Energi Juang News, Sukoharjo– Di sebuah dusun Kriwen di Kabupaten Sukoharjo, masyarakat masih memegang teguh tradisi-tradisi lama yang penuh dengan kisah mistis. Salah satu cerita yang hingga kini terus dibicarakan adalah tentang sosok lelembut sawah yang dikenal dengan nama Janggitan. Tidak semua warga berani membicarakannya secara langsung, apalagi saat malam mulai turun. Meskipun keberadaannya dipercaya membantu para petani menjaga sawah dari pencuri dan hama, penampakan sosok ini sering kali memunculkan rasa takut luar biasa, terutama karena wujudnya yang menyeramkan.
Menurut cerita warga, Janggitan bukan sembarang makhluk halus. Ia diyakini sengaja “dipanggil” oleh petani tertentu sebagai penjaga sawah mereka. Bentuk pemeliharaannya pun tidak biasa—berupa sesajen yang rutin diberikan, terdiri dari bunga melati, secangkir kopi pahit, dan sebatang rokok kretek yang diletakkan di pematang sawah saat malam Jumat. Mereka yang tidak memberikan sesajen tepat waktu, konon akan dihantui mimpi buruk atau bahkan kehilangan hasil panennya secara misterius.
Wujud dari Janggitan sungguh tidak lazim dan jauh dari bentuk manusia biasa. Kulit tubuhnya terlihat seperti telah membusuk, mengelupas di banyak bagian dengan bau menyengat tanah basah. Wajahnya gelap legam dengan mata kosong yang dalam, namun yang paling mencolok adalah taring panjang mencuat dari kedua sisi mulutnya. Yang paling menyeramkan, dahi makhluk ini memancarkan cahaya kuning terang seperti lampu petromaks, membuat siapa pun yang melihat dari kejauhan bisa terkecoh.
Itulah yang pernah dialami oleh Walijo, seorang petani tua yang bermukim tak jauh dari ladang di Dukuh Ngebrak. “Waktu itu aku kira Wito yang datang bawa petromaks, mau bantu nyemprot malam-malam,” ujar Walijo sambil mengelus tengkuknya, seolah masih merinding mengingat kejadian itu. “Tapi pas aku samperin, kok kakinya aneh, tumitnya di depan. Lha wong jalan maju kok kaya mundur, langsung aku balik badan, lari pulang.”
Warga lain bernama Mbok Ginem, seorang janda tua penjual jamu, juga punya cerita yang tak kalah mengerikan. Suatu malam ia lewat di dekat sawah saat pulang dari rumah tetangganya. Dari kejauhan ia melihat sosok tinggi besar berdiri diam, tampak seperti pria telanjang dengan cahaya di dahinya. “Aku kira anak-anak main senter. Tapi pas cahaya itu makin dekat, aku lihat kulitnya mengelupas, ada ulat jalan di lengannya,” katanya sambil bergidik. “Aku langsung melipir ke rumah Pak Dukuh, nggak berani lihat ke belakang.”
Keunikan dari Janggitan yang berjalan dengan tumit terbalik inilah yang membuatnya mudah dikenali, tapi juga membuat orang salah sangka. Banyak yang mengira dia manusia biasa dari jauh. Cahaya kuning dari dahinya, yang terlihat seperti petromaks, sering kali membuat warga mengira ada orang lain yang sedang berada di sawah. Namun, begitu mereka mendekat, barulah terlihat kejanggalan yang mengerikan: sosok itu tidak berpakaian, kulitnya berlendir, dan tidak memiliki bayangan.
Menurut cerita dari Pak Parto, seorang sesepuh desa, Janggitan tidak akan mengganggu jika sesajen selalu diberikan secara benar dan tidak dilanggar pantangannya. “Jangan pernah sebut namanya malam hari. Jangan lewat sawah sendirian kalau angin bertiup dari utara,” ujarnya dengan suara pelan. Ia juga memperingatkan agar jangan menatap langsung cahaya kuning di dahinya, karena bisa membuat orang kerasukan atau linglung selama berhari-hari.
Beberapa tahun lalu, seorang pemuda dari luar desa mencoba membuktikan bahwa cerita Janggitan hanyalah mitos. Ia nekat tidur di gubuk sawah tanpa membawa sesajen atau izin dari warga setempat. Esok paginya, pemuda itu ditemukan dalam kondisi shock berat, tubuh gemetar, dan matanya terus menatap kosong. “Dia cuma bilang, ‘Kakinya mundur, kakinya mundur…'” ujar warga yang menolongnya. Hingga kini, pemuda itu masih menjalani terapi jiwa di kota Solo.
Meski Janggitan dianggap sebagai penjaga sawah, kehadirannya tetap membuat banyak warga merasa cemas, terutama saat musim panen. Banyak yang memilih tidak bekerja di malam hari, dan selalu memastikan sesajen disiapkan lengkap. Tradisi ini terus berlangsung turun-temurun, menjadi bagian dari kepercayaan kolektif masyarakat desa. Bahkan anak-anak kecil sudah diajarkan untuk tidak bermain terlalu jauh ke tengah sawah saat senja mulai turun.
Legenda Janggitan menjadi simbol ketakutan sekaligus penghormatan terhadap alam dan dunia tak kasat mata. Di tengah modernisasi, cerita ini tetap hidup, mengingatkan bahwa tak semua penjaga datang dalam wujud yang menyenangkan. Dan di balik setiap lelembut, tersimpan perjanjian tak tertulis antara manusia dan makhluk gaib, yang jika dilanggar, bisa mengundang bencana.
Redaksi Energi Juang News



