Energi Juang News,Jakarta- Di dunia musik Indonesia, tidak semua vokalis memiliki kemampuan meninggalkan jejak emosional yang kuat di telinga pendengar. Ada penyanyi dengan teknik luar biasa, ada pula yang tampil penuh karakter. Salah satu nama yang berhasil mencapai titik itu adalah Once Mekel.
Suara Once bukan tipe vokal yang langsung meledak-ledak. Ia justru punya karakter tenang, dalam, dan terasa “mahal”. Ketika menyanyikan lagu rock, ia tetap terdengar elegan. Saat membawakan lagu cinta, emosinya terasa mengalir tanpa perlu dramatis berlebihan.
Sebagai pengamat musik, saya melihat Once Mekel sebagai representasi penyanyi era transisi musik Indonesia. Ia datang di saat industri musik mulai bergerak dari era rock 1990-an menuju pop modern awal 2000-an. Dan menariknya, Once berhasil bertahan di tengah perubahan itu tanpa kehilangan identitas vokalnya.
Perjalanan musik Once Mekel sebenarnya dimulai jauh sebelum namanya dikenal publik nasional. Lahir di Makassar pada 21 Mei dengan darah Manado yang kental, pemilik nama asli Ellfonda Mekel ini sudah akrab dengan dunia tarik suara sejak remaja.
Saat masih SMP, Once diminta menjadi vokalis pengganti dalam sebuah festival band. Dari situ, bakat menyanyinya mulai terlihat. Masa SMA menjadi periode ketika hobinya berkembang lebih serius, terutama karena ia aktif tampil di berbagai acara musik.
Yang menarik, pengaruh gereja juga sangat besar dalam pembentukan karakter vokalnya. Once aktif bernyanyi dalam paduan suara gereja, dan di sanalah kontrol vokal serta harmonisasinya mulai terasah.
Kalau diperhatikan, banyak penyanyi besar Indonesia memang lahir dari tradisi paduan suara gereja. Lingkungan itu melatih disiplin nada, teknik pernapasan, dan kepekaan harmoni sejak dini. Dan Once membawa semua bekal itu ke dunia musik profesional.
Meski sibuk manggung, Once tidak meninggalkan pendidikan. Tahun 1989, ia masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ini menarik karena memperlihatkan sisi lain dari seorang musisi rock.
Di tengah stereotip bahwa musisi identik dengan kehidupan bebas dan antiaturan, Once justru menyelesaikan kuliah hukum dengan serius. Ia bahkan aktif bermusik sambil menjalani kehidupan kampus.
Pada awal 1990-an, Once mulai terlibat dalam berbagai proyek musik seperti album kompilasi bersama Andy Liany, Ronald, dan Pay. Ia juga membentuk band Fargat 27 serta Java Burns yang kemudian berkembang menjadi Bottoms Up.
Sebagai pengamat musik, saya melihat fase ini sebagai masa pembentukan identitas musikal Once. Ia belum menjadi bintang besar, tetapi sedang mengumpulkan pengalaman panggung yang nantinya sangat penting dalam karier profesionalnya. Karena di dunia musik, jam terbang sering kali lebih penting daripada popularitas instan.
Pada 1993, perjalanan karier Once sempat terhenti ketika pita suaranya mengalami gangguan. Banyak penyanyi mungkin akan panik menghadapi situasi seperti ini, apalagi di usia muda ketika karier sedang mulai berkembang. Namun Once memilih mundur sementara dari dunia musik.
Masa vakum itu justru digunakannya untuk fokus menyelesaikan kuliah. Setelah tujuh tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya lulus pada 1996 dan bekerja sebagai legal coordinator di perusahaan konstruksi.
Bayangkan, seorang calon rockstar yang kelak mengisi stadion justru sempat bekerja kantoran dan terlibat proyek penelitian bersama LIPI dan CSIRO. Tetapi mungkin justru pengalaman hidup seperti inilah yang membuat karakter Once terasa lebih matang dibanding banyak vokalis lain pada masanya.
Tahun 1997 menjadi titik balik penting. Setelah empat tahun vakum, Once kembali bernyanyi di sebuah kafe.Dari situ, Once merasa dunia musik adalah tempat yang benar-benar ingin ia jalani. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan tetap demi fokus menjadi musisi profesional.
Keputusan besar itu akhirnya membawanya bertemu Dewa 19. Saat itu Dewa baru kehilangan vokalis lamanya, Ari Lasso. Banyak penggemar sempat ragu apakah band sebesar Dewa bisa bertahan setelah pergantian vokalis. Namun tahun 2000, Once Mekel resmi bergabung. Dan hasilnya justru di luar dugaan.
Masuknya Once membawa perubahan besar dalam warna musik Dewa 19. Suaranya yang bersih dan emosional membuat lagu-lagu ciptaan Ahmad Dhani terdengar lebih megah dan matang. Album Bintang Lima menjadi ledakan besar. Lagu seperti “Roman Picisan,” “Risalah Hati,” hingga “Separuh Nafas” menjadikan Dewa 19 band paling dominan di awal 2000-an.
Sebagai pengamat musik, saya melihat kombinasi Ahmad Dhani dan Once Mekel seperti duet komposer dan vokalis yang saling melengkapi secara sempurna. Dhani menciptakan lagu dengan emosi besar, sementara Once menyampaikannya dengan teknik vokal yang elegan.
Itulah sebabnya banyak lagu Dewa era Once masih terdengar relevan hingga sekarang. Ada kualitas musikal yang melampaui zamannya.
Meski sukses besar bersama Dewa 19, Once juga menunjukkan kapasitasnya sebagai solois. Lagu “Dealova” menjadi salah satu titik penting dalam kariernya. Soundtrack film itu berhasil memperlihatkan sisi romantis dan lembut dari karakter vokalnya.
Kesuksesan lagu tersebut bahkan membuat Once meraih penghargaan AMI Awards 2006 untuk kategori Penyanyi Pop Solo Pria Terbaik dan Lagu Pop Terbaik.
Tidak berhenti di situ, ia juga merilis lagu solo lain seperti “Kucinta Kau Apa Adanya” dan “Symphony yang Indah.” Menariknya, Once tidak pernah terdengar seperti penyanyi yang memaksakan tren pasar. Ia tetap mempertahankan gaya vokal yang dewasa dan berkelas.
Dan di tengah industri musik yang sering mengejar sensasi cepat, konsistensi seperti itu justru membuatnya bertahan lama.
Tahun 2010 menjadi momen emosional ketika Once memutuskan keluar dari Dewa 19 demi fokus pada karier solo.
Karena publik sudah begitu melekatkan Once dengan Dewa 19. Tetapi sebagai seniman, ia tampaknya ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berdiri sendiri tanpa bayang-bayang band besar.
Album solo perdananya dirilis pada 2012 setelah sebelumnya meluncurkan single “Pasti Untukmu” dan “Hilang Naluri.”
Album tersebut memenangkan tiga kategori di AMI Awards 2013, termasuk Album Rock Terbaik dan Produser Album Rekaman Terbaik.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa Once bukan sekadar “mantan vokalis Dewa,” melainkan musisi utuh dengan identitas sendiri.
Hari ini, Once Mekel tetap menjadi salah satu vokalis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia bukan tipe penyanyi yang hidup dari sensasi media sosial atau kontroversi.
Suara khasnya masih mampu membangkitkan nostalgia generasi 2000-an, sekaligus tetap relevan bagi pendengar baru. Di era ketika banyak musik dibuat cepat dan mudah dilupakan, karakter vokal Once justru terasa semakin langka.
Redaksi Energi Juang News



