Energi Juang News, Cirebon– Dina, gadis kecil berusia enam tahun, tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota Cirebon. Kamar Dina kecil namun rapi, dipenuhi buku gambar dan alat tulis berwarna. Suasananya selalu terasa hangat dan aman, apalagi setiap sore terdengar suara ibu-ibu bercakap di luar rumah. Tidak ada satu pun tanda bahwa kamar itu akan menjadi saksi pengalaman yang kelak membuat Dina takut tidur sendirian.
Pada hari ulang tahunnya, Dina menerima hadiah yang tidak biasa dari seorang teman orang tuanya, sebuah boneka kayu tua dengan ukiran sederhana. Wajah boneka itu tersenyum kaku, dengan mata hitam kecil yang terlihat terlalu tajam untuk ukuran mainan anak. Dina sebenarnya tidak menyukai boneka, namun ibunya berkata, “Namanya hadiah, Nak, disimpan saja dulu.” Dengan patuh, Dina meletakkannya di sudut kamar.
Sejak boneka itu berada di kamarnya, Dina sering merasa tidak nyaman, meski ia belum bisa menjelaskan alasannya. Saat belajar di meja kecilnya pada suatu malam, ia merasa seperti ada yang memperhatikannya. Dina menoleh dan pandangannya tertuju pada boneka kayu itu. Boneka tersebut tidak bergerak, namun tatapannya terasa hidup. “Kok rasanya bonekanya lihat aku?” gumam Dina lirih, mencoba menenangkan diri.
Ibunya sempat masuk kamar dan melihat Dina gelisah. “Kenapa, Dina?” tanya sang ibu lembut. Dina menjawab pelan, “Boneknya bikin Dina takut.” Sang ibu tersenyum, mengelus kepala Dina sambil berkata, “Itu cuma boneka kayu, tidak apa-apa.” Meski begitu, ibu Dina sempat melirik boneka itu sekilas, lalu cepat-cepat keluar kamar seolah tidak ingin berlama-lama.
Malam semakin larut dan Dina pun bersiap tidur. Lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya temaram. Saat berbaring, Dina merasa sudut kamar menjadi lebih gelap dari biasanya. Setiap kali ia menoleh, posisi boneka itu terasa seperti berubah, semakin dekat ke tempat tidurnya. “Mungkin Dina capek,” bisiknya, mencoba menutup mata meski jantungnya berdebar.
Di tengah malam, Dina terbangun dengan perasaan aneh, seolah ada hawa dingin menyentuh kakinya. Perlahan, ia membuka mata dan napasnya tertahan. Boneka kayu itu kini berdiri tegak di dekat tempat tidur, senyumnya melebar tidak wajar. Dari celah bibir kayu yang retak, terdengar suara pelan dan serak, “Mainkan aku…” Suara itu bukan suara anak-anak, melainkan berat dan kosong.
Jeritan Dina membangunkan seluruh rumah. Ayahnya berlari masuk kamar dan mendapati Dina menangis ketakutan. “Boneknya bicara, Yah!” teriak Dina. Ayahnya menoleh ke sudut kamar dan terdiam sejenak sebelum berkata tegas, “Kita keluarkan boneka ini sekarang.” Boneka itu lalu dibungkus kain dan dibawa keluar rumah, meski ayah Dina merasa tangannya dingin seperti memegang es.
Keesokan paginya, ayah Dina bertanya pada tetangga sekitar. Seorang kakek yang tinggal tak jauh dari situ berkata pelan, “Boneka kayu itu mirip boneka lama dari rumah kosong ujung gang.” Warga lain menimpali, “Dulu ada anak kecil meninggal di rumah itu, katanya arwahnya suka menempel di mainan.” Percakapan itu membuat orang tua Dina semakin yakin bahwa boneka tersebut bukan benda biasa.
Makna seram dari boneka itu bukan hanya pada wujudnya, tetapi pada arwah yang diyakini terikat di dalamnya. Warga menyebut arwah tersebut sebagai jiwa kesepian yang mencari teman bermain. Tatapan boneka dipercaya menjadi jalan arwah untuk memperhatikan dunia manusia. Setiap senyumnya bukanlah kebahagiaan, melainkan undangan dingin yang membuat siapa pun merasa diawasi.
Sejak kejadian itu, Dina tidak pernah lagi meminta mainan boneka. Kamar Dina kini terasa lebih terang, namun trauma masih tersisa. Kisah boneka berhantu di sudut kamar pun menyebar di lingkungan sekitar Cirebon sebagai peringatan. Warga sering berpesan, “Jangan sembarang membawa barang lama ke rumah.” Karena terkadang, yang ikut datang bukan hanya benda, tetapi juga sesuatu dari dunia lain yang enggan pergi.
Redaksi Energi Juang News



