Jumat, April 24, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaMisteri Sosok Hantu Biyung Tulung di Yogyakarta

Misteri Sosok Hantu Biyung Tulung di Yogyakarta

Energi Juang News,Yogyakarta- Langit Yogyakarta malam itu menggantung rendah, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin diungkap. Angin berdesir pelan melewati pepohonan, menyisakan rasa dingin yang merambat ke tulang. Kota pelajar yang siang harinya riuh dengan diskusi kampus dan kafe-kafe penuh tawa, berubah menjadi wilayah sunyi ketika jarum jam melewati tengah malam.

Bimo, mahasiswa tingkat akhir jurusan antropologi, berdiri di depan kosnya sambil memandangi jalan yang lengang. Skripsinya membahas urban legend di Yogyakarta, dan malam itu ia memutuskan untuk menelusuri salah satu kisah paling mengganggu yang pernah ia dengar dari warga.

Ia ingin membuktikan bahwa cerita itu hanyalah konstruksi sosial. Padahal temannya, Raka, sempat memperingatkan,“Mo, kamu yakin mau riset malam-malam di sana?”

“Tenang saja. Aku cuma butuh rekaman suara,” jawab Bimo santai.

“Kalau dengar teriakan perempuan minta tolong, jangan dijawab.” Bimo tertawa. “Itu cuma sugesti.” Ia tak tahu, malam itu akan mengubah keyakinannya.

Lokasi pertama yang ia datangi adalah Jalan Kaliurang. Jalan panjang yang membentang menuju lereng Merapi itu memang dikenal memiliki banyak cerita mistis. Lampu-lampu jalan temaram, dan suara kendaraan semakin jarang terdengar menjelang dini hari.

Bimo memarkir motornya di pinggir jalan dekat area yang sepi. Ia menyalakan alat perekam suara dan berjalan perlahan menyusuri trotoar.

Hening dan hanya suara angin dan dedaunan.

Lima belas menit berlalu tanpa apa pun. Ia mulai merasa lega.

Tiba-tiba, “Tulung… Tulung…” Suara itu lirih berasal dari tempat jauh. Seperti berasal dari balik pepohonan.

Bimo membeku dan ia menoleh ke kanan dan kiri namun tidak ada siapa-siapa.

“Tulung… Tulung…” Kali ini lebih jelas asal suara berjenis perempuan. Suaranya parau, seperti dalam penderitaan yang panjang. Suara memohon dan menghiba yang dalam penuh harap.

Baca juga :  Kisah Konser Gaib Musik Religi di Kaki Gunung Merapi

“Siapa?” teriak Bimo, refleks ia menjawab.

Hening tak ada jawaban disana. Suara minta tolong itu menghilang begitu saja.

Merasa ada yang aneh, jantung pemuda itu berdegup lebih cepat. Ia mencoba berpikir logis. Mungkin ada orang iseng. Atau suara dari rumah penduduk.

Setelah ia mengecek ternyata jalan itu kosong.

Keesokan harinya, Bimo mendatangi rumah Pak Wiryo, warga setempat yang sudah puluhan tahun tinggal di sekitar Kaliurang.

“Pak, semalam saya dengar suara perempuan minta tolong di pinggir jalan.”

Pak Wiryo menatapnya lama.
“Kamu jawab?”tanya Pak Wiryo serius dan terbersit kekhawatiran.

“Iya. Saya teriak ‘siapa?’ Jawab Bimo

Wajah Pak Wiryo langsung berubah tegang.
“Kalau dengar begitu, jangan pernah jawab, Nak.”

“Kenapa, Pak?” Jabab Bimo

“Itu bukan orang.” Jawabnya

Dan Bimo akhirnya terdiam.

Pak Wiryo melanjutkan dengan suara pelan,
“Orang sini menyebutnya Biyung Tulung.”

Nama itu membuat tengkuk Bimo merinding.

Dalam catatan penelitiannya, Biyung Tulung adalah sosok hantu dalam legenda urban Jawa, khususnya di Yogyakarta. Ia dikenal bukan karena wujudnya, melainkan suaranya. Konon, ia hanya berupa jeritan seorang ibu yang memanggil, “Tulung! Tulung!”—artinya “Tolong!”

