanya.
Kebahagiaan sederhana itu mulai terusik ketika Mbok Sari mengeluh gatal-gatal di kulitnya setiap musim panen tiba. Awalnya hanya bercak merah kecil, tetapi lama-kelamaan luka itu melebar dan berdarah. “Mungkin alergi lumpur,” kata Pak Wiryo, tetangga sebelah, mencoba menenangkan. Namun anehnya, setiap Wulan pulang kampung, keluhan itu menghilang begitu saja. “Kok pas ibumu datang, nenekmu sembuh?” bisik Bu Marni suatu sore. Pertanyaan itu membuat Rina gelisah, seakan ada pola yang tak kasatmata sedang bekerja.
Bisik-bisik warga semakin sering terdengar di pos ronda dan pinggir sawah. “Sawah mereka terlalu subur, pasti ada yang iri,” ujar seorang bapak sambil menyeruput kopi. Bu Marni bahkan berani berkata langsung, “Rin, ini bukan sakit biasa. Ada yang kirim barang halus.” Rina menolak percaya, namun hatinya mulai diliputi rasa takut. Desa itu memang kaya cerita tentang dunia tak terlihat, dan setiap kisah selalu berakhir dengan peringatan agar manusia tak sombong pada rezeki yang diterima.
Suatu malam, Mbok Sari demam tinggi dan mengigau menyebut nama-nama yang tak dikenal. Suaranya berubah parau, matanya terpejam namun air mata mengalir. “Jangan bawa aku ke sawah hitam itu,” rintihnya. Rina gemetar mendengar kalimat itu. Ketika Wulan akhirnya pulang dan melihat kondisi ibunya, ia memutuskan memanggil Pak Joko, dukun yang dikenal warga. “Ini bukan medis,” kata Pak Joko tegas, “ada tangan iri yang bermain.”
Ritual dilakukan di ruang tengah rumah bambu dengan kemenyan menyengat dan cahaya lampu minyak bergetar. Pak Joko memejamkan mata, lalu berujar lirih, “Yang mengganggu ini arwah penasaran, ditarik oleh santet orang dekat.” Saat itu, udara terasa berat, dan Rina seperti melihat bayangan hitam berdiri di sudut ruangan, berwujud manusia tanpa wajah jelas, matanya merah menyala. “Aku cuma menjaga sawah,” bisik sosok itu dalam bayangan, membuat Rina merinding hingga tulang.
Untuk mencari jalan keluar, Wulan meminta bantuan Siti Bibi yang baru pulang dari Arab Saudi dan dikenal memiliki pengalaman spiritual. Malam ritual besar pun digelar. Lilin-lilin dinyalakan, doa dilantunkan, dan Siti duduk bersila dengan tasbih di tangan. Ia berkata pelan, “Aku masuk sebentar, jangan panggil namaku.” Tak lama, tubuhnya gemetar. Dalam penglihatannya, ia melihat hutan gelap, sungai lumpur, dan rumah kayu lapuk tempat Mbok Sari terikat makhluk berkulit pucat dan berambut panjang menjuntai.
Makhluk-makhluk itu tertawa lirih, suaranya seperti angin di sela bambu. Salah satu sosok berwajah retak mendekat dan berkata, “Panen ini bukan milikmu saja.” Siti melawan dengan doa, cahaya tasbihnya menyilaukan. Perlahan, ikatan gaib terlepas, dan sukma Mbok Sari kembali. Namun sebelum menghilang, arwah terakhir berbisik, “Pelakunya sering makan di rumahmu.” Kalimat itu menggantung seperti kabut, menebar kecurigaan yang lebih menakutkan dari santet itu sendiri.
Keesokan paginya, Mbok Sari sadar dan kondisinya membaik. Warga berdatangan, pura-pura bersimpati. “Syukurlah nenekmu selamat,” kata Bu Marni, matanya bergerak gelisah. Rina kini memandang desa dengan cara berbeda. Setiap senyum terasa bertopeng, setiap tawaran bantuan menyimpan kemungkinan niat lain. Ia mulai memahami bahwa keberhasilan di desa kecil bisa menjadi pisau bermata dua, membawa rezeki sekaligus ancaman tak kasatmata.
Sejak kejadian itu, keluarga Rina tetap menggarap sawah, namun dengan kewaspadaan baru. Mereka kembali pada tradisi lama yang diwariskan leluhur, memberi penghormatan pada alam tanpa berlebihan. Cerita itu menyebar dari mulut ke mulut sebagai pengingat bahwa panen bukan sekadar hasil kerja keras, tetapi juga ujian hati manusia. Di desa tersebut, kisah tentang sawah, iri, dan dunia gaib menjadi rahasia yang tak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu untuk terulang pada mereka yang lupa diri.



