Sabtu, Mei 30, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBayangan Hantu Dompe di Atas Genting

Bayangan Hantu Dompe di Atas Genting

Energi Juang News,Sulsel- Langit sore di sebuah kampung tua di pesisir Pulau Sulawesi tampak seperti kain kelabu yang menutup matahari. Angin yang biasanya membawa aroma laut mendadak terasa berat dan panas. Burung-burung yang biasa bertengger di atap rumah panggung terbang menjauh tanpa suara. Penduduk desa tidak menyebut fenomena itu sebagai pertanda buruk—mereka menyebutnya kebiasaan yang tak pernah bisa dijelaskan.

“Kalau atap terasa seperti ditekan dari atas, jangan keluar rumah,” kata seorang nenek tua kepada cucunya sambil menutup jendela kayu. Anak itu hanya mengangguk, meski matanya tetap mengarah ke genting yang berderit pelan.

Beberapa bulan lalu, seorang perantau bernama Rahman kembali ke kampung halamannya di pedalaman Sulawesi Selatan. Ia datang untuk menjual rumah peninggalan orang tuanya. Namun sejak malam pertama, ia merasa rumah itu seperti diperhatikan sesuatu yang tak terlihat.

“Pak Rahman, kalau dengar suara kepakan di atas atap, jangan dilawan,” bisik tetangganya, Pak Lallo, saat membantu menurunkan barang dari mobil.
“Kepakan burung?” Rahman bertanya.
Pak Lallo hanya menatap lama sebelum menjawab pelan, “Bukan burung.”

Malam pertama berlalu tanpa kejadian aneh. Namun tepat ketika matahari condong ke barat keesokan harinya, Rahman mencium bau tanah basah bercampur logam. Tidak busuk, tidak amis—hanya aneh. Ia keluar rumah dan melihat bayangan kecil bergerak cepat di atas genting.

Suara kepakan terdengar pelan, seperti kain besar yang digesek angin. Rahman mendongak, tapi tak melihat apa pun. Hanya satu genting yang tampak sedikit turun, seolah ditekan sesuatu yang ringan namun hidup.

“Pak… dengar juga?” tanya Rahman kepada tetangganya yang berdiri di pagar.
Tetangga itu pucat. “Masuk rumah. Cepat.”

Baca juga :  Asal Usul Hantu Welwok : Legenda Balas Dendam Arwah Ibu Hamil yang Meninggal Tragis

Keesokan harinya, warga mulai berkumpul di teras rumah Rahman. Seorang pria tua yang dikenal sebagai penjaga adat duduk bersila sambil menatap atap.

“Kalau sudah bertengger, berarti ada yang mengirim,” ucapnya lirih.
“Siapa yang mengirim, Pak?” tanya seorang pemuda.
“Orang yang menyimpan niat hitam(niat jahat).”

Seorang ibu menyela dengan suara bergetar, “Saya pernah dengar suara itu dulu… waktu rumah keluarga saya kena santet.”

Rahman menolak percaya. Ia menganggap semua itu hanya sugesti. Namun malam berikutnya, ia terbangun oleh suara yang lebih jelas—kepakan berat, disertai bunyi goresan halus seperti kuku menyentuh tanah liat.

Ia membuka pintu dan melihat seekor kucing kampung menatap lurus ke atap dengan bulu berdiri. Hewan itu tidak mendesis, tidak mengeong—hanya menatap dengan mata membelalak, lalu lari terbirit-birit.

“Siapa di atas?” teriak Rahman.

Tidak ada jawaban. Hanya kepakan yang berhenti mendadak, diikuti keheningan yang terasa terlalu rapat.

Pagi harinya, seorang perempuan paruh baya datang membawa daun dan air yang telah didoakan. Ia menaburkan air itu di sekitar rumah.

“Benda itu tidak suka diperhatikan,” katanya.
Rahman bertanya, “Apa sebenarnya yang datang?”
Perempuan itu menatapnya dalam-dalam. “Makhluk yang tidak ingin dilihat.”

Warga desa kemudian menceritakan kisah lama. Mereka menyebut sosok bertelinga besar yang mampu terbang dan sering bertengger di atas rumah. Konon makhluk itu jarang terlihat jelas karena sifatnya pemalu, tetapi kehadirannya selalu terasa melalui suara sayapnya.

“Dulu ada yang melihatnya siang hari,” ujar Pak Lallo.
“Bagaimana bentuknya?”
“Seperti binatang kecil… tapi matanya seperti manusia.”

Rahman mulai kehilangan ketenangan. Setiap kali angin berhembus, ia merasa atap rumahnya hidup. Bahkan pada siang hari, bayangan kecil kadang melintas cepat di pinggir pandangannya.

Baca juga :  Misteri Hantu Sumbulan: Desa Sunyi yang Terlupakan

Suatu sore, seorang anak kecil berteriak dari halaman.
“Om! Ada orang duduk di atas rumah!”

Semua warga berhamburan keluar. Mereka hanya melihat genting yang sedikit melengkung, seolah menahan beban. Tidak ada tubuh, tidak ada bayangan—hanya suara kepakan pelan yang terdengar sesaat, lalu lenyap.

Malam itu, Rahman akhirnya mengakui ketakutannya. Ia duduk bersama penjaga adat di ruang tamu yang remang.

“Kalau benar ada yang mengirim, bagaimana cara menghentikannya?”
Penjaga adat menghela napas panjang.
“Yang dikirim bukan sekadar makhluk. Itu pesan.”

“Apa pesannya?”
“Bahwa seseorang ingin rumah ini jatuh… atau penghuninya pergi.”

Angin tiba-tiba berembus keras. Atap rumah bergetar seperti dipukul sesuatu dari atas. Suara kepakan terdengar jelas—berat, lambat, dan sangat dekat.

Seorang warga berbisik panik, “Dia datang lagi…”

Rahman memberanikan diri membuka pintu. Ia menatap atap dengan napas tertahan. Dalam kilatan petir yang jauh, ia melihat siluet kecil dengan dua bidang lebar seperti sayap… atau telinga.

Siluet itu bergerak cepat, lalu menghilang.

Sejak malam itu, Rahman memutuskan menjual rumah tersebut lebih cepat dari rencananya. Namun sebelum pergi, ia bertanya kepada Pak Lallo, “Apakah makhluk itu akan pergi juga?”

Pak Lallo menggeleng pelan.
“Tidak semua yang datang bisa pergi. Kadang mereka hanya menunggu pemilik berikutnya.”

Beberapa minggu setelah Rahman meninggalkan desa, rumah itu kosong. Namun warga masih mendengar kepakan sesekali pada sore hari. Tidak setiap hari, tidak setiap malam—hanya saat suasana terlalu sunyi.

Seorang remaja desa pernah berkata, “Saya tidak takut, selama tidak melihat wujudnya.”
Penjaga adat menjawab pelan, “Justru karena tidak terlihat, orang tidak pernah siap.”

Hingga kini, kisah tentang makhluk yang bertengger di atas genting tetap hidup di kalangan warga. Mereka percaya, ketika suara kepakan terdengar tanpa angin, ada sesuatu yang sedang mengawasi dari tempat yang tidak bisa dijangkau manusia.

Baca juga :  Misteri Hantu Pedagang Bakso: Kampung Tak Kasat Mata

Dan di desa itu, setiap kali atap rumah berderit tanpa sebab, orang-orang memilih diam—karena mereka tahu, ada kehadiran yang tidak ingin dikenali… tetapi selalu ingin diketahui.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments