Energi Juang News, Yogyakarta-Angin gunung dingin berembus di antara pepohonan ketika seorang pendaki nekat melintasi jalan desa menjelang tengah malam. Dari kejauhan, ia melihat bayangan hitam besar menyerupai hewan raksasa yang sedang berbaring. Saat didekati, bayangan itu ternyata sebuah batu besar. Namun anehnya, sesaat kemudian terdengar suara langkah berat seperti kaki gajah berjalan di tanah basah.
“Itu suara apa?” tanya pendaki itu kepada seorang warga yang sedang berjaga di gardu.
Wajah lelaki tua itu langsung berubah pucat. “Kalau dengar suara itu, jangan menoleh ke belakang. Pulang saja sebelum terlambat,” jawabnya pelan.
Warga Kaliadem meyakini batu besar tersebut adalah Batu Gajah, peninggalan peristiwa gaib pada masa lampau. Konon, dahulu datang pasukan dari negeri jauh yang hendak menguasai lereng Merapi. Mereka menunggangi gajah dan membawa niat buruk untuk mengusir penduduk asli dari tanah mereka.
Menurut cerita turun-temurun, para leluhur desa melawan bukan dengan pedang, melainkan dengan mantra-mantra sakti. Saat pertempuran gaib terjadi, langit menjadi gelap dan tanah bergetar. Pasukan asing dikalahkan, namun seekor gajah berhasil melarikan diri menuju lereng gunung. Beberapa hari kemudian, hewan itu ditemukan telah berubah menjadi batu.
“Orang tua saya pernah bilang, saat malam tertentu batu itu bisa mengeluarkan suara napas,” ujar Pak Wiryo, salah satu sesepuh desa. “Karena itu tak seorang pun berani memindahkannya.”
Tak jauh dari Batu Gajah berdiri pohon yang dikenal sebagai Beringin Putih. Meski daunnya tetap hijau seperti pohon lain, nama putih diberikan sebagai simbol kesucian dan keteguhan. Anehnya, pohon tersebut mampu bertahan dari terjangan lahar dan erupsi Merapi yang berkali-kali menghancurkan wilayah sekitarnya.
Suatu malam, Mas Jiwo seorang penebang liar dari luar daerah mencoba mengambil sebagian cabang pohon itu. Warga sudah memperingatkannya. “Jangan dilakukan, Nak. Pohon itu bukan pohon biasa,” kata seorang ibu tua. Namun Mas Jiwo mengabaikan larangan itu dan tetap mengayunkan kapaknya.
Menurut kisah yang masih diceritakan hingga sekarang, sebelum kapak Mas Jiwo itu mengenai batang pohon, terdengar suara jeritan dari arah hutan. Spontan Mas Jiwo menghentikan mengayunkan kapaknya. Tangannya bergetar hebat diiringi keringat dingin tiba tiba membasahi tubuhnya, hingga kapak ditangannya terlepas. Tubuhnya langsung lemas terkulai diantara semak semak.
Kabut tebal tiba-tiba turun menutupi pandangan. Keesokan harinya, Mas Jiwo ditemukan linglung di tepi sungai tanpa mengingat apa pun yang terjadi sepanjang malam. Setelah siuman, menurut pengakuannya ia melihat sosok tinggi besar berbulu dengan mata merah menyala seperti bentuk pokok pohon itu. Tangan sosok seolah sedang melindungi pohon itu dari tebasan kapaknya, Mas Jiwo pun tiba tiba ambruk lemas.
Peristiwa-peristiwa semacam itu membuat warga semakin menjaga Batu Gajah dan sosok yang mendiami beringin putih itu sebagai penjaga tempat angker itu. Mereka percaya kedua elemen tersebut bukan sekadar benda alam, melainkan penjaga keseimbangan antara manusia dan Merapi. Bahkan saat lahar besar turun, batu dan pohon itu diyakini membantu menghambat arus material vulkanik serta mencegah erosi.
Hingga kini, ketika malam menyelimuti Kaliadem dan kabut turun dari puncak Merapi, warga masih memegang teguh pesan leluhur. Jangan memindahkan Batu Gajah. Jangan menebang Beringin Putih. Sebab menurut mereka, siapa pun yang berani melanggar bukan hanya menantang alam, tetapi juga membangunkan kekuatan gaib yang telah tertidur selama berabad-abad di lereng gunung paling mistis di Pulau Jawa.
Redaksi Energi Juang News



