Energi Juang News, Mamuju– Remang senja turun seperti tirai kusam yang menutup desa Takandeang, Kecamatan Tappalang. Jalan menurun menuju jembatan tua itu licin setelah hujan tipis, dan kabut dari sungai di bawahnya merayap naik seperti napas dingin yang tidak terlihat. Hutan di kiri kanan berdesir pelan, seolah berbisik dalam bahasa yang tak pernah dipelajari manusia. Di ujung jalan, lampu kendaraan sesekali melintas, lalu menghilang ditelan kegelapan. Seorang pengendara yang pernah mendengar kisah angkernya jembatan itu pasti berhenti sebentar, menatap lurus ke depan berharap tak terjadi hal hal yang tak diinginkan.
Di warung kopi kecil tak jauh dari jalan, warga duduk melingkar, menunggu malam semakin larut. Belu (58) salah satunya berkata pelan, “Cerita dulu itu begitu… memang banyak orang dengar suara aneh kalau lewat situ.” Uap kopi mengepul di antara mereka. Irfan, pemuda setempat, menimpali dengan suara tertahan, “Banyak yang lihat perempuan berdiri di pembatas jembatan kalau malam. Rambutnya panjang, bajunya putih. Jalan dari dua arah kan turunan terjal… tidak ada lampu, cuma hutan sama air sungai di bawah.” Kata-kata itu membuat orang yang mendengar penasaran.
Konon, gangguan selalu diawali dengan hal kecil. Mesin kendaraan tiba-tiba mati, rem terasa berat, atau telinga mendengar langkah kaki di atas atap mobil. “Kalau malam Jumat… biasa mulai dari suara,” ujar seorang warga lain dengan mata menatap meja. “Seperti orang memanggil, tapi tidak jelas dari mana.” Banyak pengendara mengaku melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di pepohonan atau di pembatas jembatan. Mereka yang menatap terlalu lama sering kehilangan kendali, seakan setir ditarik oleh tangan yang tidak kasatmata.
Sejarah jembatan itu sendiri menambah rasa gentar. Dahulu, bangunan itu dibuat dari kayu hitam yang kuat, sehingga disebut “bolong”, yang dalam bahasa lokal berarti hitam. Waktu berganti, kayu diganti fondasi kokoh dan pembatas jalan dipasang, tetapi cerita yang menempel padanya tidak pernah pudar. Bahkan setelah jembatan baru dibangun, jembatan lama yang ditinggalkan justru menjadi tempat bisikan-bisikan aneh paling sering terdengar. “Dulu ini satu-satunya penghubung Trans Sulawesi Mamuju-Makassar,” kata Belu. “Semua orang lewat situ… semua orang tahu rasanya.”
Seorang sopir bus yang selamat dari kecelakaan puluhan tahun lalu pernah kembali ke desa itu. Ia mengisahkan dengan suara serak, “Saya lihat perempuan di tengah jalan… tiba-tiba saja. Saya banting setir, tapi seperti ada yang dorong dari belakang.” Bus itu menabrak pembatas hingga bolong dan terjun ke sungai. Banyak penumpang tewas malam itu. Warga percaya kejadian itu bukan sekadar kecelakaan biasa. “Dari situ orang bilang jembatan ini minta tumbal,” ujar Belu lirih.
Di sisi kanan jembatan lama, pernah ada fondasi aneh yang kini sudah hilang. Warga menyebutnya tempat persembahan. “Ada dulu semacam fondasi di ujung jembatan katanya di situ tempat tumbal,” kata Belu sambil menatap jauh. “Entah hewan atau manusia. Sekarang sudah tidak ada… tapi cerita tetap ada.” Beberapa warga mengaku pernah melihat bayangan berdiri di bekas lokasi itu, diam seperti menunggu sesuatu yang belum terpenuhi.
Suatu malam Jumat, seorang pemuda bernama Andi melintas sendirian dengan sepeda motor. Ia sempat mendengar suara perempuan tertawa pelan dari arah sungai. “Saya pikir cuma angin,” katanya kepada warga esok harinya. Namun ketika menoleh ke pembatas jembatan, ia melihat sosok putih berdiri tegak dengan rambut menutupi wajah. Motor Andi mendadak mati. Udara di sekelilingnya terasa berat, dan suara air sungai berubah seperti bisikan banyak orang sekaligus. Andi berhasil selamat, tetapi sejak malam itu ia menolak melintasi jalan tersebut.
Malam semakin larut di Takandeang. Lampu-lampu rumah padam satu per satu, menyisakan suara serangga dan arus sungai yang tak pernah tidur. Beberapa warga bersumpah pernah melihat sosok itu tidak hanya di jembatan, tetapi berjalan pelan di tepi jalan, lalu menghilang di antara pepohonan. “Dia seperti mencari,” bisik seorang ibu tua. “Seperti menunggu orang berhenti… lalu mendekat.”
Bahkan setelah jembatan baru dibangun dan arus kendaraan dialihkan, cerita tidak berhenti. Beberapa pengendara yang nekat melewati jembatan lama demi jalan pintas melaporkan pengalaman serupa. Suara aneh, bayangan putih, dan perasaan diawasi dari ketinggian. Jalan menurun yang sempit dan licin membuat mereka tak bisa melaju cepat, seakan dipaksa merasakan setiap detik di tempat itu. “Kalau lewat situ… jangan menoleh,” kata warga kepada pendatang. “Kalau menoleh, biasanya sudah terlambat.”
Kini, jembatan lama berdiri sunyi di tengah hutan dan sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Pembatasnya yang pernah berganti berkali-kali masih menyimpan bekas tabrakan. Di malam-malam tertentu, warga mengaku melihat bayangan perempuan berdiri di atasnya, menatap ke arah jalan kosong dengan wajah yang tak pernah terlihat jelas. Mereka yang percaya mengatakan jembatan itu bukan sekadar penghubung jalan, melainkan perbatasan antara yang hidup dan mati. Dan setiap remang senja turun, desa Takandeang kembali menahan napas, menunggu siapa lagi yang akan mendengar panggilan dari kegelapan.



