Energi Juang News, Jakarta– Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang membuka peluang warga negara asing (WNA) memimpin BUMN justru rawan gagal.
Menurut Bhima, strategi ini mirip dengan program naturalisasi pemain asing di PSSI, yang tidak serta-merta membuat Timnas Indonesia lolos Piala Dunia 2026.
Mimpi Menyamai Temasek
Bhima menyebut, arah kebijakan Prabowo tampaknya ingin meniru model Temasek Holdings Singapura.
Temasek dikenal berhasil mengumpulkan jajaran direksi kelas dunia, mulai dari eks direktur perusahaan multinasional hingga CEO manufaktur global.
“Mimpi ke sana boleh saja. Tapi meniru Temasek bukan sekadar mengimpor talenta asing,” ujar Bhima dalam acara Kompas Bisnis, Jumat (18/10/2025).
Butuh Meritokrasi, Bukan Titipan Jabatan
Bhima menegaskan, kunci transformasi BUMN bukan soal WNI atau WNA, melainkan sistem meritokrasi.
Ia mengkritik praktik jabatan titipan, komisaris rangkap jabatan, hingga direksi yang terafiliasi partai politik. Menurutnya, jika konflik kepentingan tidak dibereskan, BUMN akan sulit dikelola profesional.
“CEO BUMN harus dipilih secara merit, bukan karena loyalitas politik,” tegasnya.
Talenta Lokal Masih Banyak
Bhima juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki banyak talenta potensial, termasuk diaspora di luar negeri.
Sebelum menunjuk ekspatriat, pemerintah seharusnya menggali kemampuan anak bangsa yang siap menduduki kursi direksi.
“Talenta kita cukup banyak. Pertanyaannya bukan WNI atau WNA, tapi meritrokrasi,” jelasnya.
Risiko Eksperimen Tanpa Dasar
Bhima menilai kebijakan impor direksi asing tanpa persiapan ibarat eksperimen tanpa fondasi.
Ia mengibaratkan langkah tersebut sama saja dengan naturalisasi pemain bola oleh PSSI, yang tidak otomatis mendongkrak prestasi tim nasional.
“Kalau tanpa prakondisi, hasilnya hanya coba-coba. BUMN tidak akan ke mana-mana,” tutupnya.
Redaksi Energi Juang News



