nergi Juang News, Yogyakarta–Suatu malam yang remang di Pantai Parangkusumo Yogyakarta, angin laut membawa desahan lembut seperti bisikan tanpa wujud. Deburan ombak yang berat seolah mengulang-ulang satu nada ratapan, menembus keheningan yang pekat. Langkah kaki ghaib bergema di atas pasir basah saat bulan hampir purnama, meski tidak ada siapa pun berjalan di sepanjang pantai. Sebuah kerikil kecil terlempar seolah terkena tendangan tangan tak kasat mata, dan udara dingin merambat hingga ke tulang. Para penginap di warung kecil dekat pantai menelan ludah saat lampu gantung bergoyang sendirian, bayangan gelap melintas di balik tirai. Aroma asin bercampur bau hangus yang samar tiba-tiba menusuk hidung membuat jantung berdebar. Tidak ada bau makanan laut atau bakaran, hanya bau asap dan besi tua, seperti ruang bawah tanah yang lama terkunci. Seorang wanita tua yang duduk menenun di teras warung berbisik, “Dengar itu? Seperti suara tangisan orang tua, tapi tak pernah terlihat siapa.” Kilatan kilat petir seolah mengungkap siluet tinggi dan ramping bergerak di atas bukit pasir, lalu lenyap tanpa jejak.
Ketika sekelompok turis datang membawa tenda dan ingin bermalam di pinggir pantai, suasana berubah drastis setelah gelap. Mereka menyalakan api unggun dan tertawa mengejek keheningan, sampai salah satu dari mereka menggelitik pasir dengan tangan dan merasakan tekanan dingin di bahunya. “Siapa di belakangku?” tanya dia dengan suara bergetar. Tidak ada balasan selain gemerisik angin. Temannya mencoba memotret ke belakang api unggun, dan dalam bidikan kameranya muncul bayangan wanita berpakaian hijau, rambut panjang menjuntai, berdiri diam memandang mereka. Ketika flash kedua dilepaskan, sosok itu menghilang, namun jejak kakinya di pasir basah terlihat membentuk jejak tanpa ujung.
Warga desa pesisir yang tinggal di dekat pantai sudah terbiasa dengan mitos-mitos yang turun-temurun. Pak Rohman, nelayan tua, bercerita sambil menyalakan rokoknya, “Aku pernah mendengar tangisan saat aku menarik jala waktu senja. Tangisan itu bukan dari manusia, lebih seperti ratapan bayi jauh di dalam laut.” Ibu Sari yang tinggal di warung warisan keluarganya mengatakan bahwa guratan kaca lampu di warungnya pernah pecah sendiri, dan pada saat itulah dia melihat sosok berambut panjang berdiri di luar jendela, matanya merah berkilau seperti bara api. Banyak warga menolak memakai kain hijau saat merayakan malam kepulangan, karena takut sang ratu mengambil mereka ke dasar samudra.
Persis pada tengah malam, seorang pemuda bernama Dimas yang menginap di sebuah losmen sederhana merasakan tubuhnya seperti dicekik sesosok arwah halus. Ia bermimpi didatangi oleh seorang wanita bersolek hijau muda, suaranya lembut seperti bisikan daun kering. “Aku di sini,” kata wanita itu dalam mimpi sambil menoleh ke arah gelombang, dan Dimas terbangun dengan napas terengah. Tangannya meninggalkan bekas merah seperti terbakar, meski tidak ada luka. Ia melihat bayangan tinggi di sudut kamarnya, punggungnya membelakangi pintu, lalu bayangan itu berjalan menjauh dan menghilang ke gelap.
Beberapa malam berikutnya, suara langkah kaki datang dari atas bukit pasir, mengikuti pengunjung yang berjalan sendirian. Tiap kali mereka berpaling, tidak ada apa-apa selain rimbun semak dan kelokan pasir. Cahaya bulan tenggelam di kabut laut, menciptakan siluet samar-samar dari pohon tinggi dan batu karang yang menjulang menyerupai sosok raksasa. Bila seseorang berhenti berjalan, ketenangan hancur oleh desir gaib—seperti rambut diusap, seperti angin menyisir kulit—padahal tidak ada angin. Mereka merasakan napas dingin di tengkuk, dan aromanya seperti campuran laut dan bunga melati yang layu di samping ombak.
Di suatu senja, seorang fotografer amatir bernama Lina datang mencari keindahan alam pantai, tetapi malah menangkap sesuatu yang tidak diharapkan. Saat ia memeriksa hasil foto, di satu bingkai tampak siluet samar sosok wanita muda, memakai hijau pucat, berdiri di tepian laut dengan rambut basah menjuntai. Matanya kosong, seperti cermin pecah yang memantulkan langit merah senja. Lina menunjukkan foto itu kepada pemilik penginapan yang gemetar tangan, “Kau yakin bukan editing?” tanya pemilik penginapan. Lina menggeleng, “Tidak ada satupun efek digital, kamera ini murni.” Suara tangisan lirih terdengar, dan tepat di belakang mereka terdengar langkah kaki di atap gosong kayu.
Beberapa pengunjung pernah tersedak ketakutan di tengah malam karena mimpi buruk yang hampir sama yaitu mimpi di mana ratu laut merangkul mereka dengan tangan dingin, menarik mereka ke dalam air gelap. Salah satu wanita menangis dan terbangun dengan tubuh basah keringat, meskipun ia berada jauh dari laut, di dalam pondokan kayu. Ia terbatuk-batok, berkata, “Aku tak bisa bergerak, airnya sudah sampai leherku,” padahal tidak ada air yang tumpah. Teman sekamarnya mendapati bekas jejak kaki tanpa alas berjalan di lantai kayu, menuju pintu, lalu lenyap tanpa jejak.
Waktu pergantian malam ke dini hari, suara tawa keras bergema dari balik tebing karang, mencengkeram pikiran siapa pun yang mendengarnya. Ada yang memanggil-manggil nama keluarga, memanggil “Bunda…” atau “Ibu…” dalam suara patah-patah. Seorang anak kecil yang ikut wisata keluarga tertidur di pangkuan ayahnya, lalu tiba-tiba menangis, menunjuk ke arah laut, dan berkata sambil gemetar, “Ibu hijau itu ada di dalam air!” Ayahnya menenangkan sambil memeluknya, “Tak ada apa-apa, Nak,” tetapi suara air seperti bersiul dan derap langkah kaki seperti mendekat dari balik ombak.
Konon, larangan mengenakan pakaian berwarna hijau adalah pantangan paling sakral di kawasan itu. Warga lokal memperingatkan bahwa warna hijau dianggap menarik perhatian sang ratu laut. Pak Imam, penjaga warung tengah malam, berseru ketika seorang turis tiba dengan jaket hijau cerah, “Turunkan jaketmu! Jangan kau pancing dia!” Turis itu kebingungan, lalu membuka jaketnya dan menggulungnya, rasa takut merayap di kulitnya. Dalam kegelapan, seseorang berbisik ke telinganya, “Kau memilih warna yang salah,” dan turis tersebut terdiam, merasa ada sosok berdiri di belakangnya, tangan panjang dan dingin menyentuh pundaknya ketika sebelum pagi menjelang semua terasa seperti mimpi.
Arwah wanita cantik yang dikatakan mengenakan hijau sering muncul dalam kabut tipis di pantai saat hujan gerimis. Bentuknya samar, wajahnya pucat, rambutnya bergelombang basah. Kadang ia menyanyi dalam bahasa lama, suara serak dan menggema di antara ombak. Desir ombak mengikuti nadanya, angin meniup kain hijau yang menempel di kulitnya seperti beludru basah. Mereka yang dekat terasa dingin menjalar ke tulang rusuk mereka, seperti tangan tangan gaib meremas dada, lalu sosok itu menghilang, tertelan kabut laut.
Saat fajar mulai menyingsing, keheningan menguasai kembali Pantai Parangkusumo. Namun bau laut dan kehangatan pasir yang mulai meredup tidak mampu mengusir sisa ketakutan. Jejak kaki di pasir tetap ada meski jejak kaki halus tanpa alas yang menuju ke laut dan meski ombak telah pecah di batu karang, gema tangisan masih terdengar di telinga yang terjaga. Bagi mereka yang pernah merasakan, malam di pantai itu bukan sekadar gelap dan sunyi; ia adalah pintu antara yang hidup dan yang gaib, antara manusia dan kerajaan bawah laut.
Redaksi Energi Juang News