Asal-usulnya simpang siur. Versi paling populer menyebut ia arwah seorang ibu yang dibunuh bersama anaknya secara tragis. Arwahnya bergentayangan di lokasi kejadian, memohon pertolongan yang tak pernah datang.

Bimo belum sepenuhnya percaya.

Untuk melengkapi risetnya, ia pergi ke lokasi kedua: Hutan Pinus Krokodil. Tempat itu dikenal berkabut saat malam dan jarang dilewati orang.

Ia datang bersama Raka kali ini. “Kalau dengar apa-apa, kita langsung cabut,” kata Raka.

Kabut turun perlahan. Pohon-pohon pinus berdiri tinggi, seperti bayangan raksasa.

Mereka berjalan sekitar lima puluh meter dari parkiran ketika suara itu terdengar lagi.

Baca juga :  Nenek Gaib Penjual Kol di Gunung Guntur Garut

“Tulung… Tulung…”

Suara itu lebih mendekat dan jelas.

Raka langsung meraih lengan Bimo. “Mo… itu…” Bimo gemetar, tapi kali ini ia tidak menjawab.

“Tulung… anakku…” Suara itu berubah menjadi ratapan panjang.

Tiba-tiba Raka terjatuh. Tubuhnya kaku. “Raka!” teriak Bimo panik.

Mata Raka terpejam, bibirnya bergerak pelan.

“Tulung… aku di sini… gelap…” Suara itu bukan suara Raka. Lebih berat. Lebih tua.

Bimo teringat cerita warga: Biyung Tulung konon bisa merasuki orang yang lemah atau ketakutan.

“Raka! Sadar!” Bimo mengguncangnya.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Raka tersentak dan terbatuk keras.

“Apa yang terjadi?” tanya Raka lemas. “Kita pulang. Sekarang.” Jawab Bimo.

Malam itu, Bimo tidak bisa tidur. Rekaman suara dari alatnya diputar berulang-ulang.

Pada menit ke-12, terdengar jelas:

“Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…”

Lalu suara kedua, sangat pelan, hampir seperti bisikan di telinga:

Kowe wis mangsuli aku…!!” (Kamu sudah menjawabku…) Darah Bimo terasa membeku seketika. Ia tidak pernah mendengar kalimat itu secara langsung di lokasi.

Keesokan harinya, ia kembali menemui Pak Wiryo. “Pak… kalau sudah terlanjur menjawab, apa yang terjadi?” Pak Wiryo menghela napas panjang.
“Katanya, dia akan mengikuti.” Jawab Pak Wiryo

“Mengikuti?” Tanya Bimo.

“Iya..Sampai dapat pengganti rasa sakitnya.” Jawab Pak Wiryo.

Sejak malam di hutan pinus itu, Bimo mulai sering mendengar suara lirih saat sendirian di kosnya.

Kadang terdengar dari kamar mandi. Kadang dari bawah ranjang.

Suatu malam, ketika ia hampir terlelap, terdengar bisikan sangat dekat di telinganya:

“Anakku… di mana anakku…” Bimo membuka mata di sudut kamar, tak ada siapa pun.

Namun suara itu kini tidak lagi jauh di jalanan atau hutan. Suara itu ada di dalam ruang yang sama dengannya.

Baca juga :  Teror Kuntilanak Berwujud Noni Belanda: Misteri Gedung Terkunci di Sekolah Tua Jawa Timur

Skripsi Bimo akhirnya selesai, tapi bab terakhirnya berubah drastis. Ia tak lagi menulis dengan nada skeptis. Ia menuliskan satu kalimat penutup:

“Beberapa legenda tidak membutuhkan wujud untuk menjadi nyata.”

Hingga kini, Bimo tak pernah lagi melewati Jalan Kaliurang sendirian di malam hari.

Karena setiap kali angin berembus pelan dan suasana menjadi terlalu sunyi, ia selalu merasa suara itu menunggu satu jawaban lagi.

“Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…Tulung…”

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments